<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4788195323343721298</id><updated>2012-02-27T15:49:37.189+07:00</updated><category term='Norwegia'/><category term='Bukhari dan Muslim'/><category term='Islam'/><category term='Alaihi Wasallam'/><category term='Muslim'/><category term='Rasulullah'/><category term='orang Islam di Norwegia'/><category term='Muslim di Norwegia'/><category term='Ramadhan'/><category term='malam'/><category term='salaf'/><category term='Shallallahu'/><title type='text'>ZONA ISLAMI</title><subtitle type='html'>Mari Pertebal iman,kuatkan tauhid,perkaya pengetahuan tentang Islam,hidupkan cahaya islam,kekuatan,kedamaian dan kelembutan islam dalam setiap Hati,BACALAH DAN PIKIRKAN setiap kebenaran yang anda baca anda lihat anda dengar dalam blog ini .
ZONA ISLAMI adalah situs kepanjangan dan penerus warta dari situs-situs islami yang insya allah akan memberikan banyak pelajaran dan pengetahuan anda tentang Islam.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://zonaislami.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>RUSLI HANDREAS</name><uri>https://profiles.google.com/115119439115727042883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-lp3AWZIT08g/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAWk/wPJaC5ozMcM/s512-c/photo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>98</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4788195323343721298.post-5073600347281111234</id><published>2012-02-27T15:49:00.001+07:00</published><updated>2012-02-27T15:49:37.267+07:00</updated><title type='text'>PAHAM-PAHAM YANG HARUS DILURUSKAN</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="color: #333333; font-family: 'Trebuchet MS'; font-size: 12px; text-align: justify;"&gt;&lt;strong style="background-color: white;"&gt;&amp;nbsp;Imam Ahlussunnah Wal Jamaah Abad 21&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;strong style="background-color: white; text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="color: #333333; font-family: 'Trebuchet MS'; font-size: 12px; text-align: justify;"&gt;&lt;strong style="background-color: white; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;u&gt;Prof. DR. Sayyid Muhammad Alwi Almaliki Alhasani&amp;nbsp; Makkah&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Banyak orang keliru dalam memahami substansi faktor-faktor yang membuat seseorang keluar dari Islam dan divonis kafir. Anda akan menyaksikan mereka segera memvonis kafir seseorang hanya karena ia memiliki pandangan berbeda. Vonis yang tergesa-gesa ini bisa membuat jumlah penduduk muslim di dunia tinggal sedikit. Kami, karena husnuddzon, berusaha memaklumi tindakan tersebut serta berfikir barangkali niat mereka baik. Dorongan kewajiban mempraktekkan amar ma’ruf nahi munkar mungkin mendasari tindakan mereka. Sayangnya, mereka lupa bahwa kewajiban mempraktekkan amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan dengan cara-cara yang bijak dan tutur kata yang baik ( bil hikmah wal mau’idzoh al – hasanah ). Jika kondisi memaksa untuk melakukan perdebatan maka hal ini harus dilakukan dengan metode yang paling baik sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Nahl : 125, yang artinya: &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Serulah ( manusia ) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Praktek amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang baik ini perlu dikembangkan karena lebih efektif untuk menggapai hasil yang diharapkan. Menggunakan cara yang negatif dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah tindakan yang salah dan tolol.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Jika Anda mengajak seorang muslim yang sudah taat mengerjakan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;sholat, melaksakan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah, menjauhi hal-hal yang diharamkan-Nya, menyebarkan dakwah, mendirikan masjid, dan menegakkan syi’ar-syi’ar-Nya untuk melakukan sesuatu yang Anda nilai benar sedangkan dia memiliki penilaian berbeda dan para ulama sendiri sejak dulu berbeda pendapat dalam persoalan tersebut kemudian dia tidak mengikuti ajakanmu lalu kamu menilainya kafir hanya karena berbeda pandangan denganmu maka sungguh kamu telah melakukan kesalahan besar yang Allah melarang kamu untuk melakukannya dan menyuruhmu untuk menggunakan cara yang bijak dan tutur kata yang baik.&amp;nbsp;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Al-Allamah Al-Imam Al-Sayyid Ahmad Masyhur Al-Haddad mengatakan, “ Telah ada konsensus ulama untuk melarang memvonis kufur ahlul qiblat ( ummat Islam ) kecuali akibat dari tindakan yang mengandung unsur meniadakan eksistensi Allah, kemusyrikan yang nyata yang tidak mungkin ditafsirkan lain, mengingkari kenabian, prinsip-prinsip ajaran agama Islam yang harus diketahui ummat Islam tanpa pandang bulu (Ma ‘ulima minaddin bidldloruroh), mengingkari ajaran yang dikategorikan mutawatir atau yang telah mendapat konsensus ulama dan wajib diketahui semua ummat Islam tanpa pandang bulu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Ajaran-ajaran yang dikategorikan wajib diketahui semua ummat Islam (Ma‘lumun minaddin bidldloruroh) seperti masalah keesaan Allah, kenabian, diakhirinya kerasulan dengan Nabi Muhammad SAW, kebangkitan di hari akhir, hisab ( perhitungan amal ), balasan, sorga dan neraka bisa mengakibatkan kekafiran orang yang mengingkarinya dan tidak ada toleransi bagi siapapun ummat Islam yang tidak mengetahuinya kecuali orang yang baru masuk Islam maka ia diberi toleransi sampai mempelajarinya kemudian sesudahnya tidak ada toleransi lagi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan sekelompok perawi yang mustahil melakukan kebohongan kolektif dan diperoleh dari sekelompok perawi yang sama. Kemutawatir bisa dipandang dari :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;1. Aspek isnad seperti hadits :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;من كذب عليّ معتمدا فليتبوا مقعده من النار&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;\" Barangsiapa berbohong atas namaku maka carilah tempatnya di neraka.\"&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;2. Aspek tingkatan kelompok perawi seperti kemutawatiran Al-Qur’an yang kemutawatirannya terjadi di muka bumi ini dari wilayah barat dan timur dari aspek kajian, pembacaan, dan penghafalan serta ditransfer dari kelompok perawi satu kepada kelompok lain dari berbagai tingkatannya sehingga ia tidak membutuhkan isnad.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Kemutawatiran ada juga yang dikategorikan mutawatir dari aspek praktikal dan turun-temurun ( tawuturu ‘amalin wa tawarutsin ) seperti praktik atas sesuatu hal sejak zaman Nabi sampai sekarang, atau mutawatir dari aspek informasi ( Tawaturu ‘ilmin ) seperti kemutawatiran mu’jizat-mu’jizat. Karena mu’jizat-mu’jizat itu meskipun satu persatunya malah sebagian ada yang dikategorikan hadits ahad namun benang merah dari semua mu’jizat tersebut mutlak mutawatir dalam pengetahuan setiap muslim.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Memvonis kufur seorang muslim di luar konteks di muka adalah tindakan fatal. Dalam sebuah hadits disebutkan :&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;إذا قال الرجل لأخيه يا كافر فقد باء بها أحدهما.( رواه البخاري عن أبي هريرة رضي الله عنه )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;\" Jika seorang laki-laki berkata kepada saudara muslimnya \"Hai kafir !\" maka vonis kufur telah jatuh pada salah satu dari keduanya.\" ( H.R.Bukhari dr Abu Hurairah R.A )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Vonis kufur tidak boleh dijatuhkan kecuali oleh orang yang mengetahui seluk-beluk keluar masuknya seseorang dalam lingkaran kufur dan batasan-batasan yang memisahkan antara kufur dan iman dalam hukum syari’at Islam.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Tidak diperkenankan bagi siapapun memasuki wilayah ini dan menjatuhkan vonis kufur berdasarkan prasangka dan dugaan tanpa kehati-hatian, kepastian dan informasi akurat. Jika vonis kufur dilakukan dengan sembarangan maka akan kacau dan mengakibatkan penduduk muslim yang berada di dunia ini hanya tinggal segelintir.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Demikian pula, tidak diperbolehkan menjatuhkan vonis kufur terhadap tindakan-tindakan maksiat sepanjang keimanan dan pengakuan terhadap syahadatain tetap terpelihara. Dalam sebuah hadits dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; ثلاث من أصل الإيمان : الكف عمن قال : لا إله إلا الله لا نكفره بذنب ولا نخرجه عن الإسلام بالعمل , والجهاد ماض منذ بعثني الله إلى أن يقاتل آخر أمتي الدجال لا يبطله جور جائر&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;ولا عدل عادل والأقدار.( أخرجه أبو داود )&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;“Tiga hal merupakan pokok iman ; menahan diri dari orang yang menyatakan Tiada Tuhan kecuali Allah. Tidak memvonis kafir akibat dosa dan tidak mengeluarkannya dari agama Islam akibat perbuatan dosa ; Jihad berlangsung terus semenjak Allah mengutusku sampai akhir ummatku memerangi Dajjal. Jihad tidak bisa dihapus oleh kelaliman orang yang lalim dan keadilan orang yang adil ; dan meyakini kebenaran takdir”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Imam Al-Haramain pernah berkata, “ Jika ditanyakan kepadaku : Tolong jelaskan dengan detail ungkapan-ungkapan yang menyebabkan kufur dan tidak”. Maka saya akan menjawab,” Pertanyaan ini adalah harapan yang bukan pada tempatnya. Karena penjelasan secara detail persoalan ini membutuhkan argumentasi mendalam dan proses rumit yang digali dari dasar-dasar ilmu Tauhid. Siapapun yang tidak dikarunia puncak-puncak hakikat maka ia akan gagal meraih bukti-bukti kuat menyangkut dalil-dalil pengkafiran”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Berangkat dari paparan di muka kami ingatkan untuk menjauhi pengkafiran secara membabi buta di luar point-point yang telah dijelaskan di atas. Karena tindakan pengkafiran bisa berakibat sangat fatal.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Hanya Allah yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus dan hanya kepada-Nya lah tempat kembali.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;strong style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;SIKAP SYAIKH MUHAMMAD IBN ‘ABDUL WAHHAB&lt;br /&gt;MENYANGKUT TAKFIR &amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Syaikh Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab Rahimakumullah memiliki sikap mulia dalam hal pentakfiran. Sebuah sikap yang dipandang aneh oleh mereka yang mengklaim sebagai pendukungnya kemudian memvonis kafir secara serampangan terhadap siapapun yang berbeda jalan dan menolak pemikiran mereka. Padahal Syaikh Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab sendiri menolak semua pandangan-pandangan tak berharga yang dialamatkan kepadanya. Dalam sebuah risalah yang dikirimkannya kepada penduduk Qashim pada bahasan tentang aqidah ia menulis sebagai berikut :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Telah jelas bagi kalian bahwa telah sampai kepadaku berita mengenai risalah Sulaiman ibn Suhaim yang telah sampai kepada kalian dan bahwa sebagian ulama didaerah kalian menerima dan membenarkan isi risalah tersebut. Allah mengetahui bahwa Sulaiman ibn Suhaim mengada-ada atas nama saya ucapan-ucapan yang tidak pernah aku katakan dan kebanyakan tidak terlintas sama sekali di hatiku.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Diantaranya :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;ucapan Sulaiman bahwa saya menganggap sesat semua kitab madzhab empat&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Bahwa manusia semenjak 600 tahun yang silam tidak menganut agama yang benar.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Saya mengklaim mampu berijtihad dan lepas dari taqlid.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Perbedaan para ulama adalah malapetaka dan saya mengkafirkan orang yang melakukan tawassul dengan orang-orang shalih, dan saya mengkafirkan Imam Al-Bushoiri karena ucapannya: Wahai Makhluk paling mulia.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Seandainya saya mampu meruntuhkan kubah Rasulullah SAW maka saya akan melakukannya dan jika mampu mengambil talang Ka’bah yang terbuat dari emas maka saya akan menggantinya dengan talang kayu. Saya mengharamkan ziarah ke makam Nabi SAW, mengingkari ziarah ke makam kedua orang tua dan makam orang lain, saya mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain Allah, mengkafirkan Ibnu Faridl dan Ibnu ‘Araby, dan bahwasanya saya membakar kitab Dalailul Khairaat dan Raudlul Rayaahin yang kemudian saya namakan Raudlul Syayaathiin.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Jawaban saya atas tuduhan telah mengucapkan perkataan-perkataan di atas adalah firman allah yang, Artinya :&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;\"Maha suci Engkau ( ya Tuhan kami ), ini adalah Dusta yang besar.\" ( Q.S.An.Nuur : 16 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Sebelum apa yang saya alami terjadi, peristiwa mirip pernah dialami Nabi SAW. Beliau dituduh telah memaki Isa ibn Maryam dan orang-orang shalih. Hati mereka yang melakukan perbuatan terkutuk ini sama persis sebab menciptakan kebohongan dan ucapan palsu. Allah berfirman :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;إنَّمَا يَفْتَرِى الْكَذِبَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِآيَاتِ الله&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;\"Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah.\" ( Q.S.An.Nahl : 105 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Kafir Qurays melontarkan tuduhan palsu bahwa Nabi SAW mengatakan bahwa Malaikat, Isa dan ‘Uzair berada di neraka. Lalu Allah menurunkan firman-Nya :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;إن الذين سبقت لهم منا الحسنى أولئك عنها مبعدون&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;\"Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Mereka itu dijauhkan dari neraka.\"( Q.S.Al.Anbiyaa\` : 101 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;strong style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;RISALAH PENTING LAIN&lt;br /&gt;KARYA SYAIKH MUHAMMAD IBN ABDUL WAHHAB&lt;br /&gt;&amp;nbsp;DALAM MASALAH PENTAKFIRAN&lt;/strong&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Risalah ini dikirimkan kepada Al-Suwaidi, seorang ulama Iraq. Sebelumnya Al-Suwaidi mengirimkan buku dan menanyakan mengenai apa yang diperbincangkan masyarakat. Kemudian Syaikh menjawab dalam risalahnya :&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Tersebarnya kebohongan adalah hal yang membuat orang yang berakal merasa malu untuk menceritakannya apalagi untuk membuat-buat hal-hal yang tidak ada faktanya. Sebagian dari apa yang kalian katakan adalah bahwasanya saya mengkafirkan semua orang kecuali mereka yang mengikutiku. Sungguh aneh, bagaimana mungkin kebohongan ini masuk ke akal orang yang berakal ? Dan bagaimana mungkin seorang muslim akan melontarkan ucapan demikian ?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dan apa yang kalian katakan : Seandainya saya mampu meruntuhkan kubah Nabi SAW niscaya saya akan merealisasikannya, membakar dalailul khairaat jika mampu dan melarang bersholawat kepada Nabi dengan ungkapan sholawat apapun. Perkataan-perkataan ini dikategorikan kebohongan. Dalam hati seorang muslim tidak terbesit dalam hatinya sesuatu yang lebih agung melebihi Al-Qur’an.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Pada halaman 64 dari kitab yang sama Syaikh berkata : Apa yang kalian katakan bahwa saya telah mengkafirkan orang yang melakukan tawassul dengan orang-orang shalih, mengkafirkan Bushoiri karena ungkapannya : Wahai makhluk paling mulia, mengingkari diperkenankannya ziarah kubur Nabi SAW, kuburan kedua orang tua dan kuburan-kuburan orang lain serta mengkafirkan orang yang bersumpah menggunakan nama selain Allah, maka jawaban saya atas semua tuduhan ini adalah Firman Allah yang Artinya :&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;\"Maha suci Engkau ( ya Tuhan kami ), ini adalah Dusta yang besar.\"( Q.S.An.Nuur : 16 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;strong style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;MEMAKI ORANG ISLAM ADALAH TINDAKAN FASIQ&lt;br /&gt;DAN MEMERANGINYA ADALAH TINDAKAN KUFUR&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Ketahuilah bahwa membenci, memboikot dan berseberangan dengan kaum muslimin adalah haram, memaki orang Islam adalah tindakan fasiq dan memeranginya adalah tindakan kufur jika menilai tindakan tersebut adalah halal.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Kisah mengenai Khalid ibn Walid bersama pasukannya ketika menuju Bani Jadzimah untuk mengajak mereka masuk Islam cukup digunakan untuk menolak pemahaman harfiah ( literal ) dari judul di atas. Saat Khalid tiba di tempat mereka, mereka menyambutnya. Lalu Khalid mengeluarkan instruksi, “Peluklah agama Islam!”. “ Kami adalah kaum muslimin,” Jawab mereka. “ Letakkan senjata kalian dan turunlah.” Lanjut Khalid. “Tidak, demi Allah. Karena setelah senjata diletakkan pasti ada pembunuhan. Kami tidak bisa mempercayai kamu dan orang-orang yang bersama kamu.” Jawab mereka kembali. “Tidak ada perlindungan buat kalian kecuali jika kalian mau turun,” Kata Khalid. Akhirnya sebagian kaum menuruti perintah Khalid dan sisanya tercerai berai.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dalam riwayat lain redaksinya sebagai berikut : Ketika Khalid tiba bertemu mereka, mereka menyambutnya. Lalu Khalid bertanya, “Siapakah kalian? Apakah kaum muslimin atau kaum kafir?”. “Kami adalah kaum muslimin yang menjalankan sholat, membenarkan Muhammad, membangun masjid di tanah lapang kami dan mengumandangkan adzan di dalamnya.” Jawab mereka. Dalam lafadz hadits, mereka tidak bisa mengucapkan Aslamnaa , akhirnya mereka mengatakan Shoba’naa Shoba’naa. “ Buat apa senjata yang kalian bawa?, tanya Khalid. “Ada permusuhan antara kami dan sebuah kaum Arab. Oleh karena itu kami khawatir kalian adalah mereka hingga kami pun membawa senjata.” Jawab mereka. “ Letakkan senjata kalian!” Perintah Khalid. Mereka pun mengikuti perintah Khalid untuk meletakkan senjata. “Menyerahlah kalian semua sebagai tawanan!” Lanjut Khalid. Kemudian Khalid menyuruh sebagian dari kaum untuk mengikat sebagian yang lain dan membagikan mereka kepada pasukannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Ketika tiba waktu pagi, juru bicara Khalid berteriak : “Siapapun yang memiliki tawanan bunuhlah ia!”. Maka Banu Sulaim membunuh tawanan mereka. Namun kaum Muhajirin dan Anshor menolak perintah ini. Mereka malah melepaskan para tawanan. Ketika tindakan Khalid ini sampai kepada Nabi SAW, beliau berkata, “ Ya Allah, saya tidak bertanggung jawab atas tindakan Khalid.” Beliau mengulang ucapan ini dua kali.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Ada pendapat yang menyatakan bahwa Khalid mengira mereka mengatakan Shoba’naa Shoba’naa dengan angkuh dan menolak tunduk kepada Islam. Hanya saja yang disesalkan Rasulullah adalah ketergesa-gesaan dan ketidak hati-hatiannya dalam menangani kasus ini sebelum mengetahui terlebih dulu apa yang dimaksud dengan Shoba’naa Shoba’naa. Nabi SAW sendiri pernah mengatakan :&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;نعم عبد الله أخو العشيرة خالد بن الوليد من سيوف الله سله الله على الكافرين والمنافقين&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;“ Sebaik-baik hamba Allah adalah saudara kabilah Qurays ; Khalid ibn Walid, salah satu pedang Allah yang terhunus untuk menghancurkan orang-orang kafir dan munafik”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Persis seperti apa yang dialami Khalid adalah peristiwa yang menimpa Usamah ibn Zaid kekasih dan putra kekasih Rasulullah SAW berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Abi Dzibyan. Abi Dzibyan berkata, “Saya mendengar Usamah ibn Zaid berkata, “Rasulullah SAW mengirim kami ke desa Al-Huraqah. Kemudian kami menyerang mereka di waktu pagi dan berhasil mengalahkan mereka. Saya dan seorang laki-laki Anshar mengejar seorang laki-laki Bani Dzibyan.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Ketika kami berdua telah mengepungnya tiba-tiba ia berkata, “La Ilaaha illallah”. Ucapan laki-laki ini membuat temanku orang Anshor mengurungkan niat untuk membunuhnya namun saya menikamnya dan diapun mati. Ketika kami tiba kembali di Madinah, Nabi SAW telah mendengar informasi tentang tindakan pembunuhan yang saya lakukan. Beliau pun berkata, “ Wahai Usamah! Mengapa engkau membunuhnya setelah dia mengatakan La Ilaaha illallah?” “Dia hanya berpura-pura,” Jawabku. Nabi mengucapkan pertanyaannya berulang-ulang sampai-sampai saya berharap baru masuk Islam pada hari tersebut.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW berkata kepada Usamah, “Mengapa tidak engkau robek saja hatinya agar kamu tahu apakah dia sungguh-sungguh atau berpura-pura?”. “Saya tidak akan pernah lagi membunuh siapapun yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah”. Kata Usamah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Sayyidina Ali RA pernah ditanya mengenai kelompok-kelompok yang menentangnya, “Apakah mereka kafir ?”. “Tidak,” jawab Ali, “Mereka adalah orang-orang yang menjauhi kekufuran”. “Apakah mereka kaum munafik ?”. “Bukan, orang-orang munafik hanya sekelebat mengingat Allah sedang mereka banyak mengingat Allah”. “Terus siapakah mereka ?” Ali kembali ditanya. “Mereka adalah kaum yang terkena fitnah yang mengakibatkan mereka buta dan tuli”, jawab Ali.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;strong style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;STATUS KHALIQ DAN STATUS MAKHLUQ&lt;/strong&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Perbedaan antara status Khaliq dan makhluq adalah garis pemisah antara kufur dan iman. Kami meyakini bahwa orang mencampur-adukkan kedua status ini berarti dia telah kafir. Wal ‘Iyadz billah.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Masing-masing dari kedua status di atas memiliki hak-hak spesifik. Namun, dalam masalah ini masih ada hal-hal, khususnya yang berkaitan dengan Nabi dan sifat-sifat eksklusif beliau yang membedakan dengan manusia biasa dan membuat beliau lebih tinggi dari mereka. Hal-hal seperti ini kadang tidak dimengerti oleh sebagian orang yang memiliki keterbatasan akal, pemikiran, pandangan dan pemahaman. Kelompok ini mudah terburu-buru memvonis kafir terhadap mereka yang mengapresiasi hal-hal tersebut dan mengeluarkan mereka dari agama Islam karena menurut kelompok ini menetapkan sifat-sifat khusus untuk Nabi SAW adalah mencampuradukkan antara status Khaliq dan makhluq serta mengangkat status Nabi dalam status ketuhanan. Kami sungguh memohon ampun kepada Allah dari tindakan mencampur-adukkan seperti ini.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Berkat karunia Allah kami mengetahui apa yang wajib bagi Allah dan Rasul serta mengetahui apa yang murni hak Allah dan yang murni hak rasul secara proporsional tidak melampaui batas sampai memberi beliau sifat-sifat khusus ketuhanan yaitu menolak dan memberi, memberi manfaat dan bahaya secara independen ( di luar kehendak Allah ), kekuasaan yang sempurna dan komprehensif, menciptakan, memiliki, mengatur, satu-satunya yang memiliki kesempurnaan, keagungan dan kesucian dan satu-satunya yang berhak untuk dijadikan obyek beribadah dengan beragam bentuk, cara dan tingkatannya.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Seandainya yang dianggap melampaui batas adalah berlebihan dalam mencintai, taat dan keterikatan dengan beliau maka hal ini adalah sikap yang terpuji dan dianjurkan sebagaimana dalam sebuah hadits :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;“Janganlah kalian mengkultuskanku sebagaimana kaum Nashrani mengkultuskan Isa ibn Maryam”.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Maksud dari hadits tersebut berarti bahwa sanjungan, berlebih-lebihan dan memuji beliau di bawah batas di atas adalah tindakan terpuji. Seandainya maksud hadits tidak seperti ini berarti yang dimaksud adalah larangan untuk memberikan sanjungan dan memuji secara mutlak. Pandangan ini jelas tidak akan diucapkan oleh orang Islam paling bodoh sekalipun. Wajib bagi kita memuliakan orang yang dimuliakan Allah dan diperintahkan untuk memuliakannya. Betul, memang kita wajib untuk tidak mensifati Nabi SAW dengan sifat-sifat ketuhanan apapun. Imam Al-Bushoiri RA berkata :&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;دع ما ادعته النصارى في نبيهم واحكم بما شئت مدحا فيه واحتكم&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Jauhilah klaim Nashrani akan Nabi mereka&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Berilah beliau pujian sesukamu dengan bahasa yang baik&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Memuliakan Nabi SAW tidak dengan sifat-sifat ketuhanan sama sekali bukan dikategorikan kufur atau kemusyrikan. Malah diklasifikasikan sebagai salah satu ketaatan dan ibadah yang besar. Demikian pula setiap orang yang dimuliakan Allah seperti para Nabi, rasul, malaikat, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Allah berfirman yang Artinya :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; Demikianlah ( perintah Allah ). dan Barangsiapa mengagungkan syi\`ar-syi\`ar Allah[990], Maka Sesungguhnya itu timbul dari Ketakwaan hati.( Q.S. Al.Hajj : 32 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; Demikianlah ( perintah Allah ). dan Barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;di sisi Allah Maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya.(Q.S.Al.Hajj : 30 ) &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Diantara obyek yang wajib dimuliakan adalah Ka’bah, Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim. Ketiga benda ini adalah batu namun Allah memerintahkan kita untuk memuliakannya dengan thawaf pada Ka’bah, mengusap Rukun Yamani, mencium Hajar Aswad, sholat di belakang maqam Ibrahim, dan wukuf untuk berdoa di dekat Mustajar, pintu Ka’bah dan Multazam. Tindakan kita terhadap benda-benda di muka bukan berarti beribadah kepada selain Allah dan meyakini pengaruh, manfaat, dan bahaya berasal dari selain-Nya. Semua hal ini tidak akan terjadi dari siapapun kecuali Allah SWT.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;strong style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;STATUS MAKHLUQ&lt;/strong&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Kami meyakini bahwa Rasulullah SAW adalah manusia yang bisa mengalami apa yang dialami manusia umumnya seperti sifat-sifat yang temporal dan penyakit-penyakit yang tidak mengurangi kedudukan beliau dan tidak membuat beliau dijauhi. Sebagaimana dikatakan oleh penyusun ‘Aqidatul ‘Awam :&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;و جائز في حقهم من عرض بغير نقص كخفيف المرض&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Para rasul boleh mengalami sifat-sifat yang temporer yang tidak mengurangi kedudukan mereka seperti sakit ringan Rasulullah juga adalah seorang hamba yang tidak memiliki kemampuan memberi manfaat, bahaya, mati, hidup membangkitkan kepada dirinya sendiri kecuali apa yang telah dikehendaki Allah. Firman Allah yang Artinya :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Katakanlah: \"Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak ( pula ) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. dan Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman\".( Q.S.Al.A\`raaf :188 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Beliau juga telah mengemban risalah, menyampaikan amanah, menyadarkan ummat, membuang kesedihan dan berjihad fi sabilillah sampai ajal menjemputnya. Beliau berpulang ke sisi Allah dalam kondisi ridlo dan mendapat keridloan, seperti digambarkan dalam firman Allah yang Artinya :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya mereka akan mati ( pula ).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;( Q.S.Az.Zumar : 30 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu ( Muhammad ); Maka Jikalau kamu mati, Apakah mereka akan kekal ? ( Q.S.Al.Anbiyaa\` : 34 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Kehambaan adalah sifat beliau yang paling mulia. Karena itu beliau membanggakannya dan berkata : “Saya hanyalah seorang hamba”. Allah menyifati beliau dengan kehambaan dalam kedudukan tertinggi :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda ( kebesaran ) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. ( Q.S.Al.Israa : 1 ) &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;\"Dan bahwasanya tatkala hamba Allah ( Muhammad ) berdiri menyembah-Nya ( mengerjakan ibadat ), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.\"&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;( Q.S.Al.Jin : 19 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Kemanusiaan adalah letak sesungguhnya kemu’jizatan Rasulullah. Beliau adalah manusia dari jenis manusia namun berbeda dengan manusia biasa. Beliau memiliki perbedaan yang tidak mungkin dikejar atau disamakan dengan manusia biasa. Sebagaimana penilaian beliau tentang dirinya :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;إنّي لست كهيئتكم إنّي أبيت عند ربي يطعمني و يسقيني&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;“Saya tidak sama dengan kalian. Sesungguhnya saya bermalam di sisi Allah diberi kekuatan sebagaimana orang yang makan dan minum”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Berdasarkan paparan di atas maka jelaslah bahwa status kemanusian beliau wajib disertai dengan sifat-sifat yang membedakannya dengan manusia umumnya yaitu menyebut keistimewaan-keistimewaan beliau yang eksklusif dan sifat-sifat beliau yang terpuji. Perlakuan ini bukan hanya diberikan khusus untuk Nabi Muhammad SAW namun juga berlaku untuk rasul-rasul yang lain agar penilaian kita kepada mereka proporsional. Karena penilaian kepada para rasul semata-mata dipandang dari sisi kemanusiaan saja tanpa penilaian lain adalah pandangan jahiliyah yang musyrik. Dalam Al-Qur’an terdapat banyak dalil mengenai masalah ini. Diantaranya adalah :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;- Ucapan kaum Nuh terhadap Nabi Nuh dalam kisah yang diceritakan Allah tentang mereka yang Artinya :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: \"Kami tidak melihat kamu, melainkan ( sebagai ) seorang manusia ( biasa ) seperti Kami, dan Kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara Kami yang lekas percaya saja, dan Kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas Kami, bahkan Kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta\".(Hud : 27).&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;- Ucapan kaum Nabi Musa dan Harun terhadap mereka berdua dalam kisah yang diceritakan Allah tentang mereka yang artinya :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dan mereka berkata: \"Apakah ( patut ) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), Padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?\" ( Al-Mu’minun : 47 ).&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;- Ucapan kaum Tsamud kepada Nabi mereka Shalih dalam peristiwa yang diceritakan Allah tentang mereka yang artinya, : ( Asy-Syu’araa’ : 154 ).&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami; Maka datangkanlah sesuatu mukjizat, jika kamu memang Termasuk orang-orang yang benar\".&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;- Ucapan Penduduk Aikah kepada Nabi mereka Syu’aib dalam kisah yang diceritakan Allah tentang mereka yang artinya : ( Asy-Syu’araa; : 186 ).&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;185. Mereka berkata: \"Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir,&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;186. Dan kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti Kami, dan Sesungguhnya Kami yakin bahwa kamu benar-benar Termasuk orang-orang yang berdusta.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;- Ucapan kaum musyrikin terhadap Nabi Muhammad SAW yang memandang beliau semata-mata sebagai manusia dalam kisah yang diceritakan Allah tentang mereka :&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dan mereka berkata: \"Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar ? mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang Malaikat agar Malaikat itu memberikan peringatan bersama- sama dengan dia? ( Q.S.Al.Furqaan : 7 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Nabi telah menginformasikan status dirinya dengan benar akan sifat-sifat luhur dan hal-hal yang melampauai kebiasaan yang membuatnya berbeda dengan manusia lain.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;- Sabda beliau dalam sebuah hadits shahih :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;تنام عيناي ولا ينام قلبي&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;“Kedua mataku terpejam namun hatiku tetap terjaga”.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;- إنّي أراكم من وراء ظهري كما أراكم من أمامي &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;“Saya mampu melihat kalian dari belakangku sebagaimana melihatmu dari depan”.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;- أوتيت مفاتيح خزائن الأرض &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;“Saya dianugerahi pintu-pintu gudang dunia”.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Meskipun telah wafat, Rasulullah tetap hidup dalam bentuk kehidupan barzakh yang sempurna. Beliau mampu mendengar perkataan, membalas salam dan shalawat orang yang bershalawat sampai kepada beliau. Amal perbuatan ummat disampaikan kepada beliau hingga beliau berbahagia atas perbuatan orang-orang yang baik dan beristighfar terhadap orang-orang yang melakukan dosa. Allah juga mengharamkan bumi untuk memakan jasadnya. Jasad Nabi terlindungi dari hal-hal yang bersifat merusak dan dari apapun yang berada dalam tanah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dari Aus ibn Aus R.A , ia berkata , “Rasulullah SAW bersabda :&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; من أفضل أيامكم يوم الجمعة : فيه خلق آدم , وفيه قبض , وفيه النفخة , وفيه الصعقة ,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;فأكثروا عليّ من الصلاة فيه , فان صلاتكم معروضة عليّ , قالوا : يارسول الله ! وكيف&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;تعرض صلاتنا عليك وقد أرمت يعني بليت ؟ فقال : إنّ الله عزّ وجلّ حرم على الأرض أن&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;تأكل أجساد الأنبياء .&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; “Salah satu hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at ; di hari itu Adam diciptakan dan wafat, Israfil meniup sangkakala dan matinya seluruh makhluk. Maka perbanyaklah bershalawat untukku pada hari Jum’at. Karena shalawat kalian disampaikan kepadaku”. Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami sampai kepadamu padahal tubuhmu telah hancur?” tanya para sahabat. “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” Jawab Rasulullah. ( HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibn Majah dan Ibn Hibban dalam kitab shahihnya serta Al-Hakim yang menilai hadits ini shahih ). &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Menyangkut keutuhan jasad para Nabi , Al-Hafidh Jalaluddin As-Suyuthi menyusun sebuah risalah khusus menyangkut hal tersebut yang berjudul ‘Inbaa’ul Adzkiyaa’ bi Hayaatil Anbiyaa’.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dari ibnu Mas’ud Rasulullah SAW bersabda :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; حياتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم , فإذا أنا مت كانت وفاتي خيرا لكم تعرض عليّ&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;أعمالكم فان رأيت خيرا حمدت لله وإن رأيت شرا استغفرت لكم&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;“ Hidupku lebih baik buat kalian. Kalian berbicara dan saya berbicara kepada kalian. Dan jika saya meninggal dunia maka kewafatanku lebih baik buat kalian. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku melihat amal baik aku memuji Allah dan jika aku melihat amal buruk aku beristighfar buat kalian”. Kata Al-Haitsami , “Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dan para perawinya sesuai dengan standar perawi hadits shahih.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dari Abi Hurairah RA dari Rasulullah SAW, beliau berkata :&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;ما من أحد يسلم عليّ إلاّ ردّ الله عليّ روحي حتّى أرد عليه السلام . ( رواه أحمد وأبو داود )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;“ Tidak ada seorangpun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah mengembalikan nyawaku hingga aku membalas salamnya”. HR. Ahmad dan Abu Dawud.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Sebagian ulama menafsirkannya dengan mengembalikan kemampuan berbicara beliau.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dari ‘Ammar ibn Yaasir, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda :&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; إنّ الله وكل بقبري ملكا أعطاه الله أسماء الخلائق , فلا يصلّي عليّ أحد إلى يوم القيامة&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;إلاّ أبلغني باسمه واسم أبيه , هذا فلان بن فلان قد صلى عليك .&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;“Sesungguhnya Allah SWT mewakilkan seorang malaikat yang diberi Allah nama semua makhluk pada kuburanku. Maka tidak ada seorang pun hingga hari kiamat yang menyampaikan shalawat untukku kecuali malaikat itu menyampaikan kepadaku namanya dan nama ayahnya ; ini adalah si fulan anak si fulan yang telah menyampaikan shalawat untukmu”. HR. Al-Bazzaar dan Abu al-Syaikh ibn Hibban yang redaksinya : Rasulullah SAW bersabda :&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; إنّ الله تبارك وتعالى ملكا أعطاه الله أسماء الخلائق فهو قائم على قبري إذا مت , فليس أحد&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;يصليّ عليّ إلاّ قال : يا محمد ! صلى عليك فلان بن فلان , قال : فيصليّ الرب تبارك وتعالى&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;على ذلك الرجل بكل واحدة عشرا .&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; “Sesungguhnya ada malaikat Allah yang telah diberi semua nama makhluk oleh Allah. Ia berdiri di atas kuburanku jika aku meninggal. Maka tidak ada seorang pun yang menyampaikan shalawat kepadaku kecuali si malaikat berkata, “Wahai Muhammad ! fulan anak fulan telah menyampaikan shalawat untukmu”. Rasulullah berkata, “Rabb Tabaraka wa Ta’ala merahmatinya. Untuk satu shalawat dibalas 10 rahmat”. Dalam Al-Kabiir Al-Thabaraani meriwayatkan hadits seperti ini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Meskipun Rasulullah SAW telah wafat namun keutamaan, kedudukan dan derajatnya di sisi Allah tetap abadi. Mereka yang beriman tidak akan ragu akan fakta ini. Karena itu, bertawassul kepada Nabi Muhammad SAW pada dasarnya kembali kepada keyakinan keberadaan hal-hal di muka dan meyakini beliau dicintai dan dimuliakan Allah serta keimanan kepada beliau dan kepada risalahnya. Dan tawassul bukanlah berarti beribadah kepada Nabi SAW. Karena beliau betapapun tinggi derajat dan kedudukannya tetaplah seorang makhluk yang tidak mampu menolak bahaya dan memberi manfaat tanpa izin Allah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Allah SWT berfirman yang Artinya, :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: \"Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa\". ( Q.S.Al.Kahfi : 110 )&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;ASPEK-ASPEK YANG SAMA ANTARA STATUS KHALIQ DAN MAKHLUQ TIDAK BERTENTANGAN DENGAN KESUCIAN ALLAH&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Banyak orang keliru dalam memahami sebagian aspek-aspek yang sama antara status Khaliq dan makhluq. Mereka menganggap bahwa menisbatkan aspek-aspek di atas kepada status makhluk adalah menyekutukan Allah.&amp;nbsp;Diantara aspek-aspek di atas adalah seperti sifat-sifat khusus kenabian yang salah dipahami oleh sebagaian orang dan menganalogikannya dengan analogi kemanusiaan. Karena itu mereka menilai terlalu berlebihan bila aspek-aspek tersebut disandarkan kepada Rasulullah. Mereka menilai bahwa menisbatkan aspek-aspek itu kepada Rasulullah berarti mensifati beliau dengan sebagian sifat-sifat ketuhanan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Pandangan ini adalah sebuah kebodohan murni. Karena Allah SWT bebas memberi siapa saja dan sesuai kehendak-Nya tanpa ada tekanan yang mengharuskan. Tapi semata-mata karunia-Nya kepada orang yang hendak Dia mulyakan, Dia tinggikan derajat dan hendak ditonjolkan kelebihannya atas orang lain. Hal ini bukan berarti melepas hak-hak dan sifat-sifat ketuhanan. Hak-hak sifat-sifat ketuhanan tetap terpelihara sesuai dengan kedudukan Allah SWT. Jika ada makhluk yang memiliki salah satu dari hak atau sifat ketuhanan maka harus disesuaikan dengan kondisi kemanusiaan, yaitu harus terbatasi dan diperoleh lewat izin, anugerah, dan kehendak Allah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Bukan karena kekuatan makhluk, rencana dan perintahnya. Karena manusia adalah makhluk lemah yang tidak mampu menimpakan bahaya, memberi manfaat, kematian , kehidupan dan kebangkitan dari kubur untuk dirinya sendiri. Banyak hal-hal yang dalil yang menunjukkanya sebagai hak Allah, namun Allah SWT memberikannya kepada Nabi SAW dan orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Berangkat dari penjelasan di atas, pensifatan Nabi SAW dengan hal-hal di atas tidak meninggikannya sampai ke derajat ketuhanan atau menjadikan beliau sebagai sekutu bagi Allah SWT.Di antara aspek-aspek di atas adalah : Syafaat; syafaat adalah milik Allah. Allah berfirman yang Artinya :&amp;nbsp;Katakanlah: \"Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya.\" ( Q.S.Az.Zumar : 44 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Namun syafaat juga dimiliki oleh Rasul SAW dan orang lain atas kehendak Allah seperti terdapat dalam sebuah hadits :&amp;nbsp;أنا أول شافع ومشفع\"Saya dikaruniai syafaat, dan Saya adalah orang pertama yang memberi syafaat dan diterima syafaatnya.\" Mengetahui hal-hal ghaib adalah milik Allah.Katakanlah: \"tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah\".( Q.S.An.Naml : 65 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Namun terdapat dalil yang menunjukkan Allah menginformasikan kepada Nabi hal-hal gaib :&amp;nbsp;26. ( dia adalah Tuhan ) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.27. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga ( malaikat ) di muka dan di belakangnya. Hidayah; hidayah khusus milik Allah. Allah berfirman yang Artinya :Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.( Q.S.Al.Qashash : 56 )&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Tapi terdapat ayat yang menjelaskan bahwa Nabi SAW juga bisa memberi hidayah. Allah berfirman :وإنك لتهدى إلى صراط مستقيم\"Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.\"( Q.S.Asy Syuura : 52 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Hidayah yang terdapat dalam ayat pertama berbeda dengan hidayah dalam ayat kedua. Perbedaan ini hanya dapat dipahami oleh kaum mu’minin yang memiliki kemampuan berfikir yang baik yang mampu membedakan status Khaliq dan makhluk. Jika pengertian hidayah disamakan niscaya Allah perlu mengatakan \"Sesungguhnya engkau memberi hidayah yang berupa bimbingan, atau sesungguhnya engkau memberi hidayah tapi bukan seperti hidayah-Ku.\"&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Tapi kedua ungkapan ini tidak terdapat dalam Al-Qur’an. Malah Allah membiarkan lafadl hidayah tanpa keterangan apapun. Karena orang yang mengesakan Allah dari kaum muslimin bisa memahami kata-kata dan mengerti perbedaan indikasi dari kata-kata tersebut menyangkut apa yang disandarkan kepada Allah dan Rasulullah SAW. Masalah ini sama dengan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an yang memberi sifat Rasul dengan Al-Ra’fah dan Al-Rahmah saat Allah berfirman yang Artinya :Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.dan Allah juga mensifati diri-Nya dengan dua sifat di atas dalam banyak ayat. SWT&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Sudah umum diketahui bahwa Al-Ra’fah dan Al-Rahmah dalam ayat kedua berbeda arti dengan Al-Ra’fah dan Al-Rahmah dalam ayat pertama. Waktu Allah mensifati Nabi-Nya dengan kedua sifat tersebut Dia mensifatinya tanpa embel-embel apapun. Karena orang yang dikhithabi yang seorang mu’min yang mengesakan Allah mengerti perbedaan antara Khaliq dan makhluk.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Seandainya tidak demikian, Allah perlu mengatakan Ra’uuf dengan ra’fah yang berbeda dengan ra’fah-Ku, dan rahiim dengan rahmat yang berbeda dengan rahmat-Ku, atau mengatakan Ra’uuf dengan rahmat tertentu dan Rahiim dengan rahmat tertentu, atau bisa juga mengatakan Ra’uuf dengan ra’fah kemanusiaan dan rahiim dengan rahmat kemanusiaan.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Namun semua ini ternyata tidak ada. Malah Allah memberi Nabi sifat ra’fah dan rahmat tanpa menambahkan penjelasan apapun.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;MAJAZ ‘AQLI DAN PENGGUNAANNYA&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Tidak disangsikan lagi bahwa majaz ‘aqli digunakan dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Diantaranya yang Artinya :Dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka ( karenanya ).( Q.S.Al.Anfaal : 2 )Penyandaran kalimat ziyadah ke kalimat aayaat adalah majaz ‘aqli. Karena ayat adalah penyebab bertambah sedang yang menambah sesungguhnya adalah Allah SWT.\"hari yang menjadikan anak-anak beruban.\" ( Q.S.Al.Muzzammil :17 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Penyandaran kata Ja’ala pada pada alyaum adalah majaz ‘aqli. Karena Al-Yaum adalah tempat mereka menjadi beruban. Kejadian tersebut tercipta pada Al-Yaum sedang yang menjadikan sesungguhnya adalah Allah SWT.&amp;nbsp; \"Dan jangan pula suwwa\`, yaghuts, ya\`uq dan nasr&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;. Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan ( manusia ).\"( Q.S.Nuh : 23-24 )Penyandaran Idlal pada Ashnam adalah majaz ‘aqli karena ashnam adalah penyebab terjadinya idlal sedang yang memberi petunjuk dan yang menyesatkan hakikatnya Allah SWT semata.&amp;nbsp;Firman Allah mengisahkan Fir’aun yang Artinya :&amp;nbsp;\"Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang Tinggi.\"( Q.S.Al-Mu\`min : 36 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Penyandaran Al-Binaa kepada Haman adalah majaz ‘aqli karena Haman Cuma penyebab. Ia hanya pemberi perintah tidak membangun sendiri. Yang membangun adalah para pekerja.&amp;nbsp;Adapun keberadaaan majaz ‘aqli dalam hadits maka di dalamnya terdapat jumlah yang banyak yang diketahui oleh orang yang mau mengkajinya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Para ulama berkata : Terlontarnya penyandaran di atas dari orang yang mengesakan Allah cukup menjadikannya dikategorikan sebagai penyandaran majazi karena keyakinan yang benar adalah bahwa pencipta para hamba dan tindakan-tindakan mereka adalah Allah semata. Allah adalah pencipta para hamba dan tindakan-tindakan mereka. Tidak ada yang bisa memberikan pengaruh kecuali Allah. Orang hidup atau orang mati tidak bisa memberi pengaruh apapun. Keyakinan semacam ini adalah tauhid yang murni. Berbeda kalau memiliki keyakinan yang berlawanan. Maka ia bisa jatuh dalam kemusyrikan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;URGENSI MENETAPKAN KAITAN ( NISBAT ) DALAM&amp;nbsp;MENETAPKAN BATASAN KUFUR DAN IMAN&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; Beberapa kelompok sesat hanya menggunakan pendekatan tekstual tanpa melibatkan indikasi-indikasi dan tujuan-tujuan serta tidak menggunakan titik temu yang bisa menghindari kontradiksi antar dalil-dalil yang ada seperti kelompok yang berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk dengan menggunakan argumentasi firman Allah yang Artinya :&amp;nbsp;\"Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab.\"&amp;nbsp;( Q.S.Az.Zukhruuf : 3 )kelompok Qadariyyah (free will) yang menggunakan ayat yang Artinya :\"Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.\"( Q.S.As.Syuuraa : 20 )بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ&amp;nbsp;\"Apa yang telah kamu kerjakan.\"( Q.S.Yunus : 23 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Kelompok Jabariyah yang berpegang teguh dengan ayat :وَالله ُخَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ\"Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.\"( Q.S.Ash.Shaaffaat : 96 )وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلكِن الله رَمَى\"Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.\"( Q.S.Al.Anfaal : 17 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Untuk menyingkap maksud dari firman Allah di muka bahwa sesungguhnya semua kelompok ummat Islam diluar kelompok Qadariyyah meyakini bahwa semua tindakan para hamba adalah diciptakan Allah SWT berdasarkan ayatوالله خلقكم وما تعملونdan ayat&amp;nbsp;وما رميت إذ رميت ولكن الله رمىmeskipun tindakan itu bisa dilekatkan kepada hamba dengan menggunakan pendekatan lain yang disebut iktisab ( bekerja ) seperti dalam firman Allah :لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ\"Ia mendapat pahala ( dari kebajikan ) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa&amp;nbsp;( dari kejahatan ) yang dikerjakannya.\"( Q.S.Al.Baqarah : 286 )dan ayat-ayat lain yang menunjukkan penyandaran kerja kepada hamba.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Keterkaitan qudrah dengan almaqdur ( obyek dari sifat qudrah ) tidak harus melalui penciptaan semata karena qudrah Allah pada masa azali berkaitan dengan alam sebelum Allah menciptakannya. Dan qudrah Allah ketika menciptakan alam berkaitan dengan alam dalam corak keterkaitan lain.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;ESENSI MENISBATKAN TINDAKAN KEPADA PARA HAMBA&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;\&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; Berangkat dari keterkaitan qudrah di atas jelaslah bahwa keterkaitan qudrah tidak hanya dengan terjadinya al-maqdur lewat sifat ini. Hubungan tindakan makhluk dengan mereka sendiri dengan cara mengerjakan bukan penciptaan. Karena Allah yang menciptakan, mentakdirkan dan menghendakinya. Tidak perlu dipersoalkan bagaimana Allah menghendaki apa yang Dia larang, karena perintah berbeda dengan kehendak dengan bukti Allah menyuruh semua manusia untuk beriman namun Allah tidak menghendaki semuanya beriman. Hal ini berdasarkan firman Allah yang Artinya :&amp;nbsp;\"Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman - walaupun kamu sangat menginginkannya.\" ( Q.S.Yusuf : 103 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Penisbatan tindakan kepada makhluk masuk kategori penisbatan musabbab ( Obyek yang terkena pengaruh sebab ) kepada sabab ( penyebab ) atau wasithah ( perantara ). Hal ini bukanlah sebuah kontradiksi karena yang menjadi penyebab dari segala sebab adalah pencipta washithah yang menciptakan makna keperantaraan kepada washithah. Seandainya Allah tidak memberi makna keperantaraan terhadap segala sebab maka segala sebab itu tidak layak menjadi washithah baik sebab yang tidak diberi akal oleh Allah seperti benda mati, cakrawala, hujan dan api atau sebab yang berakal seperti malaikat, manusia, atau jin.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;PERBEDAAN ARTI AKIBAT PERBEDAAAN NISBAT LAFADH&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Barangkali Anda berkata : Tidaklah rasional menisbatkan satu tindakan kepada dua pelaku karena mustahil berkumpulnya dua hal yang mampu memberikan pengaruh kepada satu obyek yang terkena pengaruh. Kami jawab, “Benar pandangan kalian. Namun konteksnya jika pelaku hanya memiliki satu pengertian dalam penggunaannya”.&amp;nbsp;Tapi jika pelaku memiliki dua pengertian maka kalimat tersebut ada kemungkinan digunakan untuk salah satunya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Kalau demikian tidak boleh kalimat itu digunakan untuk kedua-duanya sebagaimana telah diketahui dalam penggunaan kalimat yang memiliki lebih dari satu pengertian (musytarak /ambigu) atau hakikat dan majaz sebagaimana ungkapan : Pemimpin membunuh si fulan dan ungkapan : Si fulan dibunuh oleh algojo. Kata membunuh yang dinisbatkan kepada pemimpin memiliki pengertian yang berbeda dengan kata yang sama yang dinisbatkan kepada algojo. Maka ungkapan kita : Allah adalah pelaku dengan pengertian Dia adalah pencipta yang membuat sesuatu menjadi ada dan ungkapan kita : Sesungguhnya makhluk adalah pelaku, artinya adalah bahwa makhluk adalah obyek yang Allah ciptakan padanya kemampuan setelah menciptakan padanya kehendak dan pengetahuan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Berarti hubungan qudrah dengan iradah serta gerakan dengan qudrah adalah hubungan kausalitas dan yang diciptakan dengan yang menciptakan. Hubungan semacam ini berlaku jika obyeknya adalah makhluk berakal. Namun jika tidak berakal ia termasuk kategori mengaitkan yang disebabi atas yang menjadi penyebab.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Berarti sah-sah saja menyebut setiap hal yang memiliki kaitan dengan qudrah sebagai Fa’il ( pelaku ) bagaimanapun bentuk kaitannya. Sebagaimana algojo dan penguasa bisa disebut pembunuh dengan memandang dari sudut masing-masing. Karena pembunuhan berkaitan dengan keduanya. Meskipun pembunuhan dilihat dari dua sisi pandang berbeda namun masing-masing algojo dan penguasa bisa disebut pembunuh. Demikian pula dalam hal menilai obyek-obyek dari qudrat dengan dua qudrat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dalil yang menunjukkan diperbolehkan menisbatkan hal-hal di muka dan relevansinya adalah bahwa Allah SWT sendiri kadang menisbatkan tindakan kepada para malaikat dan terkadang kepada yang lain dan terkadang menisbatkannya kepada diri-Nya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Allah SWT berfirman yang Artinya :&amp;nbsp;Katakanlah: \"Malaikat maut yang diserahi untuk ( mencabut nyawa )mu akan mematikanmu.\"( Q.S.As.Sajdah : 11 )\"Allah memegang jiwa ( seseorang ) ketika matinya.\" ( Q.S.Az.Zumar :42 )\"Maka Terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam.\" ( Q.S.Al.Waqi\`ah : 63 )dengan dinisbatkan kepada mereka :&amp;nbsp;25. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), 26. Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, 27. Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu.( Q.S.\`Abasa : 25-27 )&amp;nbsp; \" Lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, Maka ia menjelma di hadapannya ( dalam bentuk ) manusia yang sempurna.\"( Q.S.Maryam : 17 )&amp;nbsp; \" Lalu Kami tiupkan ke dalam ( tubuh )nya ruh dari Kami dan Kami jadikan Dia dan anaknya tanda ( kekuasaan Allah ) yang besar bagi semesta alam.\" ( Q.S.Al.Anbiyaa\` : 91 )Nafkh ( tiupan ) disandarkan kepada Allah padahal yang meniup sesungguhnya adalah Jibril AS. Allah berfirman yang Artinya :&amp;nbsp;\"Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.\"&amp;nbsp;( Q.S.Al.Qiyaamah : 18 )&amp;nbsp;padahal pembaca Al-Qur’an yang didengar bacaannya oleh Nabi Muhammad SAW adalah Jibril.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Allah berfirman yang Artinya :&amp;nbsp;&amp;nbsp; \" Maka ( yang sebenarnya ) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.\" ( Q.S.Al.Anfaal : 17 )Allah meniadakan tindakan pembunuhan dari mereka dan menetapkan tindakan itu kepada diri-Nya dan menafikan tindakan pelemparan darinya lalu menyandarkannya kepada diri-Nya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Maksud dari ayat bukan berarti menafikan fakta kasat mata tindakan mereka membunuh orang-orang kafir dan menafikan tindakan Nabi melempari mereka dengan kerikil. Namun maksudnya adalah bahwa mereka tidak membunuh dan melempar dalam pengertian sebagaimana Allah membunuh dan melempar yaitu penciptaan dan kepastian. Sebab kedua pengertian ini adalah dua makna yang memiliki arti berbeda.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Kadangkala Allah menisbatkan tindakan kepada diri-Nya dan Nabi Muhammad secara bersamaan sebagaimana firman Allah yang Artinya :&amp;nbsp;&amp;nbsp; \"Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: \"Cukuplah Allah bagi Kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian ( pula ) Rasul-Nya, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,\" ( tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka ).\"( Q.S.At.Taubah : 59 )&amp;nbsp;‘Aisyah RA meriwayatkan bahwa Allah SWT jika berkehendak menciptakan janin maka Allah mengutus malaikat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Lalu malaikat memasuki rahim dan memungut sperma dengan tangannya kemudian membentuknya sebagai jasad. Malaikat bertanya, “Wahai Tuhanku, laki-laki atau perempuan jenis kelamin janin ini dan apakah ia normal atau cacat ?”. Lalu Allah menetapkan janin sesuai dengan kehendak-Nya dan malaikat pun membentuknya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dalam versi lain : malaikat membentuk janin dan meniupkan nyawa padanya sebagai janin yang mendapat bahagia atau celaka.&amp;nbsp;Jika Anda memahami keterangan di atas maka jelaslah bagi Anda bahwa tindakan digunakan dalam arti beragam dan tidak kontradiktif. Karena itu tindakan adakalanya disandarkan kepada benda mati seperti dalam firman Allah yang Artinya : &amp;nbsp;\"Pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya.\"( Q.S.Ibrahim : 25 )&amp;nbsp;pohon tidak bisa memberikan buah dengan sendirinya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Sebagaimana halnya sabda Nabi kepada orang yang memberikan beliau sebuah kurma :&amp;nbsp;خُذْهَا لَوْ لَمْ تَأْتِهَا لَأَتَتْكَ ...\"Ambillah kurma itu. Jika engkau tidak mendatanginya maka kurma itu akan datang kepadamu ....\"Sebagaimana tertera dalam riwayat Thabarani dan Ibnu Hibban. Penyandaran kata Ityan (datang) berbeda pengertian antara yang disandarkan kepada seorang laki-laki dan kurma. Maksud dari datangnya kurma berbeda dengan datangnya laki-laki.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Pengertian datang dari keduanya adalah dua majaz yang berbeda sudut pandangnya. Kemajazan penyebutan kedatangan kepada laki-laki bermakna bahwa Allah menciptakan padanya kemampuan dan kehendak untuk datang pada kurma. Sedang kedatangan kurma bermakna bahwa Allah akan membuat seseorang sebagai penyebab datangnya kurma.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Yang sesungguhnya adalah menyandarkan mendatangkan kepada Allah pada keduanya. Karena perbedaan sudut pandang dalam perantara maka memandang perantara dalam tindakan terkadang bisa mengakibatkan kekufuran sebagaimana jawaban Qarun terhadap Nabi Musa AS yang Artinya :&amp;nbsp;Qarun berkata: \"Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.\"( Q.S.Al.Qashash : 78 )Dan sebagaimana dalam hadits :&amp;nbsp;&amp;nbsp; أصبح من عبادي مؤمن بي وكافر , فأما من قال : مطرنا بفضل الله ورحمته فذالك مؤمن بي كافر بالكوكب , وأما من قال : مطرنا بنوء كذا وكذا فذالك كافر بي مؤمن بالكوكب.&amp;nbsp; \"Sebagian hamba-Ku, di pagi hari ada yang beriman kepadaKu dan kafir.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Adapun yang berkata : Kami disirami hujan berkat anugerah dan rahmat Allah maka ia beriman kepada-Ku dan kufur kepada bintang. Sebaliknya orang yang berkata : kami disirami hujan berkat bintang ini atau itu maka ia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.&amp;nbsp;Kekufuran ini terjadi karena memandang perantara sebagai yang memberikan pengaruh dan yang menciptakan.&amp;nbsp;Imam al-Nawawi berkata : pendapat para Ulama terbelah menjadi dua menyangkut kekufuran orang yang mengatakan : Kami disirami hujan berkat bintang ini.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Pendapat pertama : menyatakan bahwa perkataan ini adalah kekufuran kepada Allah dan mencabut dasar keimanan serta dapat mengeluarkan dari agama Islam. Dalam pandangan ulama kekufuran bisa terjadi atas mereka yang mengatakan perkataan tersebut seraya meyakini bahwa bintang adalah pelaku, pengatur dan pencipta hujan sebagaimana anggapan sebagian kaum jahiliyyah.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Siapapun yang memiliki keyakinan semacam ini maka tidak disangsikan lagi telah kafir. Ini adalah pandangan mayoritas ulama diantaranya Imam Asy-Syafi’i dan sesuai dengan makna literal dalam hadits. Karena itu, dalam pandangan mereka seandainya mengatakan : kami disirami hujan berkat bintang ini dengan tetap meyakini bahwa hujan itu dari dan berkat rahmat Allah SWT sedang bintang cuma dianggap sebagai waktu dan ciri berdasarkan kebiasaan maka seolah-olah ia mengatakan : kami disirami hujan pada waktu bintang ini, berarti ia tidak kufur.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Para ulama berbeda pendapat menyangkut kemakruhan perkataan : kami disirami hujan berkat bintang ini. Namun kemakruhan ini sebatas makruh tanzih yang tidak berimplikasi dosa. Penyebab kemakruhan adalah karena kalimat ini berada dalam posisi kufur dan tidak, yang bisa berdampak sangkaan buruk bagi pengucapnya. Dan juga ia adalah lambang jahiliyyah dan mereka yang meniru cara hidup jahiliyyah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Pendapat kedua : Pada dasarnya penafsiran hadits Nabi menyatakan bahwa kufur terhadap nikmat Allah sebab membatasi terjadinya hujan terhadap bintang. Kufur nikmat ini berlaku bagi orang yang tidak meyakini peranan bintang. Penafsiran ini didukung oleh riwayat terakhir pada bab ini ; Sebagian orang, di pagi hari ada yang bersyukur dan ada yang kufur.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dalam riwayat lain ; Allah tidak menurunkan berkah dari langit kecuali sebagian manusia mengkufuri terhadap berkah itu. Kata بها ( terhadap berkah itu ) menunjukkan kekufuran yang terjadi adalah kufur nikmat. Wallahu A’lam.&amp;nbsp;Anda bisa melihat bahwa Imam An-Nawawi menyatakan adanya konsensus ulama bahwa siapapun yang menisbatkan tindakan kepada perantara tidak berdampak kufur kecuali disertai keyakinan bahwa perantara itu yang bertindak sebagai pelaku, pengatur dan pencipta.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Namun jika perantara tidak dilihat demikian namun hanya menganggap perantara adalah ciri atau tempat terjadinya penciptaan yang telah ditakdirkan maka vonis kufur tidak jatuh. Syara’ malah kadang mengajak untuk memandang perantara sebagaimana sabda Nabi :&amp;nbsp;من أسدى إليكم معروفا فكافئوه فان لم تستطيعوا فادعوا له حتى تعلموا أنكم قد كافأتموه&amp;nbsp; \"Siapapun yang memberi kebaikan kepada Anda maka balaslah ia. Jika Anda tidak mampu membalasnya maka doakanlah ia sampai kalian menyadari telah membalas kebaikannya.\"&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dan sabda Nabi yang lain :&amp;nbsp;من لم يشكر الناس لم يشكر الله\"Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, ia tidak akan bersyukur kepada Allah.\"Ajakan syara’ ini berdasarkan pertimbangan bahwa memandang perantara dari sudut pandang demikian tidak berarti meniadakan anugerah dari Allah. Banyak ayat dimana Allah SWT memberikan pujian atas perbuatan baik para hamba-Nya dan malah memberi mereka pahala atas perbuatan tersebut. Allah adalah Dzat yuang mendorong mereka berbuat baik dan menciptakan kemampuan mereka untuk mengerjakannya. Allah berfirman yang Artinya :\"Dia adalah sebaik- baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat ( kepada Tuhannya ).\"( Q.S.Shaad : 30 )\"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik ( surga ) dan tambahannya.\"( Q.S.Yunus :26 )\"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu\"( Q.S.Asy.Syams : 9 )Jika telah jelas di mata Anda bahwa tindakan (al-fi’l) dapat digunakan dalam beragam makna maka makna-makna tersebut tidaklah berbenturan jika dipahami dengan jernih.Makna-makna yang terkandung dalam ungkapan lebih luas dari ungkapan itu sendiri dan hati lebih luas dari buku-buku yang dikarang. Jika kita terpaku pada lafadz dalam arti hakiki tanpa memandang majaz maka kita tidak akan mampu mengkompromikan antara teks-teks atau membedakannya. Silahkan Anda perhatikan informasi yang disampaikan Allah tentang Nabi Ibrahim AS dalam : رب إنهن أضللن كثيرا من الناس . apakah Anda menilai Nabi Ibrahim menyekutukan Allah dengan benda mati ? Padahal beliaulah yang bertanya : أتعبدون ما تنحتون والله خلقكم وما تعملون .&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Kompromi terhadap dua ayat ini adalah bahwa siapapun yang menyekutukan Allah dengan yang lain dalam segi penciptaan dan memberikan pengaruh maka ia telah musyrik baik obyek lain itu benda mati atau manusia, baik Nabi atau bukan. Dan barangsiapa yang meyakini adanya penyebab dalam hal di atas baik penyebab itu berlaku secara umum atau tidak kemudian menjadikan Allah sebagai penyebab atas terjadinya musabbab dan bahwa pelakunya ( al-fa’il ) adalah Allah semata tidak ada yang menyukutui maka ia adalah seorang mukmin meskipun salah dalam menilai apa yang bukan sebab dianggap sebagai sebab. Karena kesalahannya terletak pada sebab bukan pada yang menciptakan sebab yang notabene adalah Sang Pencipta dan Pengatur SWT.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;MENGAGUNGKAN ANTARA IBADAH DAN ETIKA&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Banyak orang keliru dalam memahami substansi pengagungan dan ibadah. Mereka mencampur kedua substansi ini dan menganggap bahwa apapun bentuk pengagungan berarti ibadah kepada yang diagungkan. Berdiri, mencium tangan, mengagungkan Nabi SAW dengan sayyidina dan maulanaa, dan berdiri di depan beliau saat berziarah dengan sopan santun; semua ini tindakan berlebihan di mata mereka yang bisa mengarah kepada penyembahan selain Allah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Pandangan ini sesungguhnya adalah pandangan bodoh dan membingungkan yang tidak diridloi Allah dan Rasulullah SAW serta menyusahkan diri sendiri yang tidak sesuai dengan spirit syari’ah islamiyyah.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Nabi Adam AS, manusia pertama dan hamba Allah yang shalih yang pertama dari jenis manusia, oleh Allah malaikat diperintahkan untuk bersujud kepadanya sebagai bentuk penghargaan dan pengagungan atas ilmu pengetahuan yang diberikan Allah kepada Nabi Adam dan sebagai proklamasi kepada para malaikat atas dipilihnya Nabi Adam bukan para makhluk lain. Allah berfirman yang Artinya :61. Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada Para Malaikat: \"Sujudlah kamu semua kepada Adam\", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: \"Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?\"62. Dia (iblis) berkata: \"Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil\"&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;.Dalam ayat lain Allah berfirman yang Artinya :Menjawab iblis \"Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah.\" ( Q.S.Al.A\`raaf : 12 )\"Maka bersujudlah Para Malaikat itu semuanya bersama-sama, Kecuali iblis. ia enggan ikut besama-sama ( malaikat ) yang sujud itu.\" ( Q.S.Al.Hijr : 30-31 )Para malaikat mengagungkan makhluk yang diagungkan Allah dan iblis menolak untuk sujud kepada makhluk yang tercipta dari tanah. Iblis adalah yang pertama kali menggunakan analogi dengan akalnya dan berkata : saya lebih baik dari Adam, dengan alasan karena ia tercipta dari api sedang Adam dari tanah. Ia enggan menghormati Adam dan menolak bersujud kepadanya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Iblis adalah makhluk angkuh pertama dan menolak mengagungkan makhluk yang diagungkan Allah. akhirnya ia dijauhkan dari rahmat Allah karena keangkuhannya pada Adam yang shalih. Sikap iblis pada dasarnya adalah keangkuhan kepada Allah karena sujud kepada Adam semata-mata atas perintah Allah. Sujud kepada Adam hanyalah sebagai bentuk penghormatan kepadanya atas para malaikat. Iblis adalah makhluk yang mengesakan Allah namun ketauhidannya tidak berguna sama sekali akibat menolak bersujud kepada Adam.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Salah satu firman Allah yang menjelaskan pengagungan terhadap orang-orang sholih adalah firman Allah menyangkut Nabi Yusuf AS yang Artinya :&amp;nbsp; \"Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. dan mereka ( semuanya ) merebahkan diri seraya sujud.\" ( Q.S.Yusuf : 100 )Sujud ini adalah sujud sebagai ungkapan penghargaan dan pemuliaan terhadap Yusuf atas saudara-saudaranya.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Sujud menyentuh tanah yang dilakukan saudara-saudara Yusuf ditunjukkan oleh kalimat وخروا barangkali dalam syari’at saudara-saudara Yusuf sujud dalam bentuk seperti ini diperbolehkan atau seperti sujud para malaikat kepada Adam untuk memuliakan, mengagungkan, dan mematuhi perintah Allah sebagai penafsiran terhadap mimpi Yusuf dimana mimpi para Nabi berstatus wahyu.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Adapun Nabi Muhammad SAW maka Allah SWT telah berfirman yang Artinya :&amp;nbsp;&amp;nbsp; \"8. Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan,9. Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.\"&amp;nbsp; 1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.2. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.3. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka Itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.4. Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.&amp;nbsp; &amp;nbsp;63. Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian ( yang lain ).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung ( kepada kawannya ), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Ketika berhadapan dengan Rasulullah, Allah SWT melarang berbicara mendahului beliau dan bersikap tidak sopan dengan mendahului berbicara. Sahl ibn ‘Abdillah berkata,\" Janganlah kamu berkata sebelum Rasulullah berkata, dan jika beliau berkata maka dengarkanlah dan perhatikanlah.\" Para sahabat dilarang untuk mendahului dan tergesa-gesa memenuhi keinginannya sebelum keinginan Rasulullah terpenuhi dan dilarang mengeluarkan fatwa apapun baik perang atau urusan lain yang menyangkut agama tanpa perintah Nabi dan juga tidak boleh mendahului beliau.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Kemudian Allah memperingatkan mereka untuk tidak melanggar larangan di atas :&amp;nbsp;واتقوا الله إن الله سميع عليم\"Dan bertaqwalah kepada Allah,sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.\" ( Q.S.Al.Hujuraat :1 )Berkata As-Silmi : takutlah kepada Allah, jangan sampai menelantarkan hak Allah dan menyia-nyiakan hal-hal yang diharamkan-Nya karena Dia mendengar ucapan kalian dan mengetahui tindakan kalian.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Selanjutnya Allah melarang mengeraskan suara melebihi suara beliau dan berbicara keras kepada beliau sebagaimana mereka berbicara kepada sesamanya. Versi lain mengatakan, sebagaimana kalian saling memanggil dengan menggunakan nama. Abu Muhammad Makki mengatakan : janganlah kalian berkata sebelum beliau, mengeraskan ucapan dan memanggi beliau dengan namanya sebagaimana panggilan kalian dengan sesamanya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Tapi agungkanlah dan hormatilah dan panggillah beliau dengan panggilan paling mulia yang beliau senang dengan panggilan tersebut yaitu Wahai Rasulullah dan wahai Nabiyyallah. Pandangan Abu Muhammad Makki ini sebagaimana firman Allah yang Artinya : &amp;nbsp;&amp;nbsp;\"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian ( yang lain ).&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung ( kepada kawannya ),maka hendak-lah orang-orang yang menyalahi peritah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.\" ( Q.S.An.Nuur : 63 )&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Ulama lain menafsirkan : Jangan berkata kepada beliau kecuali bertanya. Selanjutnya Allah memperingatkan bahwa amal perbuatan mereka akan hangus jika melanggar larangan di muka. Ayat di atas turun dilatarbelakangi oleh peristiwa ketika sekelompok orang datang kepada Nabi dan memanggil beliau dengan : Wahai Muhammad, keluarlah untuk menemui kami. Lalu Allah pun mengecam tindakan mereka sebagai kebodohan dan menggambarkan bahwa kebanyakan mereka tidak berakal.&amp;nbsp;&amp;nbsp; ‘Amr ibn ‘Ash berkata, “Tidak ada orang yang lebih kucintai melebihi Rasulullah SAW dan dimataku tidak ada yang lebih agung melebihi beliau. Saya tidak mampu memandang beliau dengan mata terbuka lebar semata-mata karena menghormatinya. Jika saya ditanya untuk mensifati beliau saya tidak akan mampu menjawab sebab saya tidak mampu memandang beliau dengan mata terbuka lebar. HR Muslim dalam Kitabul Iman, bab Kaunul Islam Yahdimu Maa Qablahu.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Turmudzi meriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah SAW keluar menemui sahabat Muhajirin dan Anshor yang sedang duduk.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Di antara mereka terdapat Abu Bakar dan Umar. Tidak ada yang berani memandang beliau dengan wajah terangkat kecuali Abu Bakar dan Umar. Keduanya memandang beliau dan beliau memandang keduanya dan mereka berdua tersenyum kepada beliau dan beliau juga tersenyum kepada mereka.&amp;nbsp; Usamah ibn Syuraik meriwayatkan : Saya datang kepada Nabi SAW yang dikelilingi para sahabat yang seolah-olah di atas kepala mereka dihinggapi burung.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dalam mensifati beliau : Jika berbicara para pendengar yang duduk di sekeliling beliau akan menundukkan kepala seolah-olah di atas kepala mereka dihinggapi burung. Saat ‘Urwah ibn Mas’ud menjadi duta Qurays waktu mengadakan perjanjian datang kepada Rasulullah dan melihat penghormatan para sahabat kepada beliau. Ia melihat jika beliau berwudlu maka mereka akan segera berebutan mengambil air wudlu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Bila beliau meludah atau membuang dahak maka mereka akan meraihnya dengan telapak tangan mereka lalu digosokkan pada wajah dan badan mereka. Kalau ada sehelai rambut beliau yang jatuh mereka segera mengambilnya. Jika Beliau memberi instruksi mereka segera mengerjakanya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Bila Beliau berbicara mereka merendahkan suara mereka. Mereka tidak berani memandang tajam Beliau, karena menghormatinya. Ketika Usamah bin Syuraik kembali kepada kaum quraisy ia berkata, “Wahai orang-orang Quraisy saya pernah mendatangi Kisro dan kaisar di istana mereka, Demi Allah saya belum pernah sekalipun melihat raja bersama kaumnya sebagaimana Muhammad bersama para sahabatnya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dalam riwayat lain disebutkan : Saya belum pernah sekalipun melihat raja yang dihormati pengikutnya sebagaimana para sahabat menghormati Nabi. Sungguh saya telah melihat kaum yang tidak akan membiarkan Beliau dalam bahaya selamanya.&amp;nbsp; At-Thabarani dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya meriwayatkan dari Usamah bin Syuraik bahwasanya ia berkata; “Kami sedang duduk-duduk disamping Nabi seolah-seolah diatas kepala kami hinggap burung “.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Tidak ada seorangpun diantara kami yang berbicara tiba-tiba datang beberapa orang pada Nabi lalu mereka bertanya ; “ Siapakah hamba Allah yang paling dicintainya? “Yang paling baik budi pekertinya “Jawab Nabi. Demikian tercantum dalam At-Targhib:2/187.Imam Al-Mundziri berkata, Hadits ini diriwayatkan oleh At Thabarani dalam As Shahih dengan para perawi yang bisa dijadikan argumentasi.&amp;nbsp; Abu Ya’la meriwayatkan dari Al-Barra’ ibn ‘Azib dan menilainya shahih bahwa Al-Barra’ mengatakan, “Sungguh aku ingin sekali menanyakan sesuatu kepada Rasulullah namun aku menundanya selama dua tahun semata-mata karena segan”.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Al-Baihaqi meriwayatkan dari Al-Zuhri bahwa ia berkata, “Mengkhabarkan kepada saya seorang Anshor yang tidak saya ragukan bahwa Rasulullah SAW jika berwudlu atau mengeluarkan dahak maka para sahabat berebutan mengambil dahak beliau kemudian diusapkan pada wajah dan kulit mereka.&amp;nbsp;“Mengapa kalian berbuat demikian,? Tanya Rasulullah.&amp;nbsp;“Kami mencari berkah darinya.”&amp;nbsp;“Barangsiapa yang ingin dicintai Allah dan Rasul-Nya maka berkatalah jujur, menyampaikan amanah dan tidak menyakiti tetangganya.” Demikian keterangan dalam Al-Kanzu : 8/228.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Walhasil, dalam hal ini ada dua persoalan besar yang harus dimengerti. Pertama; kewajiban menghargai Nabi SAW dan meninggikan derajat beliau di atas semua makhluk. Kedua; mengesakan Tuhan dan menyakini bahwa Allah SWT berbeda dari semua makhluk-Nya dalam aspek dzat, sifat dan tindakan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Barangsiapa yang meyakini adanya kesamaan makhluk dengan Allah dalam aspek ini maka ia telah menyekutukan Allah sebagaimana kaum musyrikin yang meyakini ketuhanan dan penyembahan terhadap berhala. Dan siapapun yang merendahkan Nabi SAW dari kedudukan semestinya maka ia berdosa atau kafir.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Adapun orang menghormati Nabi dengan beragam penghormatan yang berlebihan namun tidak mensifati beliau dengan sifat-sifat Allah apapun maka ia telah berada di jalan yang benar dan secara bersamaan telah menjaga aspek ketuhanan dan kerasulan. Sikap semacam ini adalah sikap yang ideal.&amp;nbsp; Apabila ditemukan dalam ucapan kaum mukminin penyandaran sesuatu kepada selain Allah maka wajib dipahami sebagai majaz ‘aqli. Tidak ada alasan untuk mengkafirkannya karena majaz ‘aqli digunakan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;PERANTARA SYIRIK&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Banyak orang keliru dalam memahami esensi perantara ( wasithah ). Mereka memvonis dengan gegabah bahwa perantara adalah tindakan musyrik dan menganggap bahwa siapapun yang menggunakan perantara dengan cara apapun telah menyekutukan Allah dan sikapnya sama dengan sikap orang-orang musyrik yang mengatakan yang Artinya :&amp;nbsp;&amp;nbsp; \"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.\" ( Q.S.Az.Zumar : 3 )&amp;nbsp;Kesimpulan ini jelas salah dan berargumentasi dengan ayat di atas adalah bukan pada tempatnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Karena ayat tersebut jelas menunjukkan pengingkaran terhadap orang musyrik menyangkut penyembahan mereka terhadap berhala dan menjadikannya sebagai tuhan selain Allah serta menjadikan berhala sebagai sekutu dalam ketuhanan dengan anggapan bahwa penyembahan mereka terhadap berhala mendekatkan mereka kepada Allah. Jadi, kekufuran dan kemusyrikan kaum mussyrikin adalah dari aspek penyembahan mereka terhadap berhala dan dari aspek keyakinan mereka bahwa berhala adalah tuhan-tuhan di luar Allah SWT.&amp;nbsp;Di sini ada masalah yang urgen untuk dijelaskan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Yaitu bahwa ayat di atas menyatakan bahwa kaum musyrikin, sesuai yang digambarkan Allah, tidak meyakini dengan serius ucapan mereka yang membenarkan penyembahan berhala : ( Kami tidak menyembah mereka kecuali semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah ). Jika ucapan kaum musyrikin tersebut sungguh-sungguh niscaya Allah lebih agung daripada berhala dan mereka tidak akan menyembah selain-Nya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Allah telah melarang kaum muslimin untuk memaki berhala-berhala kaum musyrikin, lewat firman-Nya yang Artinya :&amp;nbsp; &amp;nbsp;108. \"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.\" ( Q.S.Al.An\`aam : 108 )Abdurrazaq, Abd ibn Hamid, ibn Jarir, ibnul Mundzir, ibn Abi Hatim dan Abu al-Syaikh meriwayatkan dari Qatadah bahwa Rasulullah berkata, “Awalnya Kaum muslimin memaki berhala-berhala orang kafir. Akhirnya mereka memaki Allah. Lalu turunlah ayat yang Artinya :&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;108. \"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.\" ( Q.S.Al.An\`aam : 108 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Peristiwa inilah yang menjadi latar belakang turunnya ayat tersebut. Berarti ayat tersebut melarang dengan keras kaum mu’minin untuk melontarkan kalimat yang bernada merendahkan terhadap batu-batu yang disembah oleh kaum paganis di Makkah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Karena melontarkan kalimat seperti itu mengakibatkan kemurkaan kaum paganis karena membela bebatuan yang mereka yakini dari lubuk hati paling dalam sebagai tuhan yang memberi manfaat dan menolak bahaya. Jika mereka emosi maka akan balik memaki Tuhan kaum muslimin, Allah SWT dan melecehkan-Nya dengan berbagai kekurangan padahal Dia bebas dari segala kekurangan. Jika mereka meyakini dengan sebenarnya bahwa penyembahan kepada berhala sekedar untuk mendekatkan diri kepada Allah niscaya mereka tidak akan berani memaki Allah untuk membalas orang yang memaki tuhan-tuhan mereka.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Fakta ini menunjukkan dengan jelas bahwa keberadaaan Allah dalam hati mereka jauh lebih sedikit dari pada keberadaaan bebatuan yang disembah.&amp;nbsp;Ayat lain yang menunjukkan ketidakjujuran orang kafir adalah :25. \"Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: \"Siapakah yang menciptakan langit dan bumi ?\" tentu mereka akan menjawab: \"Allah\". Katakanlah : \"Segala puji bagi Allah\"; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.\" ( Q.S.Luqman : 25 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Bila orang-orang kafir meyakini dengan jujur bahwa hanya Allah sang Pencipta dan bahwa berhala-berhala itu tidak mampu menciptakan apa-apa niscaya mereka akan menyembah Allah semata, tidak menyembah berhala atau minimal penghormatan mereka terhadap Allah melebihi penghormatan kepada patung-patung dari batu tersebut. Apakah jawaban mereka dalam ayat ini relevan dengan makian mereka terhadap Allah sebagai bentuk pembelaan terhadap berhala-berhala mereka dan pelampiasan dendam terhadap Allah SWT? Secara spontan kita akan menjawab sampai kapanpun hal ini tidak relevan. Ayat di atas bukanlah satu-satunya ayat yang menunjukkan bahwa di mata mereka Allah lebih rendah dari patung-patung yang mereka sembah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Banyak ayat senada seperti :136. \"Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: \"Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami\". Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, Maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu.\"&amp;nbsp;( Q.S.Al.An\`aam : 136 )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Seandainya di mata mereka Allah tidak lebih rendah dibanding patung-patung tersebut maka mereka tidak akan mengunggulkannya dalam bentuk seperti yang diceritakan ayat ini dan tidak layak mendapat vonis ساء ما يحكمون.Salah satu ungkapan yang masuk kategori di atas adalah perkataan Abu Sufyan sebelum masuk Islam, “Mulialah engkau wahai Hubal !”sebagaimana riwayat Al-Bukhari.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Pujian ini dialamatkan kepada berhala mereka yang bernama Hubal agar dalam kondisi kritis mampu mengatasi Allah Tuhan langit dan bumi serta agar ia dan pasukannya mampu mengalahkan tentara mukmin yang hendak menghancurkan berhala-berhala mereka. Ini adalah gambaran dari sikap orang musyrik menyangkut berhala dan Allah SWT.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Pengertian bahwa penghormatan bukan berarti penyembahan terhadap obyek yang dihormati harus dipahami dengan baik karena banyak orang tidak memahaminya dengan benar lalu membangun persepsi-persepsi yang sesuai dengan pemahamannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Apakah tidak engkau perhatikan ketika Allah menyuruh kaum muslimin menghadap Ka’bah saat shalat, mereka menyembah menghadapnya dan menjadikannya sebagai kiblat ? Tetapi Ka’bah bukanlah obyek penyembahan. Mencium Hajar Aswad adalah penghambaan kepada Allah dan mengikuti Nabi SAW. Seandainya ada kaum muslimin yang berniat menyembah Ka’bah dan Hajar Aswad niscaya mereka menjadi musyrik sebagaimana para penyembah berhala.&amp;nbsp;Perantara ( mediator / wasithah ) adalah sesuatu yang harus ada.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Eksistensinya bukanlah sebagai bentuk kemusyrikan. Tidak semua orang yang menggunakan mediator antara dirinya dan Allah dipandang musyrik. Jika semua dianggap musyrik niscaya semua orang dikategorikan musyrik karena segala urusan mereka didasarkan atas eksistensi mediator. Nabi Muhammad SAW menerima Al-Qur’an via Jibril dan Jibril adalah mediator beliau.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Sedang Nabi SAW adalah mediator besar bagi para sahabat. Ketika mengalami problem yang berat mereka datang dan mengadukannya kepada beliau dan menjadikannya sebagai mediator menuju Allah. Mereka memohon do’a kepada beliau dan beliau tidak menjawab, “Kalian telah musyrik dan kafir karena tidak boleh mengadu dan memohon kepada saya. Kalian harus datang, berdoa dan memohon sendiri karena Allah lebih dekat dengan kalian dari pada saya”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Nabi tidak pernah berkata demikian. Beliau malah berdiam dan dan memohon pada saat di mana mereka mengatahui bahwa pemberi sejati adalah Allah dan yang mencegah, melimpahkan dan pemberi rizqi juga Allah. Mereka juga tahu bahwa beliau SAW memberi atas izin dan karunia Allah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Beliaulah yang mengatakan,”Saya adalah pembagi dan Allah pemberi”. Berangkat dari pengertian bahwa penghormatan bukan berarti penyembahan terhadap obyek yang dihormati ini maka jelas diperbolehkan menetapkan manusia biasa manapun bahwa ia telah mengatasi kesulitan dan mencukupi kebutuhan dengan pengertian bahwa ia adalah mediator dalam pemenuhan kebutuhan tersebut.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Kalau manusia biasa bisa berperan seperti ini maka bagaimana dengan Nabi Muhammad SAW yang notabene junjungan mulia, Nabi agung, makhluk termulia dunia akhirat , junjungan jin dan manusia serta makhluk Allah paling utama secara mutlak? Bukankah beliau pernah bersabda :من فرج عن مؤمن كربة من كرب الدنيا فرّج الله عنه كربة من كرب يوم القيامة” Barangsiapa membantu mengatasi satu dari banyak kesulitan seorang mu’min di dunia, maka Allah akan melepaskannya dari kesusahan pada hari kiamat.\"&amp;nbsp;sebagaimana tercantum dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Maka orang mu’min adalah orang yang mengatasi segala kesulitan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Bukankah beliau bersabda :من قضي لأخيه حاجة كنت واقفا عند ميزانه فان رجح وإلا شفعت له ؟ فالمؤمن قاض للحاجات\"Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya maka saya akan berdiri di dekat timbangan amalnya. Jika timbangan amal baik itu lebih berat maka akubiarkan, jika tidak maka aku akan memberinya syafaat ? Maka orang mu’min adalah orang yang mencukupi segala kebutuhan.\"&amp;nbsp;من ستر مسلما ستر الله له ( الحديث )\"Barangsiapa menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya.\"إن لله عز وجل خلقا يفزع إليهم في الحوائج&amp;nbsp;\"Sesungguhnya Allah memiliki para makhluk yang didatangi banyak orang untuk memenuhi kebutuhan mereka.\"والله في عون العبد مادام العبد في عون أخيه\"Allah senantiasa membantu hamba-Nya sepanjang ia membantu saudaranya.\"&amp;nbsp;من أغاث ملهوفا كتب الله له ثلاثا وتسعين حسنة\"Siapapun yang menolong orang teraniaya maka Allah akan menulis baginya 93 kebaikan.\" ( HR. Abu Ya’la , Al-Bazzar dan Al-Baihaqi. )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dalam konteks ini orang mu’min adalah yang mengatasi, membantu, menolong, menutupi dan yang menjadi tempat pengaduan meskipun sesungguhnya pelaku sejatinya adalah Allah SWT. Namun berhubung ia adalah mediator dalam menangani masalah-masalah tersebut maka sah menisbatkan tindakan-tindakan tersebut kepadanya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dalam koleksi hadits-hadits Rasulullah SAW terdapat banyak hadits yang menjelaskan bahwa Allah SWT menghindarkan siksaan dari penduduk bumi berkat orang-orang yang beristighfar dan mereka yang rajin menghidupkan masjid dan Dia juga memberi rizqi, menolong dan menjauhkan musibah dan tenggelam dari penduduk bumi berkat mereka.&amp;nbsp;At-Thabarani dalam Al-Kabir dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan meriwayatkan dari Mani’ Ad-Dailami RA bahwa ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :&amp;nbsp;&amp;nbsp; لو لا عباد لله ركع وصبية رضع وبهائم رتع لصب عليكم العذاب صبا ثم رضّ رضا“Jikalau tiada para hamba Allah yang sholat, para bayi yang menyusui dan binatang yang merumput niscaya adzab akan diturunkan dan orang-orang yang terkena adzab itu akan dihancurkan”.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Al-Bukhari meriwayatkan dari Sa’d ibn Abi Waqqash RA bahwa Rasulullah SAW bersabda :هل تنصرون وترزقون إلا بضعفائكم”Bukankah kalian mendapat kemenangan dan rizki hanya karena orang-orang lemah kalian”.At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits yang dikategorikan shahih oleh Al-Hakim dari Anas RA bahwa Nabi SAW bersabda :لعلك ترزق به”Barangkali kamu mendapat rizqi berkat saudaramu”.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dari Abdullah ibn Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda :&amp;nbsp; إن الله عز وجل خلقا خلقهم لحوائج الناس يفزع إليهم الناس في حوائجهم أولئك الآمنون من عذاب الله تعالى ( رواه البراني في الكبير وأبو نعيم والقضاعي وهو حسن )”Sesungguhnya Allah memiliki para makhluk yang Dia ciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Orang-orang datang kepada mereka untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Mereka dalah orang-orang yang aman dari adzab Allah”.( HR. Thabarani dalam Al-Kabiir, Abu Nu’aim dan Al-Qudlo’i dengan status Hasan. )&amp;nbsp;Dari Abdillah ibn Umar RA bahwa Rasulullah bersabda :&amp;nbsp; إن الله ليصلح بصلاح الرجل المسلم ولده وولد ولده وأهل دويرته ودويرات حوله ولا يزالون في حفظ الله عز وجل مادام فيهم”Sesungguhnya Allah SWT, sebab keshalihan seorang laki-laki muslim akan membuat anak, cucu, warga desanya dan desa-desa sekitarnya menjadi shalih dan mereka senantiasa berada dalam lindungan Allah sepanjang laki-laki shalih itu tinggal bersama mereka”.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Diriwayatkan oleh Ibn Jarir dalam tafsirnya : 2/341 dan An-Nasa’i dalam Al-Mawaa’idz dari As-Sunan Al-Kubraa sebagaimana keterangan dalam At-Tuhfah : 13/380. Para perawi hadits ini sesuai dengan kriteria yang ditetapkan Shahih Al-Bukhari dan Al-Muslim selain guru An-Nasaa’i yang dikategorikan tsiqah dan WAFIIHI KALAAMUN.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dari Ibnu ‘Umar RA berkata : Rasulullah SAW bersabda :إن الله ليدفع بالمسلم الصالح عن مائة أهل بيت من جيرانه بلاء”Sesungguhnya Allah menghindarkan bala’ berkat seorang laki-laki shalih, seratus keluarga dari tetangganya,”.&amp;nbsp; Lalu Ibn ‘Umar mengutip firman Allah yang Artinya :&amp;nbsp; Seandainya Allah tidak menolak ( keganasan ) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Allah mempunyai karunia ( yang dicurahkan ) atas semesta alam. HR. Thabrani.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dari Tsauban seraya memarfu’kan hadits berkata :لا يزال فيكم سبعة بهم تنصرون وبهم تمطرون وبهم ترزقون حتى يأتي أمرالله”Di tengah kalian senantiasa ada 7 orang wali di mana berkat mereka kalian diberi pertolongan, hujan dan rizki sampai tiba hari kiamat”.Dari ‘Ubadah ibn Shamit RA berkata : Rasulullah SAW bersabda :الأبدال في أمتي ثلاثون , بهم ترزقون وبهم تمطرون وبهم تنصرون&amp;nbsp;”Wali badal ( Abdaal ) dalam ummatku ada 30. Berkat mereka kalian diberi hujan dan mendapat pertolongan”.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Qatadah berkata :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;إني لأرجو أن يكون الحسن منهم&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;”Sungguh saya berharap Hasan Al-Bashri termasuk mereka”. HR. Thabrani.&amp;nbsp;Empat hadits di atas disebutkan oleh Al-Hafidh Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat yang Artinya :&amp;nbsp;&amp;nbsp; \"Seandainya Allah tidak menolak ( keganasan ) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Allah mempunyai karunia ( yang dicurahkan ) atas semesta alam.\" ( Q.S.Al.Baqarah : 251 )Ayat ini layak dijadikan argumen dan dari keempatnya status hadits menjadi shahih.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dari Anas, berkata : Rasulullah SAW bersabda :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;”Bumi tidak akan sepi dari 40 laki-laki seperti Khalilurrahman Ibrahim AS. Berkat mereka kalian disirami hujan dan diberi pertolongan. Jika salah seorang meninggal maka Allah akan menggantinya dengan orang lain.” HR. Thabarani dalam Al-Awsath dan isnad isnad hadits ini hasan. Majma’uz Zawaaid : 2/62.&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;MEDIATOR PALING AGUNG&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dalam hari mahsyar yang notabene hari tauhid, hari iman dan hari dimana ‘Arsy dimunculkan, akan tampak keutamaan mediator paling agung, pemilik panji ( Alliwaa’ al-Ma’qud ), kedudukan terpuji, telaga yang didatangi, pemberi syafaa’t yang diterima syafa’atnya dan tidak sia-sia jaminannya untuk orang yang Allah telah berjanji kepada beliau bahwa Allah tidak akan mengecewakan anggapan beliau, tidak akan menghina beliau selamanya, tidak membuat beliau susah serta malu saat para makhluk datang kepada beliau memohon syafaat. Lalu beliau berdiri kemudian tidak kembali kecuali mendapat baju kebaikan dan mahkota kemuliaan yang tergambar dalam perintah Allah kepada beliau :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;يا محمد , ارفع رأسك واشفع تشفع وسل تعط&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;“Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, berilah syafa’at maka syafa’atmu akan diterima dan mohonlah maka kamu akan diberi !”.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;BAJU KEPALSUAN&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Mereka yang mengklaim memahami substansi permasalahan dan kekanak-kanakkan banyak jumlahnya. Namun sesungguhnya mereka tidak tahu apa-apa dan tidak layak dianggap memahaminya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;وكل يدعى وصلا بليلى وليلى لا تقر لهم بذكا&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Semua mengaku punya hubungan kasih dengan LailaTapi Laila menampik pengakuan merekaFakta menyedihkan ini ditambah lagi dengan sikap mereka yang mencoreng diri sendiri dan merusak reputasi. Sikap mereka tepat dengan apa yang digambarkan secara detail dalam sebuah hadits :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;المتشبع بما لم يعط كلابس ثوبى زور\&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;"Orang yang berpura-pura kenyang dengan sesuatu yang tidak bisa membuat kenyang laksana orang yang mengenakan dua baju kebohongan\".&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Kita, umat Islam mendapat cobaan dengan banyaknya orang-orang seperti di atas. Mereka mengeruhkan kedamaian umat, memecah belah antar kelompok dan menbangkitkan konflik antar sesama saudara dan anak dengan ayahnya.Mereka berusaha meluruskan persepsi-persepsi Islam lewat pintu pendurhakaan terhadap ulama, dan berpegang teguh dengan ajaran-ajaran salaf dengan jalan pengingkaran, dan mengganti kebajikan, tutur kata yang baik dan belas kasih dengan sikap keras, membatu, etika yang buruk dan minimnya simpati.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Diantara para pengklaim adalah mereka yang menganggap mengikuti jalan tasawwuf padahal mereka adalah orang yang paling jauh dari substansi dan essensi tasawwuf. Mereka menodai tasawwuf, mengotori kemuliaanya, merusak ajaranya dan melontarkan kritik pedas terhadap tasawwuf dan para imamnya dari para ahli ma’rifat dan para guru pembimbing.Kami tidak mengenal tahayyul, kebatilan, kebohongan dan tipuan dalam tasawwuf.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Kami juga tidak mengenal teori-teori filsafat, ide-ide luar atau aqidah-aqidah musyrik baik sinkretisme atau manunggaling kawula gusti.&amp;nbsp;Kami lepas tangan kepada Allah dari muatan-muatan sesat tasawwuf dan mengkategorikan semua pandangan yang berlawanan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dan tidak bisa dita’wil adalah kebohongan yang menyusup dan ditambahkan oleh tangan-tangan jahil dan jiwa-jiwa yang lemah.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dengan perilaku yang baik dan budi pekerti yang bersih tampaklah kepahlawanan generasi awal, para tokoh, para imam dan para pahlawannya. Dan tampak di hadapan kita sosok Islam yang paling cemerlang, sempurna, dan contoh paling luhur dan suci. Sejarah telah menginformasikan kepada kita cerita kemuliaan, kebanggaan, kehormatan, keagungan, jihad, perjuangan, dan pelajaran-pelajaran tentang peradaban Islam.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Berangkat dari fakta di muka kami meyakini bahwa kebangkitan-kebangkitan besar tidak akan terbangun kecuali di atas risalah-risalah spiritual dan inspirasi-inspirasi iman dan tidak akan berdiri kecuali di atas etika-etika luhur yang kokoh yang model-modelnya digali dari akidah-akidah suci.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya sifat-sifat etik, psikologis dan spiritual adalah modal dasar bangsa. Ketiga faktor ini adalah asset-asset besar yang membentuk ummat dan mengantarkan umat manusia menuju cita-cita luhur. Orang yang mengkaji sejarah hidup generasi salaf shalih dan tokoh-tokoh sufi di tengah masyarakat, akan melihat bagaimana contoh-contoh ideal dan prinsip-prinsip ini bisa menjadi faktor langsung terjadinya revolusi-revolusi yang nyata, tercatat dan populer dalam sejarah Islam.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Mereka tidak memiliki pengaruh dan kekuatan kecuali iman dalam tatarannya yang paling tinggi. Iman yang panas, berkobar-kobar, dan hidup yang berlandaskan kerinduan dan kecintaan kepada Allah. Sebuah keimanan yang mampu menyalakan api yang menyala-nyala dan menatap selamanya kepada Allah dalam hati para pengikutnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Orang yang mengkaji juga akan melihat bagaimana di tengah mereka seorang laki-laki bisa hidup dalam maqam al-ihsan ( kondisi dimana seseorang merasakan kehadiran Allah ), ia melihat Allah dalam segala sesuatu, dan merasa takut kepada-Nya dalam segala aktivitasnya. Ia senantiasa merasa takut kepada Allah dalam setiap tarikan nafasnya tanpa meyakini adanya penitisan, bersatunya Tuhan dengannya, dan peniadaan eksistensi Tuhan. Iman ini adalah iman yang membangunkan kesadaran holistik dalam kehidupan, menyentak rasa yang dalam akan ketuhanan yang berjalan dalam alam semesta, dan yang hidup dalam sudut-sudut paling dasar dari alam semesta, yang mengetahui apa-apa yang terlintas di hati, bisikan-bisikan rahasia, mata yang mencuri pandang dan apa yang disembunyikan dalam hati.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;ANTARA SEBAIK-BAIK BID’AH DAN SEBURUK-BURUKNYA&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Di antara mereka yang mengklaim memahami substansi permasalahan adalah orang-orang yang menilai diri mereka sebagai salaf shalih. Mereka bangkit mendakwahkan gerakan salafiyah dengan cara biadab dan tolol, fanatisme buta, akal-akal yang kosong, pemahaman-pemahaman yang dangkal dan tidak toleran dengan memerangi segala hal yang baru dan menolak setiap kreativitas yang berguna dengan anggapan bahwa hal itu adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat tanpa memilah klasifikasinya padahal spirit syari’ah Islam mengharuskan kita membedakan bermacam-macam bid’ah dan mengatakan bahwa : sebagian bid’ah ada yang baik dan sebagian ada yang buruk.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Klasifikasi ini adalah tuntutan akal yang cemerlang dan pandangan yang dalam.&amp;nbsp;Klasifikasi bid’ah ini adalah hasil kajian mendalam para sarjana ushul fiqh dari generasi klasik kaum muslimin seperti Al-Imam Al-‘Izz ibn ‘Abdissalaam, Al-Nawaawi, Al-Suyuuthi, Al-Mahalli dan Ibnu Hajar.Hadits-hadits Nabi itu saling menafsirkan dan saling melengkapi. Maka diharuskan menilainya dengan penilaian yang utuh dan komprehensif serta harus menafsirkannya dengan menggunakan spirit dan persepsi syariah dan yang telah mendapat legitimasi dari para pakar.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Karena itu kita menemukan banyak hadits mulia dalam penafsirannya membutuhkan akal yang jernih, fikiran yang dalam, pemahaman yang relevan, dan emosi yang sensitif yang digali dari samudera syari’ah, yang bisa memperhatikan kondisi dan kebutuhan umat, dan mampu menyesuaikan kondisi dan kebutuhan tersebut dalam batasan kaidah-kaidah syari’at dan teks-teks Al-Qur’an dan hadits yang mengikat.Salah satu contoh dari hadits-hadits di muka adalah hadits :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;كل بدعة ضلالة\&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;"Setiap bid’ah itu sesat.\"Bid’ah dalam hadits ini harus ditafsirkan sebagai bid’ah sayyi’ah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;( bid’ah tercela ) yang tidak termasuk dalam naungan dalil syar’i.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Penafsiran semacam ini terjadi pula dalam hadits lain seperti :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;لاصلاة لجار المسجد إلا في المسجد\"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Tidak ada sholatnya seseorang yang tinggal di dekat masjid kecuali dilakukan di masjid.\"Hadits ini meskipun menunjukkan pengkhususan akan tidak sahnya sholat tetangga masjid kecuali di masjid namun keumuman-keumuman hadits memberikan batasan bahwa sholat tersebut tidak sempurna bukan tidak sah, disamping masih adanya perbedaan dalam kalangan ulama.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Seperti hadits :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;لاصلاة بحضرة الطعام&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Tidak ada sholat di hadapan makanan &amp;nbsp;Para ulama menafsirkan bahwa sholat tersebut tidak sempurna.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;لايؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Tidak beriman salah satu dari kalian sehingga mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;والله لايؤمن والله لايؤمن والله لايؤمن ، قيل : من يا رسول الله ؟ قال&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;: من لم يأمن جاره بوائقه .&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman. Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah wahai Rasulullah”. “Seseorang yang tetangganya merasa terganggu dengannya”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Para ulama menafsirkan dengan tidak adanya iman yang sempurna.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;لايدخل الجنة قتات .......... ، لايدخل الجنة قاطع رحم وعاق لوالديه&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Tidak akan masuk sorga orang yang suka mengadu domba…….tidak akan masuk sorga orang yang memutus hubungan kerabat dan yang durhaka kepada kedua orang tuanya.Para ulama menegaskan bahwa yang dimaksud tidak akan masuk sorga ialah tidak akan masuk pertama kali atau tidak masuk sorga jika menilai perbuatan tercela tersebut halal dilakukan.Walhasil, para ulama tidak memahami hadits di atas secara tekstual tapi menafsirkannya dengan bermacam-macam penafsiran yang sesuai.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Hadits di atas yang menjelaskan bid’ah termasuk dalam kategori ini. Keumuman-keumuman hadits dan keadaan-keadaan sahabat memberi kesimpulan bahwa bid’ah yang dimaksud adalah bid’ah tercela yang tidak berada dalam naungan prinsip umum.&amp;nbsp;Dalam sebuah hadits dijelaskan :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;من سنّ سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها إلى يوم القيامة\&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;"Siapapun yang mengawali tradisi yang terpuji maka ia memperoleh pahala darinya dan dari pahala mereka yang mengamalkannya sampai hari kiamat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;\"عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين\"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Berpegamg teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para khulafaurrasyidin sesudah wafat.\"‘Umar ibn Khaththab berkomentar mengenai sholat tarawih : sebaik-baik bid’ah adalah ini (sholat tarawih berjama’ah dalam satu masjid dengan seorang imam).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;PERBEDAAN PASTI ANTARA BID’AH SYAR’IYYAH DAN&amp;nbsp;BID’AH LUGHAWIYYAH&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Sebagian ulama mengkritik pengklasifikasian bid’ah dalam bid’ah terpuji dan tercela. Mereka menolak dengan keras orang yang berpendapat demikian. Malah sebagian ada yang menuduhnya fasik dan sesat disebabkan berlawanan dengan sabda Nabi yang jelas : Setiap bid’ah itu sesat. Teks hadits ini jelas menunjukkan keumuman dan menggambarkan bid’ah sebagai sesat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Karena itu Anda akan melihat ia berkata : Setelah sabda penetap syari’ah dan pemilik risalah bahwa setiap bid’ah itu sesat, apakah sah ungkapan : akan datang seorang mujtahid atau faqih, apapun kedudukannya, lalu ia berkata, “Tidak, tidak, tidak setiap bid’ah itu sesat. Tetapi sebagian bid’ah itu sesat, sebagian baik dan sebagian lagi buruk. Berangkat dari pandangan ini banyak masyarakat terpedaya. Mereka ikut berteriak dan ingkar serta memperbanyak jumlah orang-orang yang tidak memahami tujuan-tujuan syari’ah dan tidak merasakan spirit agama Islam.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Tidak lama kemudian mereka terpaksa menciptakan jalan untuk memecahkan problem-problem yang mereka hadapi dan kondisi zaman yang mereka hadapi juga menekan mereka. Mereka terpaksa menciptakan perantara lain. Yang jika tanpa perantara ini mereka tidak akan bisa makan, minum dan diam. Malah tidak akan bisa mengenakan pakaian, bernafas, menikah serta berhubungan dengan dirinya, keluarga, saudara dan masyarakatnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Perantara ini ialah ungkapan yang dilontarkan dengan jelas : Sesungguhnya bid’ah terbagi menjadi dua ; 1) bid’ah diniyah ( keagamaan ) 2) bid’ah duniawiyyah ( keduniaan ). Subhanallah, mereka yang suka bermain-main ini membolehkan menciptakan klasifikasi tersebut atau minimal telah membuat nama tersebut. Jika kita setuju bahwa pengertian ini telah ada sejak era kenabian namun pembagian ini, diniyyah dan duniawiyyah, sama sekali tidak ada dalam era pembuatan undang-undang kenabian. Lalu dari mana pembagian ini? dan dari mana nama-nama baru ini datang ?&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Orang yang berkata bahwa pembagian bid’ah ke yang baik dan buruk itu tidak bersumber dari Syari’, maka saya akan menjawabnya bahwa pembagian bid’ah ke bid’ah diniyyah yang tidak bisa diterima dan ke duniawiyyah yang diterima, adalah tindakan bid’ah dan mengada-ada yang sebenarnya.&amp;nbsp;Rasulullah SAW sebagai Syari’ bersabda, “Setiap bid’ah itu sesat. Demikianlah beliau mengatakannya secara mutlak. Sedang ia mengatakan tidak, tidak, tidak semua bid’ah itu sesat. Tetapi bid’ah terbagi menjadi dua bagian ; diniyyah yang sesat dan duniawiyah yang tidak mengandung konsekuensi apa-apa.&amp;nbsp;Karena itu harus kami jelaskan di sini sebuah persoalan penting yang dengannya banyak keganjilan akan menjadi jelas, insya Allah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dalam persoalan ini yang berbicara adalah Syari’ yang bijak. Lisan syari’ adalah lisan syar’i. Maka untuk memahami ucapannya harus menggunakan standar syar’i yang dibawa Syari’. Jika Anda telah mengetahui bahwa bid’ah pada dasarnya adalah setiap hal yang baru dan diciptakan tanpa ada contoh sebelumnya maka jangan sampai lenyap dari hatimu bahwa penambahan dan pembuatan yang tercela di sini adalah penambahan dalam urusan agama agar tambahan itu menjadi urusan agama, dan menambahi syari’at agar tambahan itu mengambil bentuk syari’ah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Lalu akhirnya tambahan itu menjadi syari’at yang dipatuhi yang dinisbatkan kepada pemilik syari’ah. Bid’ah model inilah yang mendapat ancaman dari Nabi SAW :&amp;nbsp;من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد\"Barangsiapa menciptakan dalam agama kita, hal baru yang bukan bagian dari agama, maka ia ditolak.\"Garis pemisah dalam tema hadits ini adalah kalimat “ في أمرنا هذا ”.&amp;nbsp;Oleh karena itu pengklasifikasian bid’ah menjadi bid’ah yang baik dan buruk dalam persepsi kami hanya berlaku untuk pengertian bid’ah yang ditinjau dari segi bahasa. Yakni, sekedar menciptakan hal baru. Kami semua tidak ragu bahwa bid’ah dalam kacamata syara’ tidak lain adalah sesat dan fitnah yang tercela, tidak diterima, dan dibenci. Jika mereka yang menolak memahami penjelasan bisa memahami penjelasan ini maka akan tampak bagi mereka bahwa titik temu dari perbedaan itu dekat dan sumber persengketaan itu jauh.&amp;nbsp;Untuk lebih mendekatkan beberapa pemahaman, saya melihat mereka yang mengingkari pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan sayyi’ah, sebenarnya mengingkari pembagian bid’ah dalam tinjauan syara’, dengan bukti mereka membagi bid’ah dalam bid’ah diniyyah dan duniawiyyah, dan penilaian mereka bahwa pembagian ini adalah sebuah keniscayaan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Mereka yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan sayyi’ah memandang bahwa pembagian ini dikaitkan dengan tinjauan bid’ah dari aspek bahasa. Sebab mereka mengatakan bahwa penambahan dalam agama dan syari’at adalah kesesatan dan perbuatan amat tercela. Keyakinan semacam ini tidak diragukan lagi di mata mereka. Dari dua cara pandang yang berbeda ini berarti perbedaan antara dua kelompok ini tidaklah substansial.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Hanya saja saya melihat bahwa kawan-kawan yang mengingkari pembagian bid’ah menjadi hasanah dan sayyiah dan yang berpendapat terbaginya bid’ah menjadi bid’ah diniyyah dan duniawiyyah tidak mampu menggunakan ekspresi bahasa dengan cermat. Hal ini disebabkan ketika mereka memvonis bahwa bid’ah diniyyah itu sesat, – ini adalah pendapat yang benar – dan bid’ah duniawiyyah tidak ada konsekuensi apapun, mereka telah keliru dalam menetapkan hukum. Sebab dengan sikap ini mereka memvonis semua bid’ah duniawiyyah itu boleh. Sikap ini jelas sangat berbahaya dan bisa menimbulkan fitnah dan bencana. Karena itu, persoalan ini wajib dan mendesak untuk dijelaskan secara mendetail.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Yakni mereka mengatakan bahwa bid’ah duniawiyyah ada yang baik dan ada yang buruk sebagaimana fakta yang terjadi, yang tidak diingkari kecuali oleh orang buta yang bodoh. Penambahan kalimat ini harus dilakukan. Untuk mendapatkan pengertian yang tepat, cukuplah kita menggunakan pendapat orang yang berpendapat bahwa bid’ah terbagi menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah. Yang dimaksud bid’ah di sini sudah jelas adalah bid’ah dari aspek bahasa sebagaimana telah dipaparkan di atas. Bid’ah dalam pengertian inilah yang dikatakan dengan bid’ah duniawiyyah oleh mereka yang ingkar terhadap pembagiannya menjadi hasanah dan sayyiah. Pendapat bid’ah terbagi menjadi hasanah dan sayyiah adalah pendapat yang sangat cermat dan hati-hati. Karena pendapat ini mengumandangkan kepada setiap hal baru untuk mematuhi hukum syari’at dan kaidah-kaidah agama, dan mengharuskan kaum muslimin untuk menyelaraskan semua urusan dunia, baik yang bersifat umum atau khusus, sesuai dengan syariat Islam, agar mengetahui hukum Islam yang terdapat di dalamnya, betapapun besarnya bid’ah itu. Sikap semacam ini tidak mungkin direalisasikan kecuali dengan mengklasifikasikan bid’ah dengan tepat dan telah mendapat pertimbangan dari para aimmatul ushul. Semoga Allah meridloi para aimmatul ushul dan meridloi kajian mereka terhadap lafadh-lafadh yang shahih dan mencukupi yang mengantar menuju pengertian-pengertian yang benar, tanpa pengurangan, perubahan atau interpretasi.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;AJAKAN PARA AIMMATUTTASHAWWUF&amp;nbsp;UNTUK MENGAPLIKASIKAN SYARIAH&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Tashawwuf, obyek yang teraniaya dan senantiasa dicurigai, sangat minim mereka yang bersikap adil dalam menyikapinya. Justru sebagian kalangan dengan keterlaluan dan tanpa rasa malu mengkategorikannya dalam daftar karakter negatif yang mengakibatkan gugurnya kesaksian dan lenyapnya sikap adil, dengan mengatakan, “Fulan bukan orang yang bisa dipercaya dan informasinya ditolak.” Mengapa ? Karena ia seorang sufi.&amp;nbsp;Anehnya, saya melihat sebagian mereka yang menghina tashawwuf, menyerang dan memusuhi pengamal tashawwuf bertindak dan berbicara tentang tashawwuf, kemudian tanpa sungkan mengutip ungkapan para imam tashawwuf dalam khutbah dan ceramahnya di atas mimbar-mimbar Jum’at kursi-kursi pengajaran.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dengan gagah dan percaya diri ia mengatakan, “Berkata Fudlail ibn ‘Iyaadl, Al-Junaid, Al-Hasan al-Bashri, Sahl Al-Tusturi, Al-Muhasibi, dan Bisyr al-Haafi.”Fudlail ibn ‘Iyaadl, Al-Junaid, Al-Hasan al-Bashri, Sahl Al-Tusturi, Al-Muhasibi, dan Bisyr al-Haafi adalah tokoh-tokoh tashawwuf yang kitab-kitab tashawwuf penuh dengan ucapan, informasi, kisah-kisah teladan, dan karakter mereka. Jadi, saya tidak mengerti, apakah ia bodoh atau pura-pura bodoh? Buta atau pura-pura buta?Saya ingin mengutip pandangan para tokoh tashawwuf menyangkut syari’ah Islam agar kita mengetahui sikap mereka sesungguhnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Karena yang wajib adalah kita mengetahui seseorang lewat pribadinya sendiri dan manusia adalah orang terbaik yang berbicara mengenai pandangannya dan yang paling dipercaya mengungkapkan apa yang dirahasiakan.Al-Imam Junaid RA berkata : “ Semua jalan telah tertutup bagi makhluk kecuali orang yang mengikuti jejak Rasulullah, sunnahnya dan setia pada jalan ditempuh beliau. Karena semua jalan kebaikan terbuka untuk Nabi dan mereka yang mengikuti jejak beliau.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;”Terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa Abu Yazid Al-Bastomi suatu hari berbicara pada para muridnya, “ Bangunlah bersamaku untuk melihat orang mempopulerkan dirinya sebagai wali. ” Lalu Abu Yazid dan murid-muridnya berangkat untuk mendatangi wali tersebut. Kebetulan wali tersebut hendak menuju masjid dan meludah ke arah kiblat. Abu Yazid pun berbalik pulang dan tidak memberi salam. “ Orang ini tidak dapat dipercaya atas satu etika dari beberapa etika Rasulullah, maka bagaimana mungkin ia dapat dipercaya atas klaimnya tentang kedudukan para wali dan shiddiiqin, “ kata Abu Yazid.Dzunnuun Al Mishri berkata, \"Poros dari segala ungkapan ( madaarul Kalam ) ada empat; Cinta kepada Allah Yang Maha Agung, benci kepada yang sedikit, mengikuti Al-Quran, dan khawatir berubah menjadi orang celaka.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Salah satu indikasi orang yang cinta kepada Allah adalah mengikuti kekasih Allah Saw dalam budi pekerti, tindakan, perintah dan sunnahnya.\"As-Sirri As-Siqthi berkata, “Tashawwuf adalah identitas untuk tiga makna ; Shufi (pengamal tashawwuf) adalah orang yang cahaya ma’rifatnya tidak memadamkan cahaya wara’nya, tidak berbicara menggunakan bathin menyangkut ilmu yang bertentangan dengan pengertian lahirial Al-Kitab dan As-Sunnah, dan karomahnya tidak mendorong untuk menyingkap tabir-tabir keharaman Allah.&amp;nbsp;Abu Nashr Bisyr ibn Al Harits Al Hafi berkata, “ Saya bermimpi bertemu Nabi Saw. “ Wahai Bisyr, tahukah kamu kenapa Allah meninggikan derajatmu mengalahkan teman-temanmu? Tanya Beliau. “ Tidak tahu, Wahai Rasulullah,” Jawabku. “ Sebab Engkau mengikuti sunnahku, mengabdi kepada orang salih, memberi nasihat pada teman-temanmu dan kecintaanmu kepada para sahabat dan keluargaku. Inilah faktor yang membuatmu meraih derajat orang-orang yang baik ( Abror ).”Abu Yazid ibn ‘Isa ibn Thoifur Al-Bashthomi berkata, “Sungguh terlintas di hatiku untuk memohon kepada Allah agar mencukupi biaya makan dan biaya perempuan, kemudian saya berkata. “Bagaimana boleh saya memohon ini kepada Allah padahal Rasulullah tidak pernah memohon demikian.” Akhirnya saya tidak memohon ini kepada Allah. Kemudian Allah mencukupi biaya para perempuan hingga saya tidak peduli, apakah perempuan menghadapku atau tembok.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Abu Yazid juga pernah berkata, “Jika engkau memandang seorang laki-laki diberi beberapa karomah hingga ia mampu terbang di udara, maka janganlah engkau tertipu sampai engkau melihat bagaimana sikapnya menghadapi perintah dan larangan Allah, menjaga batas-batas yang digariskan Allah dan pelaksanaannnya terhadap syari’ah.”&amp;nbsp;Sulaiman Abdurrahaman ibn ‘Athiah Al-Daaraani berkata, “Terkadang, selama beberapa hari terasa di hatiku satu noktah dari beberapa noktah masyarakat. Saya tidak menerima isi dari hati saya kecuali dengan dua saksi adil ; Al-Qur’an dan Al-Sunnah.&amp;nbsp;Abul Hasan Ahmad ibn Abil Hawaari berkata, “Siapapun yang mengerjakan perbuatan tanpa mengikuti sunnah Rasulullah maka perbuatan itu sia-sia.”&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Abu Hafsh ‘Umar ibn Salamah Al-Haddaad berkata, “Barangsiapa yang tidak mengukur semua tindakannya setiap saat dengan Al-Kitab dan Al-Sunnah, dan tidak berburuk sangka dengan apa yang terlintas dalam hatinya, maka janganlah ia dimasukkan dalam daftar para tokoh besar ( diwaanirrijaal ). &amp;nbsp;Abul Qasim Al-Junaid ibn Muhammad berkata, “Siapapun yang tidak memperhatikan Al-Qur’an dan tidak mencatat Al-Hadits, ia tidak bisa dijadikan panutan dalam bidang ini (tashawwuf), karena ilmu kita dibatasi dengan Al-Kitab dan Al-Sunnah.”Ia juga berkata, “ Madzhabku ini dibatasi dengan prinsip-prinsip Al-Kitab dan Al-Sunnah dan ilmuku ini dibangun di atas fondasi hadits Rasulullah.”&amp;nbsp;Abu ‘Utsman Sa’id ibn Ismail Al-Hairi berkata, “Saat sikap Abu Utsman berubah, maka anaknya, Abu Bakar merobek-robek qamis yang melekat pada tubuhnya, lalu Abu ‘Utsman membuka matanya dan berkata, “Wahai Anakku, mempraktekkan sunnah dalam penampilan lahiriah itu indikasi kesempurnaan batin.”Ia juga berkata, “Bersahabat dengan Allah itu dengan budi pekerti yang luhur dan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;senantiasa takut kepada-Nya. Bersahabat dengan Rasulullah itu dengan mengikuti sunnahnya dan senantiasa mempraktekkan ilmu lahiriah. Bersahabat dengan para wali dengan menghormati dan mengabdi. Bersahabat dengan keluarga itu dengan budi pekerti yang baik. Bersahabat dengan kawan-kawan itu dengan senantiasa bermuka manis sepanjang bukan perbuatan dosa. Dan bersahabat dengan orang bodoh itu dengan mendoakan dan rasa belas kasih.&amp;nbsp;Ia juga berkata, “Barangsiapa yang memposisikan As-Sunnah sebagai pimpinannya dalam ucapan dan tindakan maka ia akan berbicara dengan hikmah. Dan barangsiapa memposisikan hawa nafsu sebagai pimpinannya dalam ucapan dan tindakan maka ia akan berbicara dengan bid’ah. Allah SWT berfirman yang Artinya : &amp;nbsp;\"Jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.\" ( Q.S.An.Nuur : 54 )Abul Hasan Ahmad ibn Muhammad Al-Nawawi mengatakan, “Jika engkau melihat orang yang mengklaim kondisi bersama Allah yang membuatnya terlepas dari batasan ilmu syari’at maka janganlah engkau mendekatinya.”Abul Fawaris Syah ibn Syuja’ Al-Karmani berkata, “Barangsiapa memejamkan matanya dari hal-hal yang diharamkan, mengendalikan nafsunya dari syahwat, menghidupkan bathinnya dengan senantiasa merasakan kehadiran Allah ( muraqabat ) dan menghidupkan keadaan lahiriahnya dengan mengikuti sunnah, dan membiasakan diri memakan barang halal, maka firasatnya tidak akan meleset.”Abul Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Sahl ibn ‘Atha’ mengatakan, “Barangsiapa menekan dirinya untuk mengamalkan etika-etika syari’at maka Allah akan menerangi hatinya dengan cahaya ma’rifat dan dianugerahi kedudukan mengikuti Al-Habib Rasulullah SAW dalam segala perintah, larangan dan budi pekerti beliau SAW.”&amp;nbsp;Ia juga mengatakan, “Semua yang ditanyakan kepadaku carilah pada belantara syari’at. Jika engkau tidak menemukannya, carilah di medan hikmah. Jika tidak menemukannya, takarlah dengan tauhid. Dan jika tidak menemukannya di tiga tempat pencarian ini, maka lemparkanlah ia ke wajah setan.”&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Abu Hamzah Al-Baghdadi Al-Bazzar mengatakan, “Siapapun yang mengetahui jalan Allah maka Dia akan memudahkan untuk menempuhnya. Dan tidak ada petunjuk jalan menuju Allah kecuali mengikuti Rasulullah SAW dalam sikap, tindakan dan ucapan beliau.”&amp;nbsp;Abu Ishaq Ibrahim ibn Dawud Al-Ruqi mengatakan, “ Indikator cinta kepada Allah adalah memprioritaskan ketaatan kepada Allah dan mengikuti Nabi-Nya SAW.”Mamsyad Ad-Dinawari berkata, “Etika murid adalah selalu dalam menghormati masyayikh ( guru ), membantu kawan-kawan, terlepas dari faktor-faktor penyebab, dan menjaga etika syari’at untuk dirinya.”&amp;nbsp;Abu Abdillah ibn Munazil berkata, “Tidak ada seseorangpun yang menelantarkan salah satu kefardluan Allah kecuali Allah akan menimpakan musibah dengan menyia-nyiakan sunnah. Dan Allah tidak menimpakan musibah seseorang dengan menelantarkan sunnah kecuali ia hendak diberi musibah dengan bid’ah.”&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;SUBSTANSI KELOMPOK&amp;nbsp;IMAM ABUL HASAN AL-ASY’ARI ( ASYA’IRAH )&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Banyak kaum muslimin tidak mengenal madzhab Al-Asya’irah ( kelompok ulama penganut madzhab Imam Asy’ari ) dan tidak mengetahui siapakah mereka, dan metode mereka dalam bidang aqidah. Sebagian kalangan, tanpa apriori, malah menilai mereka sesat atau telah keluar dari Islam dan menyimpang dalam memahami sifat-sifat Allah.&amp;nbsp;Ketidaktahuan terhadap madzhab Al-Asya’irah ini adalah faktor retaknya kesatuan kelompok ahlussunnah dan terpecah-pecahnya persatuan mereka, sehingga sebagian kalangan yang bodoh memasukkan Al-Asya’irah dalam daftar kelompok sesat. Saya tidak habis pikir, mengapa kelompok yang beriman dan kelompok sesat disatukan ? Dan mengapa ahlussunnah dan kelompok ekstrim mu’tazilah (Jahmiyyah) disamakan ?35. \"Maka Apakah patut Kami menjadikan orng-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa ( orang kafir ).\" ( Q.S.Al.Qalam : 35 )Al-Asya’irah adalah para imam simbol hidayah dari kalangan ulama muslimin yang ilmu mereka memenuhi bagian timur dan barat dunia dan semua orang sepakat atas keutamaan, keilmuan dan keagamaan mereka. Mereka adalah tokoh-tokoh besar ulama ahlissunnah yang menentang kesewenang-wenangan mu’tazilah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dalam versi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Al-Asya’irah digambarkan sbb : Para ulama adalah pembela ilmu agama dan Al-Asya’irah pembela dasar-dasar agama ( ushuluddin ). Al-Fataawaa, volume 4.Al-Asya’irah ( penganut madzhab Al-Asy’ari ) terdiri dari kelompok para imam ahli hadits, ahli fiqih dan ahli tafsir seperti :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;• Syaikhul Islam Ahmad ibn Hajar Al-‘Asqalani, yang tidak disangsikan lagi sebagai gurunya para ahli hadits, penyusun kitab Fathul Baari ‘ala Syarhil Bukhaari.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;• Syaikhu Ulamai Ahlissunnah, Al-Imam An-Nawaawi, penyusun Syarh Shahih Muslim, dan penyusun banyak kitab populer.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;• Syaikhul Mufassirin Al-Imam Al-Qurthubi penyusun tafsir Al-Jaami’ li Ahkaamil Qur’an.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;• Syaikhul Islam Ibnu Hajar Al-Haitami, penyusun kitab Az-Zawaajir ‘aniqtiraafil Kabaa’ir.• Syaikhul Fiqh , al-hujjah ( argumentasi ) dan ats-tsabat ( tokoh ulama yang dipercaya ) Zakaaria Al-Anshari.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;• Al-Imam Abu Bakar Al-Baaqilani&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;• Al-Imam Al-Qashthalani.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;• Al-Imam An-Nasafi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;• Al-Imam Asy-Syarbini&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;• Abu Hayyan An-Nahwi, penyusun tafsir Al-Bahru Al-Muhith.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;• Al-Imam Ibnu Juza, penyusun At-Tashil fi ‘Uluumittanziil.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Seandainya kita menghitung jumlah ulama besar dari ahli hadits, tafsir dan fiqh dari kalangan Al-Asya’irah, maka keadaan tidak akan memungkinkan dan kita membutuhkan beberapa jilid buku untuk merangkai nama para ulama besar yang ilmu mereka memenuhi wilayah timur dan barat bumi. Adalah salah satu kewajiban kita untuk berterimakasih kepada orang-orang yang telah berjasa dan mengakui keutamaan orang-orang yang berilmu dan memiliki kelebihan yakni para tokoh ulama, yang telah mengabdi kepada syari’at junjungan para rasul Muhammad SAW.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Kebaikan apa yang bisa kita peroleh jika kita menuding para ulama besar dan generasi salaf shalih telah menyimpang dan sesat ? Bagaimana Allah akan membukakan mata hati kita untuk mengambil manfaat dari ilmu mereka bila kita meyakini mereka telah menyimpang dan tersesat dari jalan Islam?Saya ingin bertanya, “Adakah dari para ulama sekarang dari kalangan doktor dan orang-orang jenius, yang telah mengabdi kepada hadits Nabi SAW sebagaimana dua imam besar ; Ibnu Hajar Al-‘Asqqalani dan Al-Imam An-Nawawi, semoga Allah melimpahkan rahmat dan keridloan kepada mereka berdua.” Lalu mengapa kita menuduh sesat mereka berdua dan ulama Al-Asya’irah yang lain, padahal kita membutuhkan ilmu-ilmu mereka ? Mengapa kita mengambil ilmu dari mereka jika mereka memang sesat? Padahal Al-Imam Ibnu Sirin rahimakumullah pernah berkata : Ilmu hadits ini adalah agama maka perhatikan dari siapa kalian mengambil agama kalian.&amp;nbsp;Apakah tidak cukup bagi orang yang tidak sependapat dengan para imam di atas, untuk mengatakan, “Mereka rahimahullah telah berijtihad dan mereka salah dalam menafsirkan sifat-sifat Allah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Maka yang lebih baik adalah tidak mengikuti metode mereka.” Sebagai ganti dari ungkapan kami menuduh mereka telah menyimpang dan sesat dan kami marah atas orang yang mengkategorikan mereka sebagai ahlussunnah.&amp;nbsp;Bila Al-Imam An-Nawawi, Al-‘Asqalani, Al-Qurthubi, Al-Fakhrurrazi, Al-Haitami dan Zakaria Al-Anshari dan ulama besar lain tidak dikategorikan sebagai ahlussunnah wal jama’ah, lalu siapakah mereka yang termasuk ahlussunnah wal jama’ah?.Sungguh, dengan tulus kami mengajak semua pendakwah dan mereka yang beraktivitas di medan dakwah Islam untuk takut kepada Allah dalam menilai ummat Muhammad, khususnya menyangkut tokoh-tokoh besar ulama dan fuqaha’. Karena, ummat Muhammad tetap dalam kondisi baik hingga tiba hari kiamat. Dan tidak ada kebaikan bagi kita jika tidak mengakui kedudukan dan keutamaan para ulama kita sendiri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;ESENSI-ESENSI YANG SELESAI DENGAN KAJIAN&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Polemik berkembang di antara ulama menyangkut banyak substansi persoalan dalam bidang aqidah, yang Allah tidak membebani kita untuk mengkajinya. Dalam pandangan saya polemik ini telah menghilangkan keindahan dan keagungan substansi masalah ini. Misalkan, pro kontra para ulama menyangkut melihatnya Nabi SAW kepada Allah dan bagaimana cara melihatnya, dan perbedaan yang luas antara mereka menyangkut persoalan ini. sebagian berpendapat Nabi melihat Allah dengan hatinya, dan sebagian berpendapat dengan mata. Kedua kubu ini sama-sama mengajukan argumentasi dan membela pendapatnya dengan hal-hal yang tak berguna.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Dalam pandangan saya perbedaan ini tidak berguna sama sekali. Justru menimbulkan dampak negatif yang lebih besar dibanding manfaat yang didapat. Apalagi jika masyarakat awam mendengar polemik yang pasti menimbulkan keragu-raguan di hati mereka ini. Jika kita mau mengesampingkan polemik ini dan menganggap cukup dengan menyajikan sunstansi persoalan ini apa adanya maka niscaya persoalan ini tetap dimuliakan dan dihargai dalam sanubari kaum muslimin, dengan cara kita mengatakan bahwa Rasulullah SAW melihat Tuhannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Cukup kita berkata demikian sedangkan menyangkut cara melihat dan lain sebagainya biarlah menjadi urusan Nabi.&amp;nbsp;&lt;b&gt;وكلم الله موسى تكليم&lt;/b&gt;ا*Salah satu subsatansi persoalan di atas adalah polemik yang berkembang di antara para ulama menyangkut substansi firman Allah SWT dan perbedaan luas dalam masalah ini. sebagian berpendapat bahwa firman Allah adalah suara hati ( kalam nafsi ) dan sebagian lagi berpendapat bahwa kalam Allah berhuruf dan bersuara. Saya sendiri berpendapat kedua pihak ini sama-sama mencari substansi mensucikan Allah dan menjauhi syirik dalam berbagai bentuknya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Persoalan kalam ( firman Allah ) adalah kebenaran yang tidak bisa diingkari, karena tidak meniadakan kesempurnaan ilahi. Ini adalah pandangan dari satu aspek. Ditinjau dari aspek lain, sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an wajib dipercayai dan ditetapkan, karena tidak ada yang mengetahui Allah kecuali Allah sendiri.&amp;nbsp;Apa yang saya yakini dan saya ajak adalah menetapkan kebenaran ini tanpa perlu membicarakan bagaimana cara dan bentuknya. Kita tetapkan bahwa Allah memiliki sifat kalam dan berkata : Ini adalah kalam Allah dan Allah SWT adalah Dzat yang berbicara. Kita cukup berbicara seperti ini dan menjauhi mengkaji apakah kalam itu kalam nafsi atau kalam yang bukan nafsi yang berhuruf dan bersuara atau tidak berhuruf dan tidak bersuara.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Karena pembahasan seperti ini berlebihan, yang Nabi Muhammad sebagai pembawa tauhid tidak pernah membicarakannya. Lalu mengapa kita menambahkan apa yang datang dibawa oleh Nabi ? Bukankah hal semacam ini adalah salah satu bid’ah terburuk ? Subhaanaka Haadzaa Buhtaanun ‘Adhiim.&amp;nbsp;Rasulullah SAW mengabarkan kepada kita tentang kalam pada saat kita berkumpul dengan beliau di sisi Allah SWT.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Kami mengajak agar pembicaraan kita selamanya menyangkut substansi kalam dan masalah sejenis terlepas dari pembahasan mengenai cara dan bentuknya.إني أراكم من خلفي*Saya Mampu Melihatmu dari BelakangSalah satu subsatansi persoalan di atas adalah polemik yang terjadi di antara ulama menyangkut substansi sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya saya bisa melihat kalian dari belakang sebagaimana dari arah depan.” Sebagian ulama berpendapat bahwa Allah SWT menciptakan dua mata di arah belakang.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Sebagian berpendapat bahwa Allah SWT menjadikan kedua mata beliau yang di depan memiliki kekuatan yang mampu menembus bagian belakang. Sebagian lagi berpendapat bahwa Allah SWT membalik obyek yang ada di belakang Nabi sehingga berada di depan beliau. Semua ini adalah interpretasi berlebihan yang membuat persoalan ini kehilangan keindahan dan keelokannya sekaligus meredupkan kewibawaan dan keagungannya di hati manusia.&amp;nbsp;Adapun keberadaan Nabi mampu melihat orang yang berada di belakang sebagaimana melihat orang yang ada di depan maka ini adalah fakta yang telah disampaikan beliau sendiri dalam hadits shahih.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Maka tidak ada ruang sama sekali untuk membantahnya. Namun apa yang saya ajak dan menjadi pendapat saya adalah menetapkan fakta ini apa adanya tanpa perlu mengkaji cara dan bentuknya. Kita wajib meyakini kemungkinan terjadinya dan dampaknya, dengan cara menyaksikan salah satu hal yang di luar kebiasaan yang meminggirkan faktor penyebab untuk menampakkan kekuasaan Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa serta kedudukan Rasulullah SAW.&amp;nbsp;جبريل يتمثل رجلا*Jibril Menyamar sebagai Seorang LelakiPara ulama bersilang sengketa menyangkut penyamaran Jibril AS saat datang membawa wahyu dalam bentuk seorang lelaki padahal fisik Jibril sangat luar biasa besar.Sebagian berpendapat bahwa Allah membuang kelebihan dari fisiknya. Sebagian lain menyatakan sebagian fisiknya menyatu dengan yang lain sehingga menyusut menjadi kecil. Menurut hemat saya interpretasi ini tidak berguna. Saya meyakini Allah mampu membuat Jibril menyamar dalam bentuk seorang laki-laki dan ini merupakan fakta yang telah disaksikan oleh banyak sahabat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Bagi saya tidaklah penting mengetahui cara penyamaran Jibril dalam bentuk seorang laki-laki dan saya mengajak saudara-saudara kita sesama pelajar untuk menyampaikan fakta ini tanpa perlu menyinggung perbedaan-perbedaan yang menyertainya agar fakta ini tetap besar dan agung dalam hati.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS'; text-align: justify;"&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.pejuangislam.com/main.php?prm=karya&amp;amp;var=detail&amp;amp;id=43" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;http://www.pejuangislam.com&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4788195323343721298-5073600347281111234?l=zonaislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zonaislami.blogspot.com/feeds/5073600347281111234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/paham-paham-yang-harus-diluruskan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/5073600347281111234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/5073600347281111234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/paham-paham-yang-harus-diluruskan.html' title='PAHAM-PAHAM YANG HARUS DILURUSKAN'/><author><name>RUSLI HANDREAS</name><uri>https://profiles.google.com/115119439115727042883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-lp3AWZIT08g/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAWk/wPJaC5ozMcM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4788195323343721298.post-7959780102303481542</id><published>2012-02-27T14:43:00.000+07:00</published><updated>2012-02-27T14:43:52.709+07:00</updated><title type='text'>HABIB AHMAD BIN HASAN AL ATHTHAS dari Sekilas tentang Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas berkata :&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• “Sesungguhnya terlalu memfasih-fasihkan bacaan adalah bid’ah. Andaikata salaf membaca Al-Qur’an seperti mereka yang suka memfasih-fasihkan bacaannya, tentu mereka tidak dapat menghatamkan Al-Qur’an dalam semalam.”&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;“Imam Ghazali juga pernah berkata bahwa hudhur dan khusyu’ dalam membaca Al-Qur’an tidak mungkin dapat dirasakan oleh orang yang membaca Al-Qur’an dengan terlalu memfasihkan huruf dan memberi tekanan berlebihan pada tasyhid-tasyhidnya. Andaikata kalian curahkan seluruh konsentrasi kalian untuk merenungkan makna rahmat, pujian, rububiyyah, kekuasaan Allah SWT ( al-Malik) penghambaan, permohonan, permohonan hidayah, shirotol mustaqim yang ada dalam Fatihah, maka itu lebih baik.”&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• “Jika kau membaca ayat sajdah dan pada saat itu kau berada di tempat yang tidak layak untuk sujud; maka bayangkanlah seakan-akan dirimu berada di tempat &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;yang mulia, seperti Masjidil Haram atau Masjid-masjid lainnya. Setelah itu sujudlah dengan hatimu. Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam bukunya yang berjudul Al-Ghunyah mengatakan :”Jika kau berdiri mengerjakan sholat, maka bayangkanlah seakan-akan kau sedang menghadap Ka’bah dan saksikanlah Ka’bah itu dengan hatimu. Niscaya kau akan meningkat ke maqom yang lain,”&lt;br /&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• “Setiap zaman ada 124.000 wali dan setiap wali mewarisi hal dari Nabi SAW. Di antara mereka ada yang tahu dirinya wali, tapi ada juga yang tidak tahu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• “Amal dan niat saleh akan menyebabkan timbulnya kewibawaan pada diri seseorang. Ia akan tampak beda dengan orang lain, ucapannya didengar dan bermanfaat. Sebaliknya, amal dan niat buruk akan menyebabkan pelakunya diselimuti kegelapan”&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• “Manusia punya dua sayap yang dapat ia gunakan untuk terbabg ke tempat yang mulia, yaitu Niat dan Himmah ( semangat, tekad ). Sedangkan penghuni zaman ini berpijak pada salah satu diantara keduanya. Ada yang memiliki niat, tapi tidak memiliki himmah. Ada yang himmahnya besar, tapi belum memiliki niat. Jika seseorang punya niat, kemudian memperoleh himmah, maka Allah swt akan memperhatikannya dan akan menyampaikannya pada tujuan. Niat itu sebelum himmah dan himmah sebelum amal.”&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Imam Junaid rhm berkata :”barang siapa membuka bagi dirinya satu pintu niat baik, maka Allah swt membukakan baginya 70 pintu taufiq. Dan barang siapa membukakan untuk dirinya satu pintu niat buruk, maka Allah swt membukakan untuknya 70 pintu khidzlan ( dorongan untuk bermaksiat ).”&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Thoriqoh salaf Alawiyin adalah zhohirnya Ghazaliah dan bathinnya Syazaliah. Jika seseorang berkonsentrasi pada amal, maka ia akan mengerjakan amal tanpa ruh. Namun, jika ia meninggalkan amal dan banyak berharap kepada Allah swt, ia akan miskin amal saleh.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Ikutilah salaf! Barang siapa ingin beribadah kepada Allah swt, hendaknya bertanya bagaimana cara salaf beribadah. Barang siapa ingin mengajar atau belajar, memberi manfaat atau mengambil manfaat, maka hendaknya ia bertanya bagaimana cara salaf melakukan semua itu, dan tidak mengikuti jalan pikirannya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Di dunia ini aku tidak pernah iri kepada seorang wali, raja atau lainnya; aku hanya iri kepada orang yang mengikuti salaf dan meneladani Nabi saw. Kebaikan terletak dalam mengikuti salaf saleh, mempelajari buku-buku mereka, dan meneladani ibadah, adab, akhlaq dan perilaku mereka. Orang yang mengikuti salaf tidak akan salah dan lelah.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Kerjakanlah shalat karena Allah swt memerintahkannya. Jadikanlah makna segala sesuatu sebagai tujuanmu. Jangan jadikan cara pengucapan huruf ( makhraj )dan sejenisnya sebagai pusat perhatianmu dalam sholat. Tapi amati dan renungkan ( tadabbur ) makna ayat yang kau baca. Apa yang menghalangimu untuk merenungkan makna basmalah, arti rahmat ayat pertama dan makna syukur. Renungkan tentang Pemberi nikmat dan Pemelihara alam, makna rahmat di ayat ke tiga, makna raja dan penguasa, makna ibadah, pertolongan, hidayah, shirotol mustaqim dan orang-orang yang berjalan diatasnya, yaitu orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah swt. Renungkan tentang orang-orang yang berpaling, yakni orang-orang yang dimurkai Allah swt.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• “Musibah pertama yang menimpa masyarakat adalah peremehan mereka terhadap usaha menghafal Al-Qur’an. Musibah kedua adalah berpalingnya mereka dari buku-buku salaf.”&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang tidak akan meninggalkanmu di dunia maupun di akhirat. Ilmu adalah Alat. Meskipun ilmu itu baik, tapi hanyalah alat, bukan tujuan. Ilmu digunakan hanya untuk mencapai tujuan. Ilmu harus diiringi adab, akhlaq danniat-niat saleh. Ilmu demikian inilah yang dapat mengantarkan seseorang kepada maqam-maqam yang tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Pelajarilah ilmu, tanamkan dalam hati niat untuk mengamalkannya, maka Allah swt akan mengembalikan semua yang hilang dari kalian.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Jika kau membaca sesuatu dan tidak dapat memahaminya, atau hatimu tidak hadir sewaktu membacanya, maka ulangila lagi di waktu yang lain. Sebab setiap waktu memilki rahasia yang berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Barang siapa mendahulukan ikhlas sebelum amal, maka ia tidak akanbisa beramal. Tapi hendaknya ia beramal, kemudian menuntut dirinya untuk ikhlas. Seseorang tidak seharusnya menuntut kesempurnaan, baik dari dirinya sendiri maupun orang lain. Sebab jika ia menuntut kesempurnaan dari dirinya, ia tidak akan beramal. jika ia menuntut kesempurnaan dari orang lain, ia tidak akan memandang mulia seorang pun, ia bahkan akan memandang rendah semua orang.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Setiap kebajikan terasa berat bagi “NAFS”. Tapi jika dipaksakan, ia akan terbiasa dan dapat mengerjakannya dengan mudah. Sebagian orang jika melihat “NAFS”nya benci pada perbuatan baik, ia mengikuti “NAFS”nya dan cenderung kepadanya. Ia selalu berbuat demikian, hingga tidak mampu lagi berbuat baik. Akhirnya, hatinya menjadi keras. Sebenarnya jika hati mau menghadap Allah swt, Allah swt akan menghadap kepadanya. Jika berpaling, Allah swt pun akan berpaling darinya. Sifat “NAFS” adalah suka menentang dan mudah bosan. Jika kau membiasakannya dengan kebaikan, ia akan menjadi baik; tapi jika kau membiasakannya dengan keburukan, ia akan menjadi buruk.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Manusia hendaknya menyibukkan “NAFS”nya dengan amal-amal yang bermanfaat baginya. “NAFS” akan terbiasa dengan apa yang dibiasakan kepadanya. Orang yang terbiasa banyak bicara, menghadiri majelis yang penuh kelalaian dan permainan, maka hatinya merasa berat untuk membaca Al-Qur’an.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Hati yang bersih siap menerima karunia-karunia Allah swt. Sedang hati yang kotor tidak dapat menampung karunia Allah swt.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Hati manusia seperti Baitul Ma’mur. Setiap hari ada 70.000 malaikat yang thawaf mengelilinginya hingga hari kiamat. Dalam 24 jam hati 70.000 bisikan dan setiap bisikan dipegang oleh seorang malaikat.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Orang yang berharta, hendaknya banyak berderma dan bersedekah di jalan Allah swt. Yang berilmu, hendaknya mencurahkan semua tenaganya untuk mengajar. Yang mempunyai kedudukan, hendaknya berusaha mendamaikan orang-orang yang dizalimi. Yang berdagang dan menekuni pekerjaan lainnya, hendaknya jujur kepada kaum muslimin dan melakukan pekerjaannya dengan sempurna.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaknya memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah swt kepadanya. Allah swt tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah swt berikan kepadanya. Allah swt kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.(QS Ath-Thalaq, 65:7).&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Di dunia ini manusia harus memiliki empat sifat :&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;1. Sabar terhadap yang dibenci dan disukai.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;2. Melayani dengan baik dan memuaskan hati(jabr) orang yang baik maupun jahat.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;3. Memiliki akal yang dapat membedakan segala sesuatu.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;4. Memilki niat saleh dalam semua hal agar tercapai keinginannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Jika seseorang ingin memperoleh rasa takut kepada Allah swt, maka hendaknya ia melihat orang yang memilki rasa takut. Jika ingin khusyu’ maka hendaknya ia melihat orang yang khusyu’. Manusia adalah magnet untuk dirinya dan orang lain. Manusia biasanya mencuri watak orang yang dilihatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Hanya prasangka baik kepada Allah swt dan hamba-hambanyalah yang dapat membuka pintu-pintu kebajikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;“Dua hal yang tidak ada sebuah kebaikan pun yang dapat mengungguli keduanya, yaitu prasangka baik kepada Allah swt dan prasangka baik kepada makhluk Allah swt. Dan dua hal yang tidak ada sebuah keburukan yang dapat mengunggulinya, yaitu prasangka buruk kepada Allah swt dan prasangka buruk kepada makhluk Allah swt.” (Al-Hadits)&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Setiap orang memiliki 360 urat. Ada urat yang akan mendorongnya untuk berbuat kebaikan, dan ada yang akan menggerakkannya untuk berbuat kejahatan. Jika melihat orang saleh, urat-urat kebaikan akan menggerakkannya untuk berbuat baik. Jika melihat orang durhaka, maka urat-urat keburukannya akan menggerakkannya untuk berbuat jahat.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Orang yang mudah iri, menyangka bahwa semua orang iri; orang yang suka bermaksiat menyangka bahwa semua orang suka bermaksiat; dan orang yang saleh menyangka semua orang gemar berbuat kebaikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Jika kau memandang seorang yang saleh dan istiqomah, khusyu’ dan wara’, lalu kau bandingkan akhlaqmu dengan akhlaqnya. Amalmu dengan amalnya, keadaanmu dengan keadaannya; maka kau akan mengetahui aib dan kekuranganmu. Setelah itu akan mudah bagimu untuk memperbaiki ucapan dan perbuatanmu yang salah, lahir maupun batin. Itulah sebabnya kita dianjurkan untuk bergaul dengan orang-orang yang saleh dan mulia, serta dilarang bergaul dengan selain mereka. Sebab watak seseorang akan mencuri watak orang lain. Jika tidak kau temukan teman duduk yang saleh, pelajarilah buku, sifat, riwayat hidup dan semua prilaku kaum sholihin.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Ada dua orang yang tidak boleh kau pegang pendapatnya, yaitu orang yang selalu mengikuti kata hatinya dan orang yang tidak melaksanakan pendapatnya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Jangan berselisih dengan anakmu dan jangan pula bersikap keras kepadanya. Ajak dan perintahkan untuk berbuat kebaikan. Jika ia tidak patuh, jauhilah dia dengan santun dan penuh perhatian.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Habib abu Bakar bin Abdullah Al-Atthas dahulu melarang seseorang bergaul dengan Ahli bid’ah, orang-orang yang aqidahnya menyimpang dan orang-orang yang merendahkan kaum sholihin, Para Wali dan Ulama. Jika melewati tempat yang ada orang-orang yang memiliki salah satu sifat di atas, beliau menutupi kepalanya dan berjalan dengan cepat.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Sholatlah di belakang orang yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh, dan sholatkanlah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh. ( Hadits )&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Orang –orang di Zaman akhir ini lebih mengutamakan harta mereka dibanding diri mereka sendiri. Mereka kikir dan tidak memperdulikan apa yang menimpa mereka. Mereka abaikan Hak Allah swt, Allah swt pun lalu menundukkan mereka di bawah kekuasaan orang yang tidak mengasihi mereka. Adapun orang-orang terdahulu, mereka menjadikan harta mereka sebagai perisai dan pelindung dari segala bencana.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Jika seseorang senantiasa taat, maka Allah swt akan memberinya rejeki. Allah swt tidak akan membiarkannya begitu saja tanpa harta.Allah swt telah memberi kalian rejeki, tapi kalian menghambur-hamburkan rejeki itu bukan pada tempatnya. Tunaikanlah kewajiban zakat, janganlah kalian kurangi.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Segala kesedihan yang dapat hilang dengan uang, bukanlah kesedihan.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Jika dalam hatimu terlintas bisikan buruk atau ajakan untuk bermaksiat, angkatlah kepalamu ke langit lalu ucapkan :”Allah….. dengan satu nafas. Perbuatan ini akan membakar dan menghapus dengan seketika bisikan-bisikan buruk dalam hati. Hikmah dari menengadahkan kepala ke langit adalah karena setan tidak dapat mendatangi manusia dari atas kepalanya. Allah Ta’ala berfirman : “Kemudian Saya (iblis) akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka.(QS Al-A’raf, 7:17). Allah swt tidak mengatakan bahwa iblis akan mendatangi mereka dari atas.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;• Habib Ahmad bin hasan Al-Atthas selalu membaca surat Al-Waqiah di waktu Ashar. Beliau berkata :”Sayyidil Wujud (Nabi Muhammad saw) lah yang memerintahkanku untuk membacanya di waktu Ashar.”&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 13px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="https://www.facebook.com/note.php?note_id=10150493827903904" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;(Dikutip dari buku “Sekilas tentang Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas; Novel Muhammad Al-Aydrus)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4788195323343721298-7959780102303481542?l=zonaislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zonaislami.blogspot.com/feeds/7959780102303481542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/habib-ahmad-bin-hasan-al-aththas-dari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/7959780102303481542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/7959780102303481542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/habib-ahmad-bin-hasan-al-aththas-dari.html' title='HABIB AHMAD BIN HASAN AL ATHTHAS dari Sekilas tentang Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas'/><author><name>RUSLI HANDREAS</name><uri>https://profiles.google.com/115119439115727042883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-lp3AWZIT08g/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAWk/wPJaC5ozMcM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4788195323343721298.post-869832468173609673</id><published>2012-02-24T20:33:00.001+07:00</published><updated>2012-02-24T20:33:26.543+07:00</updated><title type='text'>Berikut ini daftar nama-nama Ulama ahlusunnah wal jamaah beserta kitab-kitabnya yang menolak faham wahabi</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; line-height: 19px; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Berikut ini daftar nama-nama Ulama ahlusunnah wal jamaah beserta kitab-kitabnya yang menolak faham wahabi / salafi , dan memperingatkan ummat akan bahaya faham tersebut : (Yang sempat tercatat di dalam file kami)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; line-height: 19px; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;a href="" name="more" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; line-height: 19px; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; clear: right; float: right; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;img src="http://jaykunzuii.files.wordpress.com/2010/12/kitab1.jpg" style="-webkit-user-select: none; border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; line-height: 19px; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;1. Al-Ahsa’i Al-Misri, Ahmad (1753-1826): beliau menulis kitab (tidak diterbitkan) khusus untuk menolak faham wahabi (salafi) . Putra beliau Shaykh Muhammad ibn Ahmad ibn `Abd al-Latif al-Ahsa’i juga menulis kitab dengan tujuan yang sama.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; line-height: 19px; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; line-height: 19px; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;2. Al-Ahsa’i, Al-Sayyid `Abd al-Rahman : menulis 60 bait puisi, dimulai dengan bait : Badat fitnatun kal layli qad ghattatil aafaaqa, wa sha“at fa kadat tublighul gharba wash sharaqa (Fitnah telah datang seperti senja kala menutupi langit , dan menyebar luas mencapai timur dan barat)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; line-height: 19px; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; line-height: 19px; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;3. Al-`Amrawi, `Abd al-Hayy, and `Abd al-Hakim Murad (Qarawiyyin University, Morocco): Al-tahdhir min al-ightirar bi ma ja’a fi kitab al-hiwar (”Warning Against Being Fooled By the Contents of the Book” – peringatan melawan pembodohan oleh kandungan kitab) oleh Ibn Mani`( sebuah debat dengan al maliki) an attack on Ibn `Alawi al-Maliki by a Wahhabi writer – sebuah serangan kepada Ibn `Alawi al-Maliki oleh penulis wahabi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; line-height: 19px; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; line-height: 19px; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;4. `Ata’ Allah al-Makki: al-sarim al-hindi fil `unuq al-najdi ["The Indian Scimitar on the Najdi's Neck"].&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; line-height: 19px; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; line-height: 19px; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;5. Al-Azhari, `Abd Rabbih ibn Sulayman al-Shafi`i .Penulis Sharh Jami’ al-Usul li ahadith al-Rasul, kitab dasar Usul al-Fiqh: Fayd al-Wahhab fi Bayan Ahl al-Haqq wa man dalla `an al-sawab, vol 4 – The author of Sharh Jami’ al-Usul li ahadith al-Rasul, a basic book of Usul al-Fiqh: Fayd al-Wahhab fi Bayan Ahl al-Haqq wa man dalla `an al-sawab, 4 vols. ["Allah's Outpouring in Differentiating the True Muslims From Those Who Deviated From the Truth"].&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;6. Al-`Azzami, `Allama al-shaykh Salama (d. 1379H): Al-Barahin al-sati`at ["bukti2 yang bersinar..."- "The Radiant Proofs..."].&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;7. Al-Barakat al-Shafi`i al-Ahmadi al-Makki, `Abd al-Wahhab ibn Ahmad: kitabnya menolak faham wahabi / salafi tidak dipublikasikan – unpublished manuscript of a refutation of the Wahhabi sect.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;8. Al-Bulaqi, Mustafa al-Masri : telah menulis 126 bait pusi menentang wahabi berjudul: Samnudi’s “Sa`adat al-Darayn” – wrote a refutation to San`a’i’s poem in which the latter had praised Ibn `Abd al-Wahhab. It is in Samnudi’s “Sa`adat al-Darayn” and consists in 126 verses&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;9. Al-Buti, Dr. Muhammad Sa`id Ramadan (University of Damascus): Al-salafiyyatu marhalatun zamaniyyatun mubarakatun la madhhabun islami (salafiyyah adalah sebuah masa sejarah yang penuh berkah, bukan sebuah madzhab dalam Islam – “The Salafiyya is a blessed historical period not an Islamic school of law, Damascus: Dar al-fikr, 1988). Al-lamadhhabiyya akhtaru bid`atin tuhaddidu al-shari`a al-islamiyya – ["Non-madhhabism is the most dangerous innovation presently menacing Islamic law"] (Damascus: Maktabat al-Farabi, n.d)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; line-height: 19px; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;10. Al-Dahesh ibn `Abd Allah, Dr. (Arab University of Morocco), ed. Munazara `ilmiyya bayna `Ali ibn Muhammad al-Sharif wa al-Imam Ahmad ibn Idris fi al-radd `ala Wahhabiyyat Najd, Tihama, wa `Asir – ["Scholarly Debate Between the Sharif and Ahmad ibn Idris Against the Wahhabis of Najd, Tihama, and `Asir"].&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;11. Dahlan, al-Sayyid Ahmad ibn Zayni (d. 1304/1886). Mufti Mekkah dan syaikhul Islam dan pemimpin agama tertinggi untuk daerah Hijaz (highest religious authority in the Ottoman jurisdiction). Kitab beliau : al-Durar al-saniyyah fi al-radd ala al-Wahhabiyyah (mutiara2 murni menjawab wahabi – “The Pure Pearls in Answering the Wahhabis”). Dan :Fitnat al-Wahhabiyyah ( fitnah wahabi – “The Wahhabi Fitna”); Khulasat al-Kalam fi bayan Umara’ al-Balad al-Haram ["The Summation Concerning the Leaders of the Sacrosanct Country"], a history of the Wahhabi fitna in Najd and the Hijaz.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;12. Al-Dajwi, Hamd Allah: al-Basa’ir li Munkiri al-tawassul ka amthal Muhd. Ibn `Abdul Wahhab ["The Evident Proofs Against Those Who Deny the Seeking of Intercession Like Muhammad Ibn `Abdul Wahhab"].&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;13. Shaykh al-Islam Dawud ibn Sulayman al-Baghdadi al-Hanafi (1815-1881 CE): al-Minha al-Wahbiyya fi radd al-Wahhabiyya ["The Divine Dispensation Concerning the Wahhabi Deviation"]; Ashadd al-Jihad fi Ibtal Da`wa al-Ijtihad ["The Most Violent Jihad in Proving False Those Who Falsely Claim Ijtihad"].&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;14. Al-Falani al-Maghribi, al-Muhaddith Salih: menulis buku besar jawaban2 ulama-ulama 4 madzhab dalam menangkal faham Wahabi/salafi. authored a large volume collating the answers of scholars of the Four Schools to Muhammad ibn `Abd al-Wahhab.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;15. Al-Habibi, Muhammad `Ashiq al-Rahman: `Adhab Allah al-Mujdi li Junun al-Munkir al-Najdi (siksa Allah yang pedih kepada pembangkang gila dari najed – “Allah’s Terrible Punishment for the Mad Rejector From Najd”).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;16. Al-Haddad, al-Sayyid al-`Alawi ibn Ahmad ibn Hasan ibn al-Qutb Sayyidi `Abd Allah ibn `Alawi al-Haddad al-Shafi`i: al-Sayf al-batir li `unq al-munkir `ala al-akabir (pedang yang tajam untuk leher pembangkang imam2 besar – “The Sharp Sword for the Neck of the Assailant of Great Scholars”].. Juga kitab setebal 100 halaman yang tidak dipublikasikan berjudul: Misbah al-anam wa jala’ al-zalam fi radd shubah al-bid`i al-najdi al-lati adalla biha al-`awamm ( lampu ummat manusia dan cahaya penerang pada kegelapan berkenaan dengan sanggahan pada kerusakan dan bid’ah dari najed yang mana dia telah menyesatkan orang2 awam – “The Lamp of Mankind and the Illumination of Darkness Concerning the Refutation of the Errors of the Innovator From Najd by Which He Had Misled the Common People”].&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;17. Al-Hamami al-Misri, Shaykh Mustafa: Ghawth al-`ibad bi bayan al-rashad – ["The Helper of Allah's Servants According to the Affirmation of Guidance"].&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;18. Al-Hilmi al-Qadiri al-Iskandari, Shaykh Ibrahim: Jalal al-haqq fi kashf ahwal ashrar al-khalq ["The Splendor of Truth in Exposing the Worst of People] (pub. 1355H).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;19. Al-Husayni, `Amili, Muhsin (1865-1952). Kashf al-irtiyab fi atba` Muhammad ibn `Abd al-Wahhab ["The Dispelling of Doubt Concerning the Followers of Muhammad ibn `Abd al-Wahhab"]. [Yemen?]: Maktabat al-Yaman al-Kubra, 198?.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;20. Ibn `Abd al-Latif al-Shafi`i, `Abd Allah: Tajrid sayf al-jihad `ala mudda`i al-ijtihad ["The drawing of the sword of jihad against the false claimants to ijtihad"]. The family of Ibn `Abd al-Razzaq al-Hanbali in Zubara and Bahrayn possess both manuscript and printed refutations by scholars of the Four Schools from Mecca, Madina, al-Ahsa’, al-Basra, Baghdad, Aleppo, Yemen and other Islamic regions.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; line-height: 19px; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;21. Ibn `Abd al-Wahhab al-Najdi, `Allama al-Shaykh Sulayman (elder brother of Muhammad ibn `Abd al-Wahhab – kakak kandung dajjal muhammad ibn wahhab) ; al-Sawa’iq al-Ilahiyya fi al-radd ‘ala al-Wahhabiyya ( halilintar yang hebat dalam menjawab wahabi). ["Divine Lightnings in Answering the Wahhabis"]. Ed. Ibrahim Muhammad al-Batawi. Cairo: Dar al-insan, 1987. Offset reprint by Waqf Ikhlas, Istanbul: Hakikat Kitabevi, 1994. Prefaces by Shaykh Muhammad ibn Sulayman al-Kurdi al-Shafi`i and Shaykh Muhammad Hayyan al-Sindi (Muhammad Ibn `Abd al-Wahhab’s shaykh) to the effect that Ibn `Abd al-Wahhab is “dall mudill” (”misguided and misguiding”).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;22. Ibn `Abidin al-Hanafi, al-Sayyid Muhammad Amin: Radd al-muhtar `ala al-durr al-mukhtar, Vol. 3, Kitab al-Iman, Bab al-bughat. ["Answer to the Perplexed: A Commentary on "The Chosen Pearl,"" Book of Belief, Chapter on Rebels]. Cairo: Dar al-Tiba`a al-Misriyya, 1272 H.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Ibn `Afaliq al-Hanbali, Muhammad Ibn `Abdul Rahman: Tahakkum al-muqallidin bi man idda`a tajdid al-din (sindiran tajam para muqallid kepada mereka yang menuntut pembaharuan agama).Sebuah kitab yang meliputi banyak hal yang mana membuktikan kesesatan&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; wahabi/ salafi dan tidak bisa dijawab oleh dajjal muhammad ibn wahab dan pengikutnya. [Sarcasm of the muqallids against the false claimants to the Renewal of Religion]. A very comprehensive book refuting the Wahhabi heresy and posting questions which Ibn `Abdul Wahhab and his followers were unable to answer for the most part.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;i style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;i style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;i style="background-color: white; border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://bankwahabi.wordpress.com/2006/09/03/" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt;http://bankwahabi.wordpress.com/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Bahkan kemudian bangkitlah para Ulama dari berbagai belahan dunia Islam yg menulis kitab yg berjilid-jilid hanya untuk menunjukkan berbagai kesalahan dan penyimpangan Albani, kita dapat lihat sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;- Ulama Ahli Hadis dari India yaitu Habib al-Rahman al-A`zami yg mengarang Kitab al-Albani Shudhudhuh wa Akhta’uh (“Penyimpangan dan Kesalahan Albani”) dalam 4 jilid.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;- Ulama Siria yaitu DR. Muhammad Sa`id Ramadan al-Buti yg mengarang 2 kitab al-Lamadhhabiyya Akhtaru Bid`atin Tuhaddidu al-Shari`a al-Islamiyya (“Tidak bermadzbah adalah bid’ad terburuk melawan syari’at Islam”) and al-Salafiyya Marhalatun Zamaniyyatun Mubaraka La Madhhabun Islami (“Genreasi Awal Islam adalah Tahapan Masa yg penuh berkah, bukan madzhab Islam”)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;- Ulama Ahli Hadis dari Maroko yaitu Imam `Abd Allah ibn Muhammad ibn al-Siddiq al-Ghumari yg mengarang Kitab Irgham al-Mubtadi` al-Ghabi bi Jawaz al-Tawassul bi al-Nabi fi al-Radd `ala al-Albani al-Wabi (“The Coercion of the Unintelligent Innovator with the Licitness of Using the Prophet – Allah bless and greet him – as an Intermediary in Refutation of al-Albani the Baneful”), al-Qawl al-Muqni` fi al-Radd `ala al-Albani al-Mubtadi` (“Ucapan yg Jelas untuk membantah al-Albani Sang Pelaku Bid’ah”), and Itqan al-Sun`a fi Tahqiq Ma`na al-Bid`a (“Aktivitas yg mulia untuk meneliti pengertian bida’h”).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;- Ulama Ahli Hadis dari Maroko yaitu Imam `Abd al-`Aziz ibn Muhammad ibn al-Siddiq al-Ghumari yg mengarang Kitab Bayan Nakth al-Nakith al-Mu`tadi (“Penjelasan tentang penyimpanga Al-Mubtadi’ (Sang Pelaku bid’ah)”).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;- Ulama Ahli Hadis dari Siria yaitu Imam `Abd al-Fattah Abu Ghudda yg mengarang Kitab Radd `ala Abatil wa Iftira’at Nasir al-Albani wa Sahibihi Sabiqan Zuhayr al-Shawish wa Mu’azirihima (“Bantahan atas kebatilan dan dusta dari Nasir al-Albani and sahabatnya Zuhayr al-Shawish dan para pengikutnya”).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;- Ulama Ahli Hadis dari Mesir yaitu Imam Muhammad `Awwama yg mengarang Adab al-Ikhtilaf (“Etika dalam Perbedaan”).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;- Ulama Ahli Hadis dari Mesir yaitu Imam Mahmud Sa`id Mamduh yg mengarang Wusul al-Tahani bi Ithbat Sunniyyat al-Subha wa al-Radd `ala al-Albani (“The Alighting of Mutual Benefit and Confirmation that the Dhikr-Beads are a Sunna in Refutation of al-Albani”) dan Tanbih al-Muslim ila Ta`addi al-Albani `ala Sahih Muslim (“Peringatan bagi kaum Muslimin tentang serangan Albani atas Sahih Muslim”).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;- Ulama Ahli Hadis dari Saudi yaitu Imam Isma`il ibn Muhammad al-Ansar yg mengarang Kitab Ta`aqqubat `ala “Silsilat al-Ahadith al-Da`ifa wa al-Mawdu`a” li al-Albani (“Kritik atas kitab Silsilat al-Ahadith al-Da`ifa wa al-Mawdu`a” li al-Albani “), Tashih Salat al-Tarawih `Ishrina Rak`atan wa al-Radd `ala al-Albani fi Tad`ifih (“Meluruskan (persepsi) ttg sholat tarawih 20 raka’at dan bantahan atas al-Albani yg mendhoifkannya”), dan Ibahat al-Tahalli bi al-Dhahab al-Muhallaq li al-Nisa’ wa al-Radd `ala al-Albani fi Tahrimih (“Kebolehan memakai kalung perhiasan dari emas bagi para wanita dan bantahan atas Albani yg mengharamkannya”).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;- Ulama Hadis Siria yaitu Imam Badr al-Din Hasan Diab yang mengarang kitab Anwar al-Masabih `ala Zulumat al-Albani fi Salat al-Tarawih (“Cahaya Pelita atas kegelapan Albani dlm masalah Salat tarawih”).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;- Direktur Urursan keagamaan di Dubai, yaitu Syeikh`Isa ibn `Abd Allah ibn Mani` al-Himyari yg menulis kitab al-I`lam bi Istihbab Shadd al-Rihal li Ziyarati Qabri Khayr al-Anam – Allah bless and greet him – (“Penjelasan ttg sunnahnya bepergian untuk berziarah ke makam nabi SAW ) dan al-Bid`a al-Hasana Aslun Min Usul al-Tashri` (“Bid’ah Hasanah memiliki dasar dalam Pokok Tasyri’ “).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;- Menteri Urusan Islam dan Keagamaan di Uni Emirat Arab yaitu Shaykh Muhammad ibn Ahmad al-Khazraji yang menulis sebuah artikel al-Albani: Tatarrufatuh (“Posisi Al-Albani’s yg Ekstrim”).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;- Ulama Siria yaitu Syeikh Firas Muhammad Walid Ways dlm kitabnya Ibn al-Mulaqqin’s yg berjudul Sunniyyat al-Jumu`a al-Qabliyya (“Shalat Sunnah sebelum Sholat Jum’at adl sunnah”).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;- Ulama Siria yaitu Imam Samer Islambuli yang mengarang kitab al-Ahad, al-Ijma`, al-Naskh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;- Ulama Yordania yaitu Imam As`ad Salim Tayyim yang mengarang Kitab Bayan Awham al-Albani fi Tahqiqihi li Kitab Fadl al-Salat `ala al-Nabi – (Penjelasan ttg kesalahan Albani dlm penelitiannya atas kitab Fadl al-Salat `ala al-Nabi)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;- Ulama Ahli Hadi dari Yordania yaitu Imam Hasan `Ali al-Saqqaf yg mengarang dua jlid kitab berjudul&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Tanaqudat al-Albani al-Wadiha fi ma Waqa`a fi Tashih al-Ahadith wa Tad`ifiha min Akhta’ wa Ghaltat (“Albani’s Patent Self-Contradictions in the Mistakes and Blunders He Committed While Declaring Hadiths to be Sound or Weak”),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Ihtijaj al-Kha’ib bi `Ibarat man Idda`a al-Ijma` fa Huwa Kadhib (“The Loser’s Recourse to the Phrase: `Whoever Claims Consensus Is a Liar!’”),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;al-Qawl al-Thabtu fi Siyami Yawm al-Sabt (“The Firm Discourse Concerning Fasting on Saturdays”),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;al-Lajif al-Dhu`af li al-Mutala`ib bi Ahkam al-I`tikaf (“The Lethal Strike Against Him Who Toys with the Rulings of I`tikaf),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Sahih Sifat Salat al-Nabi Sallallahu `alayhi wa Sallam (“Sifat Sholat Nabi yg Benar”),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;I`lam al-Kha’id bi Tahrim al-Qur’an `ala al-Junub wa al-Ha’id (“The Appraisal of the Meddler in the Interdiction of the Qur’an to those in a State of Major Defilement and Menstruating Women”),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Talqih al-Fuhum al-`Aliya (“The Inculcation of Lofty Discernment”), and&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Sahih Sharh al-`Aqida al-Tahawiyya (“Syarh Aqidah Ath-Thohawiyyah yg benar)”).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-image: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; list-style-image: initial; list-style-position: initial; list-style-type: none; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: none; outline-width: initial; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Alhamdulillah, telah bangkit para Ulama pembela Islam untuk meluruskan penyimpangan2 yg disebarkan oleh ‘orang yg tdk bertanggung jawab’, sehingga umat ini tetap dalam jalan yg sesuai dg Al-Haq yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br class="Apple-interchange-newline" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4788195323343721298-869832468173609673?l=zonaislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zonaislami.blogspot.com/feeds/869832468173609673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/berikut-ini-daftar-nama-nama-ulama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/869832468173609673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/869832468173609673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/berikut-ini-daftar-nama-nama-ulama.html' title='Berikut ini daftar nama-nama Ulama ahlusunnah wal jamaah beserta kitab-kitabnya yang menolak faham wahabi'/><author><name>RUSLI HANDREAS</name><uri>https://profiles.google.com/115119439115727042883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-lp3AWZIT08g/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAWk/wPJaC5ozMcM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4788195323343721298.post-1565529943953489874</id><published>2012-02-24T17:53:00.000+07:00</published><updated>2012-02-24T17:54:15.214+07:00</updated><title type='text'>Antara Sunnah dan Bi'dah</title><content type='html'>&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;Sering kali terdengar oleh kita perdebatan seputar hal bid'ah dan sunnah. bahkan perdebatan ini menjurus pada perpecahan. Padahal tidak harus demikian, justru perbedaan itu adalah rahmat, asalkan kita mau berlapang dada. Oleh karenanya menjadi penting bagi umat muslim untuk mengetahui apakah bid'ah itu, dan bid'ah seperti apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan? &amp;lt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;br /&amp;gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;Menurut para ulama’ bid’ah dalam ibadah dibagi dua: yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Di antara para ulama’ yang membagi bid’ah ke dalam dua kategori ini adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Imam Syafi’i&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;Menurut Imam Syafi’i, bid’ah dibagi dua; bid’ah mahmudah dan bid’ah madzmumah. Jadi bid’ah yang mencocoki sunah adalah mahmudah, dan yang tidak mencocoki sunah adalah madzmumah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;Bid’ah hasanah/mahmudah dibagi menjadi dua. Yang pertama adalah bid’ah wajib seperti kodifikasi (pengumpulan) al-Qur’an pada zaman Khalifah Utsman bin Affan dan pengumpulan hadits ke dalam kitab-kitab besar pada zaman sesudahnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;Sedangkan bid’ah hasanah yang kedua adalah bid’ah sunah, seperti shalat tarawih 20 rakaat pada zaman khalifah Umar bin Khathab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imam al-Baihaqi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;Bid’ah menurut Imam Baihaqi dibagi dua; bid’ah madzmumah dan ghairu madzmumah. Setiap Bid’ah yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunah, dan Ijma’ adalah bid’ah mahmudah atau ghairu madzmumah. Sedangkan bid’ah yang tercela (madzmumah) adalah bid’ah yang tidak memiliki &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;dasar syar’i sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imam Nawawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;Bid’ah menurut Imam Nawawi dibagi menjadi dua; bid’ah hasanah dan bid’ah qabihah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imam al-Hafidz Ibnu Atsir&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;Ibnu Atsir juga membagi Bid’ah menjadi dua; bid’ah yang terdapat petunjuk nash (teks al-Qur’an/hadits) di dalamnya, dan bid’ah yang tidak ada petunjuk nash di dalam¬nya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;Jadi setiap bentuk bid’ah yang menyalahi kitab dan sunah adalah tercela dan harus diingkari. Akan tetapi bid’ah yang mencocoki keumuman dalil-dalil nash, maka masuk dalam kategoti terpuji.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;Lalu bagaimana dengan hadits&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right" style="background-color: white;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;كُلُّ بٍدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;Setiap bid’ah adalah sesat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;Berikut ini adalah pendapat para ulama’:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imam Nawawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;Hadits di atas adalah masuk dalam kategori ‘am (umum) yang harus ditakhshish (diperinci).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imam al-Hafidz Ibnu Rajab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;Hadits di atas adalah dalam kategori ‘am akan tetapi yang dikehendaki adalah khash (‘am yuridu bihil khash). Artinya secara teks hadits tersebut bersifat umum, namun dalam pemaknaannya dibutuhkan rincian-rincian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;Ada sebagian ulama’ yang membagi bid’ah menjadi lima bagian sebagai berikut,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bid’ah yang wajib dilakukan : contohnya, belajar ilmu nahwu, belajar sistematika argumentasi teologi dengan tujuan untuk menunjukkan kepada orang-orang atheis dan orang-orang yang ingkar kepada agama Islam, dll.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bid’ah yang mandub (dianjurkan): contohnya, adzan menggunakan pengeras suara, mencetak buku-buku ilmiah, membangun madrasah, dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bid’ah yang mubah : contohnya, membuat hidangan makanan yang berwarna warni, dan sejenisnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bid’ah yang makruh : contohnya, berlebihan dalam menghias mushaf,&amp;nbsp; masjid dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bid’ah yang haram: yaitu setiap sesuatu yang baru dalam hal agama yang bertentangan dengan keumuman dalil syar’i. misalnya solat isya tujuh rekaat dll.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;(disarikan dari buku Tradisi Amaliah NU dan Dalilnya,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;penerbit LTM (Lembaga Ta'mir Masjid) PBNU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/10/27407/Ubudiyyah/Sunnah_dan_Bi_dah.html" target="_blank"&gt;http://www.nu.or.id&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4788195323343721298-1565529943953489874?l=zonaislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zonaislami.blogspot.com/feeds/1565529943953489874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/antara-sunnah-dan-bidah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/1565529943953489874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/1565529943953489874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/antara-sunnah-dan-bidah.html' title='Antara Sunnah dan Bi&apos;dah'/><author><name>RUSLI HANDREAS</name><uri>https://profiles.google.com/115119439115727042883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-lp3AWZIT08g/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAWk/wPJaC5ozMcM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4788195323343721298.post-5334620360298061593</id><published>2012-02-24T16:27:00.002+07:00</published><updated>2012-02-24T16:27:55.586+07:00</updated><title type='text'>I'TIKAF MENURUT SUNNAH RASULULLAH SAW</title><content type='html'>&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sering dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mencari keutamaan sepuluh hari terakhir Ramadhan, khususnya malam mulia yang utama (lailatul-qadri). Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian para istri beliau pun melakukan i’tikaf sepeninggal beliau.” (Muttafaq ‘alaih)&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;I’tikaf memiliki adab-adab yang menentukan sah dan sempurnanya i’tikaf, termasuk kapan mulainya dan kapan berakhirnya, berikut amalan-amalan apa saja yang dikerjakan selama i’tikaf.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Barangsiapa berniat untuk melaksanakan sunnah ini hendaklah memulai i’tikaf dengan masuk ke masjid tempat i’tikaf sejak terbenamnya matahari di malam ke-21 Ramadhan, karena sepuluh hari terakhir Ramadhan dimulai ketika terbenam matahari di malam ke-21 Ramadhan. Jika dia menyiapkan tenda (kemah) di salah satu bagian masjid sebagai tempat menyendiri selama i’tikaf -dan ini hukumnya sunnah- hendaklah masuk ke dalam tenda (kemah itu setelah shalat shubuh. Dalilnya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memulai i’tikaf di masjidnya ketika terbenam matahari di awal malam ke-21. Namun beliau baru menyendiri (masuk) di dalam tenda yang telah disiapkan untuk dirinya setelah shalat shubuh, berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkeinginan melakukan i’tikaf, beliau menunaikan shalat Fajar (shubuh), kemudian masuk ke tempat i’tikafnya.” (Muttafaq ‘alaih)&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Ini adalah mazhab empat imam (Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad) serta jumhur (mayoritas) ulama yang dirajihkan (dikuatkan) oleh al-Imam Ibnu ‘Utsaimin, dan inilah pendapat yang rajih.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Selama beri’tikaf hendaklah memerhatikan adab-adab berikut:&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;1. Tidak melakukan jima’ (senggama), berdasarkan ayat i’tikaf:&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;“Janganlah kalian menggauli istri-istri itu, sedangkan kalian beri’tikaf dalam masjid.” (Al-Baqarah: 187)&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Hal ini hukumnya haram dan membatalkan i’tikaf, baik dilakukan di masjid maupun di luar masjid (rumah). Sebab, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkannya secara khusus pada i’tikaf, padahal pada asalnya halal di luar i’tikaf. Jima’ diharamkan dalam i’tikaf karena bertentangan dengan tujuan i’tikaf.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;2. Tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan tujuan i’tikaf, seperti keluar untuk bersenggama dengan istri di rumah, keluar untuk menekuni pekerjaannya, ataupun melakukan profesinya di tempat i’tikafnya [1], keluar untuk bertransaksi jual-beli, ataupun melakukan transaksi jual-beli di masjid, dan semisalnya. Apabila hal itu dilakukan maka i’tikafnya batal, meskipun ia telah mempersyaratkan akan melakukannya saat berniat melakukan i’tikaf, karena hal-hal tersebut bertentangan dengan tujuan i’tikaf. Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Kalau memang ia butuh untuk bekerja (melakukan profesinya), jangan beri’tikaf.”&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;3. Tidak keluar dari tempat i’tikaf untuk urusan yang tidak bersifat harus dilakukan. Adapun keluar untuk urusan yang bersifat harus dilakukan, hal itu boleh. Urusan tersebut meliputi hal-hal yang bersifat tabiat manusiawi seperti kebutuhan buang hajat dan makan minum, atau yang bersifat aturan syariat seperti wudhu, mandi janabah, dan shalat Jum’at. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Tidak ada khilaf tentang bolehnya seseorang yang beri’tikaf keluar dari masjid untuk suatu urusan yang harus dilakukan.” Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;“Sesungguhnya jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang beri’tikaf, beliau biasanya tidak masuk rumah kecuali untuk suatu hajat (pada riwayat Muslim: untuk hajat manusiawi).” (Muttafaq ‘alaih)&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Juga hadits ‘Aisyah yang mauquf (dinisbatkan kepada ‘Aisyah sebagai perbuatannya) yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya pada “Kitab al-Haidh”:&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;“Adalah aku (jika sedang beri’tikaf) biasa masuk rumah untuk suatu hajat, padahal di dalam rumah ada orang sakit. Aku tidak menanyakan keadaannya kecuali sambil lewat saja.” [2]&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Oleh karena itu, tidak boleh keluar dari tempat i’tikaf untuk urusan ketaatan yang bersifat sunnah, seperti menjenguk orang sakit dan mengantarkan jenazah, menurut pendapat yang rajih. Ini adalah pendapat jumhur ulama dan dirajihkan oleh Ibnu ‘Utsaimin, kecuali jika jelas baginya bahwa tidak ada yang mengurusi orang sakit tersebut selain dirinya -sedangkan kondisi sakitnya telah kritis- atau jika tidak ada yang bisa mengurusi jenazah tersebut selain dirinya, hal ini diperbolehkan. Sebab, pada kondisi itu hukumnya menjadi wajib atas dirinya. Jika ia keluar untuk suatu urusan yang harus dilakukannya, maka tidak boleh berlama-lama lebih dari hajatnya itu. Jika ia berlama-lama lebih dari hajatnya tersebut, maka i’tikafnya batal sebagaimana batalnya i’tikaf jika keluar untuk urusan yang tidak bersifat wajib meskipun hanya sebentar, menurut pendapat empat imam mazhab.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;4. Disunnahkan menyibukkan diri dengan berbagai macam ibadah khusus, seperti shalat sunnah mutlak di waktu-waktu yang tidak terlarang, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, serta beristighfar. Secara khusus, sepuluh malam terakhir Ramadhan dihidupkan dengan shalat tarawih. Inilah inti dan tujuan i’tikaf, untuk mengkhususkan diri dengan ibadah-ibadah tersebut. Itulah sebabnya pelaksanaan i’tikaf dibatasi harus di masjid.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;5. Disunnahkan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, maupun yang lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;6. Tidak mengapa baginya untuk berbicara sebatas hajat dan berbincang-bincang dengan orang lain dalam batas yang dibolehkan dalam syariat, baik secara langsung maupun melalui telepon, selama hal itu masih dalam masjid tempat beri’tikaf. Demikian pula, tidak mengapa untuk dikunjungi kerabat atau temannya di tempat i’tikafnya serta berbincang-bincang sejenak dan tidak lama. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Shafiyyah bintu Huyai radhiyallahu ‘anha, salah seorang istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim (Muttafaqun ‘Alaih) tentang kedatangannya mengunjungi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di malam hari saat beliau melakukan i’tikaf, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri bersamanya dan mengantarkannya pulang ke rumahnya. [3]&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Selanjutnya, i’tikaf berakhir ketika terbenam matahari di malam ‘Id dan tidak disyariatkan menunggu esok harinya hingga menjelang shalat ‘Id. Ini merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama serta Ibnu Hazm.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Catatan kaki:&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;[1] Seperti menjahit atau yang lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;[2] Adapun periwayatan hadits ini secara marfu’ (dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) yang diriwayatkan oleh Abu Dawud merupakan riwayat yang dha’if (lemah), sebab dalam sanadnya terdapat rawi yang lemah bernama Laits bin Abi Sulaim.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;[3] Adapun keluarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari masjid untuk mengantarkan Shafiyyah radhiyallahu ‘anha, dibawa kepada pemahaman bahwa hal itu merupakan keharusan bagi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukannya, karena peristiwa itu di malam hari sehingga beliau khawatir jika membiarkannya pulang sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4788195323343721298-5334620360298061593?l=zonaislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zonaislami.blogspot.com/feeds/5334620360298061593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/itikaf-menurut-sunnah-rasulullah-saw.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/5334620360298061593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/5334620360298061593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/itikaf-menurut-sunnah-rasulullah-saw.html' title='I&apos;TIKAF MENURUT SUNNAH RASULULLAH SAW'/><author><name>RUSLI HANDREAS</name><uri>https://profiles.google.com/115119439115727042883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-lp3AWZIT08g/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAWk/wPJaC5ozMcM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4788195323343721298.post-3016904954230888788</id><published>2012-02-24T15:57:00.001+07:00</published><updated>2012-02-24T15:57:06.331+07:00</updated><title type='text'>AL QUR'AN DI MATA SYI'AH</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;Setiap Syiah harus, sekali lagi harus percaya bahwa Al Qur'an yang ada saat ini tidak otentik dan mengalami perubahan. Tidak percaya? Jangan terburu marah, baca dulu selengkapnya&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;Jika kita menelaah literatur-literatur syiah, maka akan anda temui banyak riwayat juga pernyataan para ulama syiah yang menegaskan bahwa Al Qur’an yang dijadikan pedoman umat islam saat ini sudah bukan asli lagi, alias sudah dirubah. Jadi kitab suci yang ada pada umat islam sejak dulu sampai hari ini menurut syiah sudah bukan otentik lagi, alias ada ayat-ayat yang bukan lagi wahyu Allah, tetapi ada juga hasil tulisan tangan manusia. Selain diubah, nukilan-nukilan itu juga menyatakan bahwa ada ayat-ayat dalam Al Qur’an yang dihapus. Intinya, Al Qur’an yang ada sekarang ini tidak seperti yang diturunkan oleh Allah pada Nabi Muhammad&lt;em&gt;SAAW&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini para pembaca mungkin merasa heran dan bertanya-tanya, apakah benar syiah menganggap demikian? Mungkin anda pernah mendengar hal ini sebelumnya dan mengklarifikasi kepada teman atau tetangga anda yang syiah, dan dijawab oleh mereka bahwa hal itu semata-mata adalah fitnah dan tuduhan yang dihembuskan oleh musuh-musuh syiah, dari mereka yang ingin memecah belah umat Islam. Lebih jauh lagi, mereka akan menuduh orang yang menebarkan hal itu sebagai antek zionis yahudi. Astaghfirullah&lt;br /&gt;Mengklarifikasikan sebuah tuduhan adalah sikap yang benar, dan seharusnya &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;dilakukan oleh setiap muslim yang objektif, tetapi hendaknya kita tidak salah alamat dalam mengklarifikasi sebuah berita. Seperti kasus kita kali ini, mestinya kita mengklarifikasi tuduhan ini dengan melihat langsung ke literatur syiah untuk mengecek kebenaran berita ini, mengecek apakah benar ada kitab-kitab syiah yang menyatakan demikian atau tidak ada. Mengapa klarifikasi ke tetangga, teman atau dosen anda yang syiah adalah salah alamat? Ada beberapa sebab; bisa jadi teman, tetangga dan dosen anda belum pernah mendapat akses ke literatur itu, bisa jadi dia memang sudah mengakses tetapi dia mengingkari hal itu. bisa jadi dia adalah “anggota biasa” yang tidak tahu apa-apa, banyak kemungkinan. Tetapi semua itu tidak akan mengubah apa yang tercantum dalam kitab-kitab syiah. Di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Abu Abdillah berkata:&lt;/em&gt;&amp;nbsp;“Al Qur’an yang diturunkan Jibril kepada Muhammad adalah 17 ribu ayat”. Al Kafi jilid 2 hal 463. Muhammad Baqir Al Majlisi berkata bahwa riwayat ini adalah muwathaqoh. Lihat di Mir’atul Uqul jilid 2 hal 525.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita telaah lagi pernyataan-pernyataan ulama syiah mengenai ingkarnya mereka pada Al Qur’an hari ini, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan berbahaya, yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kesimpulan ini berbunyi:&lt;br /&gt;Setiap syiah harus mengingkari keaslian Al Qur’an, jika masih beriman bahwa AL Qur’an sekarang ini adalah asli otentik seperti yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAAW, maka dia bukan syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kalimat lain untuk kesimpulan di atas, yaitu setiap syiah harus meyakini bahwa al qur’an telah dirubah, ditambah dan dikurangi. Seseorang tidak bisa menjadi syiah jika tidak meyakini hal itu. Sehingga dapat kita katakan bahwa seorang syiah terpaksa meyakini hal itu jika masih ingin menjadi syiah. Di sini meyakini adanya penambahan, pengurangan dan perubahan terhadap ayat Al Qur’an menjadi sebuah konsekwensi yang melekat, dan tidak pernah akan lepas, bagi seorang penganut syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dikatakan juga, mereka yang meyakini bahwa Al Qur’an masih asli tidak pernah akan menjadi syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mohon maaf pada pembaca karena barangkali telah membuat pembaca agak sedikit bingung –plus terkejut-. Tetapi ini adalah kenyataan yang harus kita ketahui. Barangkali anda akan bertanya mengenai hal-hal yang mendasari kesimpulan saya di atas, ini adalah pertanyaan wajar, dan memang saya akan mengetengahkan bukti-bukti dari pernyataan di atas. Saya katakan di atas bahwa yang akan mencapai kesimpulan seperti itu bukanlah saya pribadi, tetapi kita semua, seluruh pembaca makalah ini. Saya mengajak diri saya sendiri dan pembaca yang budiman untuk merasa tidak puas dengan omongan orang tentang sesuatu, sebelum merujuk pada sumber otentik dari sesuatu itu. anda jangan puas hanya dengan mendengar omongan dan –mungkin- bualan dari teman anda, tapi hendaknya kita melangkah jauh untuk memberanikan diri menelaah sumber-sumber otentik mazhab syiah. Pembaca akan mendapatkan apa yang tersembunyi dari mazhab syiah imamiyah, dan kami –team hakekat- berusaha untuk menampilkan sumber otentik lengkap dengan nomor jilid dan halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah kita bahas di atas bahwa keyakinan terhadap diubahnya Al Qur’an adalah konsekwensi dari mazhab syiah imamiyah. Ulama syiah klasik benar-benar menyadari hal ini, maka keyakinan tentang perubahan Al Qur’an menjadi sebuah aksioma dalam mazhab syiah –yang tidak bisa diganggu gugat-. Apa yang mendorong para ulama syiah klasik memasukkan keyakinan ini sebagai aksioma? Karena mereka sadar bahwa menolak hal itu sama dengan menolak mazhab syiah. Mari kita simak nukilan dari ulama klasik syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, mari kita sadari bahwa riwayat dalam kitab literatur syiah yang menggugat keotentikan Al Qur’an hari ini mutawatir dan sangat banyak, sekali lagi, menurut ulama syiah sendiri. Sebuah kenyataan yang membuat setiap muslim bersedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.Al Mufid –Muhammad bin Nu’man- mengatakan:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali hadits-hadits dari para imam yang membawa petunjuk – a’immatil huda- dari keluarga Nabi Muhammad SAAW bahwa Al Qur’an yang ada bukan lagi asli, juga memuat berita tentang orang-orang zhalim yang menambah dan mengurangi isi Al Qur’an. Lihat Awa’ilul Maqalat hal 91.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.Abul Hasan Al Amili mengatakan:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, kebenaran yang disimpulkan dari riwayat mutawatir yang akan dipaparkan kemudian, dan riwayat lain yang tidak kami jelaskan di sini, bahwa Al Qur’an yang ada di tangan kita saat itu, telah mengalami perubahan sepeninggal Rasulullah SAAW. Para penulis Al Qur’an sepeninggal Nabi SAAW telah menghapus banyak ayat dan kata dari ayat Al Qur’an.&lt;br /&gt;Muqaddimah kedua dari tafsir Miraatul Anwar wa Mishkatul Asrar hal 36, dicetak sebagai pengantar bagi Tafsir Al Burhan karya Al Bahrani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyata-nyata menuduh para sahabat telah menghapus banyak ayat Al Qur’an. Nampak sekali bahwa yang tertuduh dalam hal ini adalah Usman bin Affan, yang dikenal sebagai pemrakarsa penulisan Al Qur’an, dan penyatuan bacaan Al Qur’an bagi seluruh kaum muslimin. Ini adalah kesimpulan ulama dari riwayat-riwayat yang dianggapnya mutawatir, jadi tidak lagi mengenal adanya “shahih” atau “dhaif”, karena sebuah kesimpulan hanya mewakili person penyimpulnya. Dengan pernyataan ini kita dapat mengambil kesimpulan juga, bahwa Abu Hasan Al Amili tidak beriman pada Al Qur’an yang ada saat ini. Dia telah kehilangan salah satu rukun iman. [Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.Ni’matullah Al Jaza’iri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Figur yang satu ini lebih memilih untuk percaya riwayat-riwayat mutawatir menurut versinya daripada Kalam Ilahi yang terhimpun dalam Al Qur’an. Katanya:&lt;br /&gt;Dengan menganggap Al Qur’an yang ada sekarang ini adalah mutawatir dari wahyu ilahi, [artinya diriwayatkan secara mutawatir berasal dari Nabi yang menerima wahyu dari Allah], dan meyakini bahwa Al Qur’an yang ada sekarang ini adalah Al Qur’an yang diturunkan oleh Ruhul Amin [Malaikat Jibril] mengandung konsekwensi penolakan terhadap riwayat yang banyak sekali, bahkan mencapai derajat mutawatir, yang menyatakan bahwa Al Qur’an telah dirubah, isinya, kalimatnya dan I’rabnya. Padahal ulama mazhab kami telah sepakat bahwa riwayat itu valid adanya dan mereka yakin pada isi riwayat itu. Al Anwar An Nu’maniyah jilid 2 hal 357.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lihat seluruh ulama syiah sepakat menerima riwayat yang menggugat Al Qur’an, yang menuduh Al Qur’an kaum muslimin saat ini telah dirubah, dan bukan asli lagi. Ini bukan lagi tuduhan, tetapi pernyataan dari ulama syiah sendiri.&lt;br /&gt;keyakinan di atas mengandung sekian banyak konsekwensi, di antaranya, menganggap kaum muslimin yang berpegang pada Al Qur’an yang ada saat ini adalah sesat, karena berpedoman pada kitab suci yang sudah dirubah oleh “tangan-tangan kotor”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Al Allamah Al Hujjah Sayyid Adnan Al Bahrani&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;riwayat tak terhitung banyaknya, yang menerangkan bahwa Al Qur’an telah dirubah, sungguh banyak, melebihi derajat mutawatir. Masyariq Asy Syumus Ad Durriyah, hal 126.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5.Sulthan Muhammad Al Khurasani&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mengatakan dalam kitabnya, Tafsir Bayanus Sa’adah fi Maqamatil Ibadah, cet. Muassasah Al A’lami hal 19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;6.Begitu juga Husein Nuri Thabrasi,&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;yang getol menyatakan Al Qur’an telah dirubah, sampai-sampai dia menulis sebuah kitab yang diberi judul Fashlul Khitab fi Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbabi [pemutus ucapan, pembuktian bahwa kitab Allah telah dirubah]. Kita simak ucapannya dalam kitab di atas hal. 227 :&lt;br /&gt;Hadits yang memuat hal itu [perubahan Al Qur’an] berjumlah lebih dari 2000 hadits, sejumlah ulama besar menyatakan banyaknya riwayat yang menyatakan hal itu, seperti Al Mufid, Al Muhaqqiq Ad Damad, Majlisi dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;7. Muhammad Baqir Al Majlisi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;ketika membahas hadits riwayat Hisyam bin Salim dari Abu Abdillah Alaihissalam; Sesungguhnya Al Qur’an yang diturunkan oleh Jibril Alihissalam kepada Muhammad SAAW ada 17000 ayat. Majlisi mengomentari riwayat ini: [riwayat ini] dipercaya, dalam cetakan lain tertulis Hisyam bin Salim di posisi Harun bin Salim. Riwayat ini shahih, seperti sudah diketahui bahwa riwayat ini juga banyak riwayat shahih yang menerangkan dengan jelas bahwa Al Qur’an yang ada saat ini telah dikurangi dan diubah, bagi saya hadits-hadits yang menyatakan perubahan Al Qur’an mencapai derajat mutawatir ma’nawi. Menolak riwayat ini mengharuskan kita untuk menolak seluruh riwayat [hadits Ahlulbait]. Saya kira hadits yang mengatakan hal ini[perubahan Al Qur’an] tidak kalah banyak dari riwayat hadits yang membahas imamah, bagaimana masalah imamah bisa dibuktikan dengan riwayat? Mir’atul Uqul, jilid 12 hal 525.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya, bagaimana masalah imamah bisa didasarkan dari dalil riwayat ahlulbait jika riwayat mengenai perubahan Al Qur’an ditolak? Karena kitab-kitab yang memuat riwayat dari para imam Ahlulbait, yang dijadikan rujukan bagi mazhab imamiyah [tentang imamah dan nash] juga memuat riwayat tentang perubahan AL Qur’an. Maka Syiah tidak dapat mengingkari riwayat tentang perubahan Al Qur’an, karena mengingkari riwayat perubahan Al Qur’an berarti menolak riwayat tentang imamah dan penunjukan para imam, menolak riwayat mengenai imamah berarti menggugurkan mazhab syiah, karena mazhab syiah imamiyah hanya bersandar pada riwayat-riwayat dari ahlulbait mengenai imamah. Berarti konsekwensi dari mengimani prinsip imamah dalam syiah adalah percaya terhadap perubahan Al Qur’an. Ini berarti seluruh umat syiah wajib meyakini perubahan dan pengurangan Al Qur’an, jika masih ingin meyakini imamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan lagi pernyataan Majlisi, yang menjelaskan bahwa menolak riwayat perubahan Al Qur’an berarti menolak seluruh hadits dan riwayat syiah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;Sumber posting&lt;b&gt;&lt;a href="http://hakekat.com/content/view/14/1/" target="_blank"&gt; KLIK DISINI&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4788195323343721298-3016904954230888788?l=zonaislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zonaislami.blogspot.com/feeds/3016904954230888788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/al-quran-di-mata-syiah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/3016904954230888788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/3016904954230888788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/al-quran-di-mata-syiah.html' title='AL QUR&apos;AN DI MATA SYI&apos;AH'/><author><name>RUSLI HANDREAS</name><uri>https://profiles.google.com/115119439115727042883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-lp3AWZIT08g/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAWk/wPJaC5ozMcM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4788195323343721298.post-5752806775340803378</id><published>2012-02-24T15:53:00.000+07:00</published><updated>2012-02-24T15:53:00.100+07:00</updated><title type='text'>PENJELASAN TENTANG ALI SHALAT SAMBIL MABOK</title><content type='html'>&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;Berisi penjelasan tentang imam Ali Pernah Shalat sambil Mabok. Anda akan tahu mengapa Ali melakukan itu. Yang jelas, Ali tidak berbuat salah ketika shalat sambil mabok...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Beberapa waktu yang lalu, sebuah makalah terpasang di hakekat dengan judul ali shalat sambil mabok.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Makalah ini&amp;nbsp; diawali dengan tulisan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Berikut ini adalah penerapan metodologi syiah terhadap imam syiah sendiri, yaitu Ali bin Abi Thalib.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Di sini memang saya menerapkan metodologi syiah dalam membahas. Jika pembaca ingin melihat penerapan metode ini oleh syiah, contohnya sangat banyak. Inti dari metode ini adalah memfokuskan pada suatu dalil, untuk menciptakan kesan jelek pada sahabat Nabi. Memfokuskan pada suatu dalil, berarti mengabaikan dalil-dalil lain. Ini diterapkan syiah dalam rangka menciptakan image jelek pada sahabat Nabi.&amp;nbsp; Praktek metode ini bisa anda temukan dalam kitab “akhirnya kutemukan kebenaran” yang ditulis oleh seorang syiah bernama tijani samawi, juga oleh ketua ijabi, jalaludin rahmat, yang bantahannya dimuat juga di situs ini.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Insya Allah akan kami bongkar juga kebohongan-kebohongan mereka berdua, tetapi setelah kami menyelesaikan 30 makalah membongkar kebohongan abdul husein al musawi, insya Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Di sini ingin memberi pelajaran bagi syiah, bahwa mestinya mereka juga menerapkan metode yang sama pada Ali bin Abi Thalib.&amp;nbsp; Artinya, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;jika metode yang sama diterapkan pada Ali, hasilnya juga akan menjelekkan Ali.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Ali yang mabok. Karena Ali mabok saat khamr belum diharamkan. Hadits yang saya nukil di makalah asli memang sengaja saya potong. Mari kita lihat nukilan hadits selengkapnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;Dari Ali bin Abi Thalib, bahwa seorang anshar memanggilnya dan Abdurrahman bin Auf, lalu memberi mereka berdua khamr, sebelum diharamkan, lalu Ali menjadi imam dalam shalat maghrib, lalu membaca Qul Ya Ayyuhal Kafirun, lalu salah membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika khamr belum diharamkan, tentunya tidak ada dosa ketika diminum. Tetapi syiah memiliki akidah yang berbeda. Bagi syiah, Ali adalah imam yang maksum sejak lahir, yang tidak pernah melakukan kesalahan. Mereka tidak dapat menerima jika Ali minum khamr, meski saat khamr belum diharamkan. Islam tidak mengharamkan khamr pada awal-awal kedatangannya. Artinya, sahabat Nabi bebas minum khamr tanpa ada dosa, dan minum khamr bukan sebuah kesalahan, karena memang belum haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengharaman khamr dalam Islam tidak secara langsung, tetapi melalui beberapa fase. Fase pertama adalah dengan menyindir tentang bahaya khamr. Ini dalam surat An Nahl ayat 67:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase kedua adalah dengan menjelaskan bahaya khamr, bahwa bahaya khamr lebih banyak dari manfaatnya. Ini dalam surat Al Baqarah ayat 219, saat beberapa sahabat bertanya pada Nabi&amp;nbsp; shallallahu alaihi wasallam&amp;nbsp; tentang khamr, lalu turunlah ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase ketiga adalah pengharaman khamr saat shalat, dengan asbabun nuzul peristiwa ali bin abi thalib yang mabok saat shalat. Artinya sampai di sini masih boleh minum khamr saat tidak mendekati shalat. misalnya setelah shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu terakhir adalah fase pengharaman secara total, yaitu pada surat Al Maidah ayat 90-91&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5:91. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah iman menghunjam dalam dada, baru khamr diharamkan, dan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam langsung menumpahkan khamr yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menukilkan daftar referensi saya, yang jika dilihat sama dengan referensi-referensi yang digunakan oleh syiah untuk menghujat sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika syiah menggunakan referensi-referensi ini untuk menghujat para sahabat, mestinya mereka bisa menerima kenyataan ini, bahwa Ali shalat sambil mabok.&amp;nbsp; Ini menunjukkan metode ilmiah syiah, yang tidak mengedepankan objektifitas. Apa yang sesuai dengan mazhab dan kepentingan syiah seluruhnya shahih. Apa yang menghujat kepentingan syiah pasti dhaif dan harus ditolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada komentar masuk menanyakan tentang asbabun nuzul pengharaman khamr, yaitu hadits yang terdapat di sunan Nasa’I tentang Umar bin Khattab yang berdoa tentang khamr : Ya Allah jelaskanlah tentang khamr pada kami secara tuntas. Lalu turunlah ayat-ayat khamr. Tidak ada pertentangan antara riwayat ini dan riwayat Ali bin Abi Thalib, karena bisa jadi Umar berdoa, dan terjadilah peristiwa Ali bin Abi Thalib yang shalat setelah minum.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;&amp;nbsp;Sumber posting &lt;b&gt;&lt;a href="http://hakekat.com/content/view/83/1/" target="_blank"&gt;KLIK DISINI&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4788195323343721298-5752806775340803378?l=zonaislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zonaislami.blogspot.com/feeds/5752806775340803378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/penjelasan-tentang-ali-shalat-sambil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/5752806775340803378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/5752806775340803378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/penjelasan-tentang-ali-shalat-sambil.html' title='PENJELASAN TENTANG ALI SHALAT SAMBIL MABOK'/><author><name>RUSLI HANDREAS</name><uri>https://profiles.google.com/115119439115727042883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-lp3AWZIT08g/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAWk/wPJaC5ozMcM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4788195323343721298.post-8048133598631568206</id><published>2012-02-24T15:39:00.001+07:00</published><updated>2012-02-24T15:39:13.521+07:00</updated><title type='text'>ABDUL HUSEIN MENGHUJAT ABU HURAIRAH KARENA MISKIN</title><content type='html'>&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;Abu Hurairah dicela oleh abdul husein karena miskin.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;Sejak kapan kemiskinan menjadi sebuah aib?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;&lt;em&gt;Abu Hurairah lahir di Yaman dan besar di sana sampai ia berumur lebih dari 30 tahun. Ia demikian bodoh dan tidak memiliki wawasan, ataupun pengetahuan. Ia adalah seorang papa yang pelupa oleh karena usianya, seorang yatim yang diterjang kemiskinan, menjadi buruh ini dan itu pada laki-laki atau wanita hanya untuk mengisi perutnya, bertelanjang kaki, telanjang dada, puas dengan kerendahan ini, serta nyaman dengan kondisinya.&lt;br /&gt;Namun ketika Allah menegaskan misi Nabi-Nya di Madinah setelah Perang Badar, Uhud, serta al-Ahzab, dan seterusnya, tak ada jalan lain bagi orang miskin menyedihkan ini kecuali masuk Islam.&lt;br /&gt;Menurut sejarawan, ia pindah untuk memberi penghormatan kepada Nabi Muhammad saw. Setelah Perang Khaibar pada tahun ke-7 H.&lt;br /&gt;Adapun persahabatannya dengan Nabi, hanya berlangsung selama tiga tahun sebagaimana yang ia deklarasikan dalam satu hadisnya yang disebutkan oleh Bukhari.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Inilah kata abdul husein tentang Abu Hurairah.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;Pembaca bisa menyimak nanti betapa Abu Hurairah dihina, dicela dan dinista karena dia miskin dan papa. Ini adalah ciri khas paradigma materialisme jahiliyah, yang hanya menjadikan materi sebagai standar dan ukuran untuk menilai segala sesuatu.&lt;br /&gt;Mungkin abdul husein lupa, bahwa seluruh sahabat dulunya adalah jahiliyah. Tidak mengenal Islam. Termasuk juga bangsa Persia, yang berhutang budi pada Umar bin Khattab, karena membawa Islam ke tanah Persia. Tapi sepertinya jasa baik ini tidak mendapat balasan yang setimpal dari bangsa Persi. Bangsa Persi dulunya menyembah api, bukan menyembah Allah yang menciptakan api.&lt;br /&gt;Tidak ada cela bagi orang jahiliyah yang mau menerima kebenaran, dan meninggalkan masa lalunya yang kelam, mengikuti cahaya Islam.&lt;br /&gt;Celaan hanya tertuju pada mereka yang melihat cahaya, tapi enggan mengikuti, kepada mereka yang&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; menutup mata dari kebenaran, memilih bertahan di kegelapan, memilih mempertahankan kebodohan dan jahiliyah. Sudah lebih seribu tahun jahiliyah Quraisy punah, tapi jejak-jejaknya masih diikuti oleh abdul husein, yang mencela Abu Hurairah karena miskin dan papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah adalah orang miskin yang memiliki harga diri. Dia tetap bekerja keras, enggan mengulurkan tangannya pada siapa pun. Ini kondisinya dalam masa jahiliyah, saat belum mengenal Islam. Sudah menunjukkan kemuliaan jiwanya. Dia enggan meminta-minta, memilih untuk bekerja keras.&lt;br /&gt;Berbeda dengan ulama dan marja’ syiah yang hidup dari menjual nama ahlulbait, agar para penganut syiah mau membiayai hidup mereka dengan membayar khumus.&lt;br /&gt;Kita heran ketika ulama syiah sekaliber abdul husein, mencela seseorang hanya gara-gara dia miskin. Dendamnya pada Abu Hurairah begitu membara, membuatnya kehilangan kontrol, hingga nampaklah materialisme yang disembunyikan di balik jubah dan sorbannya.&lt;br /&gt;Sejak kapan kemiskinan membuat seseorang jadi tercela?&lt;br /&gt;Rupanya abdul husein lupa akan ayat Al Qur’an, yang menyebutkan kemuliaan seseorang di mata Allah adalah karena takwa, bukan karena kaya.&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.&amp;nbsp; Al Hujurat&amp;nbsp; ayat 13.&lt;br /&gt;Dalam Al Kafi jilid 5 hal 74, ada sebuah riwayat dari Abdul A’la, budak keluarga Sam, saya bertemu dengan Abu Abdillah di jalan kota Madinah, pada suatu siang yang panas sekali, di musim panas, aku berkata padanya: semoga diriku menjadi tebusanmu, engkau adalah orang mulia di sisi Allah, dan termasuk kerabat dekat Rasulullah SAWW, sedangkan engkau membuat dirimu lelah di hari panas seperti ini? Abu Abdillah –Ja’far As Shadiq- berkata: wahai Abdul A’la, saya keluar untuk mencari rizqi agar tidak membutuhkan orang seperti kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam Al Kafi, dari Abu Ayyub, kami duduk bersama Abu Abdillah, tiba-tiba datanglah Ala’ bin Kamil, lalu duduk di depan Abu Abdillah dan berkata: doakanlah agar saya bisa mendapatkan rizki dengan hidup nyaman, lalu Abu Abdillah menjawab: saya tidak akan mendoakanmu, carilah rizki seperti Allah perintahkan padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kondisi ulama dan ustadz syiah saat ini, mereka tidak bekerja, bergonta ganti wanita dengan alasan mut’ah. Betul-betul nikmat.&lt;br /&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;Ketika penganut syiah sadar, dan meninggalkan ajaran syiah, maka kenikmatan hidup mereka terancam hilang. Tidak ada lagi yang membayar khumus, tidak ada lagi wanita yang bisa diajak mut’ah.&lt;br /&gt;Ketika para ulama syiah dan ustadz syiah menikmati hidup, imam Ja’far As Shadiq keluar rumah di siang hari musim panas yang terik, untuk mencari rizki.&lt;br /&gt;Imam Ja’far bukan seorang yang kaya lagi malas bekerja, sama seperti Abu Hurairah.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4788195323343721298-8048133598631568206?l=zonaislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zonaislami.blogspot.com/feeds/8048133598631568206/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/abdul-husein-menghujat-abu-hurairah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/8048133598631568206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/8048133598631568206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/abdul-husein-menghujat-abu-hurairah.html' title='ABDUL HUSEIN MENGHUJAT ABU HURAIRAH KARENA MISKIN'/><author><name>RUSLI HANDREAS</name><uri>https://profiles.google.com/115119439115727042883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-lp3AWZIT08g/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAWk/wPJaC5ozMcM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4788195323343721298.post-9151179552424824108</id><published>2012-02-24T13:33:00.000+07:00</published><updated>2012-02-24T13:33:49.768+07:00</updated><title type='text'>IMAM HUSEIN DI HATI AHLULSUNAH</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;Tanya jawab penganut syi'ah dan ahlul sunah&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;Pertanyaan: Saya adalah seorang penganut Syi’ah, saya ingin bertanya bagaimana pandangan Ahlussunnah tentang Imam Husein?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;Jawaban:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;Yang Ahlussunnah ketahui tentang Imam Husein, bahwa beliau adalah cucu Nabi dan belahan jiwanya, juga yang paling mirip wajahnya dengan Nabi. Beliau sering mencium cucunya yang satu ini. Imam Husein dan saudaranya Imam Hasan, adalah penghulu pemuda penghuni sorga. Mereka berdua adalah anak dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Tolib, orang yang mencintai dan dicintai Allah dan RasulNya. Ali adalah seorang yang harus dicintai oleh setiap mereka yang mengaku beriman. Ahlussunnah menganggap bahwa mencintai Ali adalah bagian dari iman, dan sebaliknya, membenci dan memusuhi Ali adalah bagian dari kemunafikan, salah satu sifat tercela yang harus dijauhi. Imam Husein adalah anak dari penghulu wanita penghuni sorga, belahan hati Rasulullah, Fatimah Azzahra, juga termasuk Ahlul Bait yang dibersihkan oleh Allah sebersih-bersihnya. Nabi berwasiat pada kita supaya menjaga Ahlul Bait ketika berkhotbah siang hari di tengah terik matahari Ghadir Khum : “Aku ingatkan kalian atas Ahlul Baitku”. Imam Husein adalah penghulu Ahlussunnah, dan cucu Nabi kami, Ahlussunnah mencintai Imam Husein dan yakin bahwa cinta padanya adalah ikatan tali iman. Mencintai Imam Husein termasuk amal terbaik yang dapat dipersembahkan oleh orang beriman pada Allah, dalam rangka melaksanakan sabda Nabi : “seseorang akan bersama dengan yang dicintainya”. Barang siapa mencintai Imam Husein berarti dia telah mencintai Nabi dan sebaliknya, yang membenci Imam Husein berarti telah membenci Nabi. Kami Ahlussunnah beranggapan mengenai Imam Husein sama seperti anggapan Umar bin Khottob tentang beliau : “siapa yang menumbuhkan rambut di kepala kami kalau bukan Allah lalu kalian wahai Ahlul Bait?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;Kami Ahlussunnah meyakini bahwa Imam Husein telah mati dibunuh musuh-musuh yang &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;menzaliminya, kami berlepas diri dari seluruh orang celaka yang telah membunuhnya atau bantu-membantu dalam membunuh Imam Husein, atau mereka yang ridho atas kezaliman yang menimpanya. Kami meyakini bahwa kezaliman yang menimpa Imam Husein adalah curahan karunia dari Allah pada beliau, untuk meninggikan derajatnya, memuliakan pangkatnya, seperti sabda kakeknya : “para Nabi adalah orang yang paling berat ujiannya, lalu orang yang terbaik di setelah mereka dan seterusnya”. Dengan perantaraan ujian yang berat ini Allah mengaruniakan padanya pangkat mulia sebagai seorang syahid. Dengan ujian ini Allah mengangkatnya ke derajat para pendahulu ahlul bait yang sabar ditimpa cobaan di masa awal Islam, begitulah, Imam Husein juga bersabar dalam menghadapi ujian berat yang menimpa dirinya, sehingga Allah menyempurnakan nikmatnya dengan karunia syahadah. Perlu diketahui, bahwa karunia sebagai syahid tidak pernah diberikan kecuali pada orang yang sabar dalam menghadapi cobaan, ternyata Imam Husein termasuk mereka yang layak mendapatkannya. Kami yakin, sejak itu, kaum muslimin tidak pernah ditimpa musibah lebih besar dari syahidnya Imam Husein.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;Setiap kami mengingat musibah itu, kami selalu mengucapkan perkataan yang diajarkan oleh Fatimah binti Husein, yang ikut hadir saat ayahnya syahid, dari ayahnya dari kakeknya yaitu Rasulullah, bahwa beliau bersabda : “barang siapa ditimpa musibah dan ingat akan musibah itu, lalu ber istirja’ (mengucapkan Inna lillahi...dst) maka Allah akan memberinya pahala sama seperti pahala musibah itu ketika menimpanya walaupun musibah itu sudah lama terjadi.” Maka kami mengucapkan&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Inna lillahi wa inna ilaihi Roji’un”, karena kami ingin mendapat berita gembira dari Allah :&amp;nbsp;&lt;em&gt;“berilah kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar, yaitu mereka yang mengatakan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ketika ditimpa musibah. Mereka akan mendapat pujian dan rahmat dari Allah, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;Walaupun kami mencintai Imam Husein, tapi kami tidak akan melanggar batas yang telah ditetapkan oleh kakeknya, Rasulullah, yang telah bersabda : “ janganlah kalian berlebihan dalam memujiku seperti kaum nasrani berlebihan dalam memuji Isa bin Maryam, tapi cukup katakanlah : Muhammad adalah Hamba Allah dan RasulNya”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;Ahlussunnah tidak berdoa dan meminta pertolongan pada Imam Husein dengan alasan menghormatinya&lt;a href="http://hakekat.com/content/view/12/1/#_ftn1" name="_ftnref1" style="color: #333333; text-decoration: none;" title="_ftnref1"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&amp;nbsp;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, karena Allah melarang kami berbuat demikian. Ahlussunnah tidak memperlakukan Nabi dan Ahlulbaitnya seperti memperlakukan Allah, sebagaimana kaum Nasrani menyekutukan Allah dengan Isa dan Maryam yang akhirnya menjadikan mereka berdua sebagai tuhan selain Allah. Ahlussunnah beranggapan bahwa Ahlul Bait tidak memiliki posisi dan kewenangan yang hanya dimiliki para Nabi, seperti kemaksuman dan kewenangan membuat syareat baru, yang hanya dimiliki oleh para Nabi sebagai penyampai Risalah Allah. Ahlussunnah meyakini bahwa Ahlul Bait adalah pengikut Nabi yang terbaik dan penyampai dakwah Nabi Muhammad, kita semua mengetahui bahwa Ahlul Bait adalah manusia biasa, tapi mereka adalah manusia-manusia terbaik. Namun ahlul bait tidak pernah merasa bahwa menjadi kerabat Nabi adalah jaminan keselamatan di akherat, seperti anggapan sebagian orang yang mengaku keturunan Nabi saat ini. Ahlul Bait adalah mereka yang paling keras membela Islam dan paling depan dalam melaksanakan ajaran Islam, seperti dijelaskan Imam Ali Zainal Abidin : Aku berharap Allah akan memberi pahala dua kali lipat bagi ahlul bait yang berbuat baik, namun takut Allah akan memberi dosa dua kali lipat bagi ahlul bait yang berbuat dosa.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;Ahlussunnah tidak melanggar perintah kakek Imam Husein, Rasulullah, yang melarang ummatnya meratap, memukul badan dan menobek pakaian ketika ditimpa musibah&lt;a href="http://hakekat.com/content/view/12/1/#_ftn2" name="_ftnref2" style="color: #333333; text-decoration: none;" title="_ftnref2"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&amp;nbsp;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Rasulullah menerangkan bahwa perbuatan itu termasuk perbuatan jahiliyah. Bahkan Hamzah, paman Nabi, telah dibunuh dan dirusak mayatnya, Nabi pun bersedih, beliau tidak pernah ditimpa musibah seberat ketika pamannya dibunuh dan dirusak mayatnya di perang uhud. Namun tidak pernah menjadikan hari terbunuhnya Hamzah sebagai hari duka cita yang penuh dengan tangis ratapan. Begitu juga Ali, tidak pernah berbuat demikian saat memperingati wafatnya Nabi, juga Imam Hasan dan Imam Husein tidak pernah mengadakan acara duka cita dan ratapan pada hari peringatan wafatnya Ali. Maka Ahlussunnah tidak menjadikan hari peringatan wafatnya Imam Husein sebagai hari duka cita, kami meniru hal itu dari petunjuk Nabi yang diikuti oleh Ali dan kedua puteranya, Hasan dan Husein.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;Hari Asyura adalah hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa dari ancaman dan kejaran Fir’aun, Rasulullah berpuasa pada hari itu sebagai ungkapan syukur pada Allah, Ahlussunnah berpuasa pada hari itu mencontoh Nabi yang telah berpuasa pada hari itu. Pada hari itu cucu Rasulullah jatuh syahid menemui Allah, menyusul kakek, ayah, ibu dan kakaknya. Kami bersabar dan mengharap pahala Allah atas kesedihan kami terhadap musibah itu. Pada hari itu Ahlussunnah melaksanakan dua amalan besar, yaitu bersyukur atas selamatnya Nabi Musa dan bersabar atas musibah yang menimpa, yaitu syahidnya Imam Husein. Sama dengan tanggal 17 Ramadhan, Ahlussunnah bersyukur memperingati kemenangan Nabi dan para sahabatnya di perang Badar, sekaligus bersedih memperingati syahidnya Ali bin Abi Thalib. Juga hari Senin, dimana pada hari itu Nabi Muhammad lahir dan wafat. Kami berpuasa sebagai ungkapan rasa syukur atas selamatnya Nabi Musa, kami juga bersedih dan bersabar, serta tak lupa mengucapkan istirja’ Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun atas musibah syahidnya cucu baginda Nabi, Imam Husein, dengan hati yang penuh pengharapan, kiranya dapat masuk ke golongan mereka yang diberi kabar gembira.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;Saudara penanya, firasat saya mengatakan, bahwa dengan mengajukan pertanyaan ini, anda sedang mencari kebenaran karena desakan rasa ingin tahu yang ada dalam hati anda. Anda hendaknya sudi mencontoh Imam Ali, yang meskipun sedang berusia muda, tapi berani mengambil sikap tegas dan meninggalkan ajaran kaumnya, masuk dalam agama Islam yang turun pada Nabi Muhammad, walaupun ketika itu pengikut Nabi baru sedikit, lagi lemah dan tertindas. Seluruh kehidupan Imam Ali menjadi teladan bagi kita agar selalu mengikuti dan mempertahankan kebenaran walaupun dengan harga yang amat mahal.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;Ketahuilah wahai saudaraku, umur yang kita punya sungguh amat pendek untuk habis tenggelam dalam bahtera keraguan. Waktu yang ada sungguh sempit untuk habis karena ikut pada kesesatan. Mari kita mencari kebenaran sekuat tenaga, bersimpuh kepada Allah memanjatkan doa munajat, agar berkenan memberikan pada kita petunjuk jalan yang benar, mengilhamkan kepada kita semua hidayah ketika manusia berselisih pendapat, membimbing kita semua menuju ridhoNya, membimbing kita ke jalan yang lurus, jalan mereka yang telah diberi nikmat oleh Allah, jalan para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Sholihin. Kita harus mengerti dan sadar, jika bukan karena rahmat dan hidayah Allah yang tercurah pada kita, kita akan terus berkubang dalam kesesatan dan kebingungan. Ya Allah, dengan kecintaan kami pada NabiMu dan Ahlul Bait, kami memohon padaMu, kiranya Engkau sudi membimbing kami ke jalan NabiMu dan Ahlul Bait, menuntun kami agar dapat bersama mereka kelak di akherat, memberi hidayah agar kami dapat mengikuti jalan mereka. Amin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;Dr. Abdul Wahhab Al Turairi&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr style="background-color: white; border-bottom-color: initial; border-bottom-style: initial; border-bottom-width: 0px; border-left-color: initial; border-left-style: initial; border-left-width: 0px; border-right-color: initial; border-right-style: initial; border-right-width: 0px; border-top-color: rgb(192, 192, 192); border-top-style: solid; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; height: 1px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;&lt;a href="http://hakekat.com/content/view/12/1/#_ftnref1" name="_ftn1" style="color: #333333; text-decoration: none;" title="_ftn1"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Ahlussunnah tidak mengatakan: Ya Husein… adrikni, atau Ya Sohibazzaman… Adrikni&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;&lt;a href="http://hakekat.com/content/view/12/1/#_ftnref2" name="_ftn2" style="color: #333333; text-decoration: none;" title="_ftn2"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Syi’ah memperingati Syahidnya Imam Husein dengan memukul badan, baik dengan tangan kosong maupun dengan senjata tajam, merobek pakaian dan meratap-ratap.&lt;/div&gt;&lt;br class="Apple-interchange-newline" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4788195323343721298-9151179552424824108?l=zonaislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zonaislami.blogspot.com/feeds/9151179552424824108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/imam-husein-di-hati-ahlulsunah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/9151179552424824108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/9151179552424824108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/imam-husein-di-hati-ahlulsunah.html' title='IMAM HUSEIN DI HATI AHLULSUNAH'/><author><name>RUSLI HANDREAS</name><uri>https://profiles.google.com/115119439115727042883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-lp3AWZIT08g/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAWk/wPJaC5ozMcM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4788195323343721298.post-6499458417414270549</id><published>2012-02-24T13:26:00.000+07:00</published><updated>2012-02-24T13:26:08.420+07:00</updated><title type='text'>YANG TERSISA DARI KARBALA</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;Ada cerita menarik dari Karbala yang sengaja dirahasiakan oleh syi'ah, mau tahu? baca selengkapnya...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal" dir="ltr" style="background-color: white; color: #333333; direction: ltr; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Ada bagian penting yang sering tertinggal dari sejarah Imam Husein, nampaknya bagian yang penting ini sangat jarang sekali dibahas, sehingga pembaca yang ditakdirkan melewatkan pandangannya pada tulisan kali ini sangat beruntung, karena menemukan pembahasan yang hampir belum pernah dibahas.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal" dir="ltr" style="background-color: white; color: #333333; direction: ltr; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Kali ini pembaca akan menikmati uraian tentang anak-anak Imam Husein. Sebagaimana kita ketahui bersama, Imam Husein adalah seorang cucu Nabi, manusia yang dicintai oleh Nabi sebagaimana kita mencintai cucunya. Bahkan konon seorang kakek lebih mencintai cucunya dari ayah si cucu yang merupakan anaknya sendiri. Kecintaan nabi kepada Imam Husein begitu besar,begitu juga kepada kakaknya yaitu Imam Hasan. Kita sebagai orang beriman yang mencintai Nabi wajib mencintai mereka yang dicintai Nabi, termasuk cucundanya yang satu ini, sebagai bukti kecintaan kita kepada Kakeknya. Namun kecintaan kita kepada sang Kakek haruslah lebih besar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal" dir="ltr" style="background-color: white; color: #333333; direction: ltr; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Waktu kemudian berlalu sehingga Muawiyah Ra mangkat dan mengangkat Yazid sebagai khalifah. Imam Husein yang enggan berbaiat kepada Yazid segera melarikan diri ke mekkah. Sesampai di mekkah penduduk kota Kufah mengirimkan surat yang jumlahnya &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;mencapai 12000 pucuk surat, yang isinya meminta sang Imam untuk berangkat ke Kufah, di mana penduduknya sudah bersiap sedia untuk membaiat Imam Husein sebagai khalifah. Di antara isi surat itu adalah memberitahu sang Imam bahwa di Kufah terdapat 100000 pasukan yang siap berdiri di belakangnya untuk melawan Bani Umayyah (Lihat kitab Faji'atu Thaff hal 6, karangan Muhammad Kazhim Al Qazweini) Membaca surat itu, sang Imam yakin akan kesiapan 100000 penduduk kufah yang telah siap dengan pedang terhunus untuk melawan dan "kezhaliman bani Umayah", Imam Husein akhirnya berangkat menuju kufah bersama keluarganya. Namun kali ini imam tertipu. Sebelum sampai ke kota Kufah rombongan beliau dicegat oleh tentara suruhan Ibnu Ziyad yang dipimpin oleh Umar bin Saad. Ketika rombongan sang Imam dicegat, kita tidak mendengar 100000 pasukan yang konon siap membela Imam Husein itu ikut membela dan berperang melawan musuhnya, kita tidak tahu kemana perginya mereka, begitu juga 12000 orang yang menuliskan surat ketika sang Imam berada di mekkah. Jika 100000 orang yang mengaku pembela Imam itu ikut berada di padang Karbala, pasti "tentara bani umayah" dapat dengan mudah dikalahkan. Mereka yang memanggil sang Imam begitu saja lari dari tanggungjawab. Mereka tega membiarkan cucu sang Nabi terakhir dijadikan bulan-bulanan, mereka tega darah suci keluarga nabi tumpah akibat larinya mereka dari tanggungjawab. Di dunia mereka bisa lari, namun di akhreat kelak tidak. Sang Imam beserta rombongannya dibiarkan begitu saja menjadi korban pengkhianatan mereka yang mengaku sebagai pengikut dan pembelanya. Rupanya inilah karakter mereka yang mengaku-aku dan sok menjadi pembela ahlulbait sejak zaman para imam.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal" dir="ltr" style="background-color: white; color: #333333; direction: ltr; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Akhirnya sang Imam pun Syahid menjadi korban pengkhianatan mereka yang mengaku menjadi pembelanya. Sang Imam Syahid beserta para keluarganya, di antaranya adalah : saudara sang Imam, putra Ali bin Abi Thalib : Abubakar, Umar, Utsman. Bisa dilihat di kitab Ma'alimul Madrasatain karangan Murtadha Al Askari, jilid 3 hal 127. juga dalam kitab Al Irsyad karangan Muhammad&amp;nbsp;&amp;nbsp;bin Nukman Al Mufid hal. 197, I'lamul Wara karangan Thabrasi hal 112, juga kitab Kasyful Ghummah karangan Al Arbali jilid 1 hal 440. ini adalah sebagian referensi saja, yang lainnya sengaja tidak kami sebutkan karena terlalu banyak. Sementara putra Imam Husein di antaranya : Abubakar bin Husain dan Umar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal" dir="ltr" style="background-color: white; color: #333333; direction: ltr; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Sampai di sini mungkin pembaca belum tersadar akan sebuah fenomena yang menarik. Kita lihat di sini Imam Ali dan Imam Husein menamakan anaknya dengan nama para perampas haknya. Kita ketahui bahwa syiah meyakini bahwa khilafah bagi Ali telah ternashkan dari ketentuan Allah dan RasulNya, sedangkan mereka yang tidak mengakui adanya nash dianggap merasa lebih pandai dari Nabi. Dalam sejarah diyakini oleh syiah bahwa Abubakar telah merampas hak yang semestinya menjadi milik Ali. Di antara bentuk protes Ali adalah khotbah syaqsyaqiyyah yang tercantum dalam sebuah literatur penting syiah yaitu kitab Nahjul Balaghah. Namun yang aneh di sini adalah Ali yang memberi nama anaknya dengan nama si perampas hak yang sudah tentu bagi syi'ah adalah dibenci Allah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal" dir="ltr" style="background-color: white; color: #333333; direction: ltr; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Begitu juga menamai anaknya dengan nama Umar, sang penakluk yang telah mengubur kerajaan persia untuk selamanya, dan orang yang konon memukul bunda Fatimah hingga keguguran. Sering kita dengar bahwa Umar telah memukul Fatimah, perempuan suci putri Nabi dan istri Ali hingga janin yang dikandungnya gugur, sungguh nekad orang yang berani memukul putri Nabi. Namun dalam sejarah tidak disebutkan pembelaan Ali terhadap istrinya yang dipukul, malah memberi nama anaknya dengan nama orang yang memukul putri Nabi yang sekaligus adalah istrinya. Sementara di sisi lain kita tidak pernah menemukan bahwa Ali memberi nama anaknya dengan nama ayahnya yang "tercinta" yaitu Abu Thalib. Begitu juga para imam ahlulbait tidak pernah tercantum bahwa mereka memberi nama anak mereka dengan nama Abu Thalib. Apakah para imam ahlulbait lebih mencintai Abubakar dibanding cinta mereka pada Abu Thalib, kakek mereka sendiri? Ternyata fakta berbicara demikian. Mengapa tidak ada seorang imam maksum –terbebas dari kesalahan dan dosa- yang memberi nama anaknya dengan nama Abu Thalib? Jika ada yang mengatakan bahwa para Imam Ahlulbait memberi nama anak mereka dengan nama-nama musuh karena basa basi, apakah para imam begitu penakut sehingga harus berbasa basi dalam hal nama anak?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal" dir="ltr" style="background-color: white; color: #333333; direction: ltr; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Ataukah para imam begitu hina mau dipaksa orang lain untuk memberi nama anaknya sendiri?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal" dir="ltr" style="background-color: white; color: #333333; direction: ltr; font-family: Verdana, Tahoma, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Sumber posting &lt;b&gt;&lt;a href="http://hakekat.com/content/view/19/1/" target="_blank"&gt;KLIK DISINI&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br class="Apple-interchange-newline" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4788195323343721298-6499458417414270549?l=zonaislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zonaislami.blogspot.com/feeds/6499458417414270549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/yang-tersisa-dari-karbala.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/6499458417414270549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/6499458417414270549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/yang-tersisa-dari-karbala.html' title='YANG TERSISA DARI KARBALA'/><author><name>RUSLI HANDREAS</name><uri>https://profiles.google.com/115119439115727042883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-lp3AWZIT08g/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAWk/wPJaC5ozMcM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4788195323343721298.post-874992478836233587</id><published>2012-02-24T13:04:00.003+07:00</published><updated>2012-02-24T13:04:43.267+07:00</updated><title type='text'>Bersumpah dengan menyebut nama selain Allah</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;Kaum muslimin yang semoga selalu mendapatkan taufiq Allah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: white; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;. Kita semua telah mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb (Tuhan) alam semesta, Yang menciptakan kita dan orang-orang sebelum kita, Yang menjadikan bumi sebagai hamparan untuk kita mencari nafkah, dan Yang menurunkan hujan untuk menyuburkan tanaman sebagai rizki bagi kita. Setelah kita mengetahui demikian, hendaklah kita hanya beribadah kepada Allah semata dan tidak menjadikan bagi-Nya tandingan/sekutu dalam beribadah. Allah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: white; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&amp;nbsp;berfirman yang artinya,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;i style="background-color: white;"&gt;“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;span style="background-color: yellow; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah&lt;/span&gt;&lt;i style="background-color: white;"&gt;, padahal kamu mengetahui.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&amp;nbsp;(Al Baqarah [2]: 22)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="background-color: white; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Lebih samar dari jejak semut di atas batu hitam di tengah kegelapan malam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;Sahabat Ibnu Abbas&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: white; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/em&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&amp;nbsp;–yang sangat luas dan mendalam ilmunya- menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;”Yang dimaksud&amp;nbsp;&lt;span style="background-color: yellow;"&gt;&lt;span style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;membuat sekutu bagi Allah&lt;/span&gt;&amp;nbsp;(dalam ayat di atas, pen) adalah&amp;nbsp;&lt;span style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;berbuat syirik&lt;/span&gt;.&amp;nbsp;&lt;span style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Syirik adalah suatu perbuatan dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali &amp;nbsp;daripada jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam&lt;/span&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Kemudian Ibnu Abbas&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/em&gt;&amp;nbsp;mencontohkan perbuatan syirik yang samar tersebut seperti, ‘&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan&lt;/em&gt;’, ‘&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Demi hidupku&lt;/em&gt;’ atau ‘&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Kalau bukan karena anjing kecil orang ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu&lt;/em&gt;’ atau ‘&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini tentu datanglah pencuri-pencuri itu&lt;/em&gt;’, dan ucapan seseorang kepada kawannya&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu&lt;/em&gt;’, juga ucapan seseorang ‘&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Kalau bukan karena Allah dan karena fulan&lt;/em&gt;’. Akhirnya beliau&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/em&gt;&amp;nbsp;mengatakan, ”Janganlah engkau menjadikan si&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;fulan&lt;/em&gt;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;(sebagai sekutu bagi Allah, pen)&amp;nbsp; dalam ucapan-ucapan tersebut. Semua ucapan ini adalah perbuatan SYIRIK.” (HR. Ibnu Abi Hatim) (Lihat&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Kitab Tauhid&lt;/em&gt;, Syaikh Muhammad At Tamimi)&amp;nbsp;&lt;strong style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Itulah&amp;nbsp;syirik&lt;/strong&gt;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;.&lt;/em&gt;&amp;nbsp;Ada sebagian yang telah diketahui dengan jelas seperti menyembelih, bernadzar, berdo’a, meminta dihilangkan musibah (&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;istighotsah&lt;/em&gt;) kepada selain Allah. Dan terdapat pula bentuk syirik (seperti dikatakan Ibnu Abbas di atas) yang sangat sulit dikenali (sangat samar). Syirik seperti ini ada 2 macam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: underline; vertical-align: baseline;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;strong style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;,&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;syirik dalam niat dan tujuan. Ini termasuk perbuatan yang samar karena niat terdapat dalam hati dan yang mengetahuinya hanya Allah&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;. Seperti seseorang yang shalat dalam keadaan ingin dilihat (&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;riya’&lt;/em&gt;) atau didengar (&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;sum’ah&lt;/em&gt;) orang lain. Tidak ada yang mengetahui perbuatan seperti ini kecuali Allah&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: underline; vertical-align: baseline;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;strong style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;,&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;syirik yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Syirik seperti ini adalah seperti syirik dalam ucapan (selain perkara&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;i’tiqod&lt;/em&gt;/keyakinan). Syirik semacam inilah yang akan dibahas pada kesempatan kali ini. Karena kesamarannya lebih dari jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam. Oleh karena itu, sedikit sekali yang mengetahui syirik seperti ini secara jelas. (Lihat&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;I’anatul Mustafid bisyarh Kitabut Tauhid&lt;/em&gt;, hal. 158, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Berikut ini akan disebutkan beberapa contoh syirik yang masih samar, dianggap remeh, dan sering diucapkan dengan lisan oleh manusia saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="background-color: white; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Mencela makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Perbuatan seperti ini banyak dilakukan oleh kebanyakan manusia saat ini –barangkali juga kita-. Lidah ini begitu mudahnya mencela makhluk yang tidak mampu berbuat sedikit pun, seperti di antara kita sering mencela waktu, angin, atau pun hujan. Misalnya dengan mengatakan, ‘&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Bencana ini bisa terjadi karena bulan ini adalah bulan Suro&lt;/em&gt;’ atau mengatakan ‘&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Sialan!Gara-gara angin ribut ini, kita gagal panen&lt;/em&gt;’ atau dengan mengatakan pula, ‘&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Aduh!! hujan lagi, hujan lagi’&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;Lidah ini begitu mudah mengucapkan perkataan seperti itu. Padahal makhluk yang kita cela tersebut&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: yellow; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;tidak mampu berbuat apa-apa kecuali atas kehendak Allah&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;. Mencaci mereka pada dasarnya telah mencaci, mengganggu dan menyakiti yang telah menciptakan dan mengatur mereka yaitu Allah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: white; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;Nabi&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: white; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&amp;nbsp;bersabda,&lt;/span&gt;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;“Allah Ta’ala berfirman, ‘&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: #d9ead3; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu)&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;, padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.’ ”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="background-color: white; border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial;"&gt;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;(HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: white; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;shallallahu ‘alaihi wa&lt;/em&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&amp;nbsp;sallam juga bersabda,”&lt;/span&gt;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: #b6d7a8; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Janganlah kamu mencaci maki angin&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="background-color: white; border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial;"&gt;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;(HR. Tirmidzi, beliau mengatakan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: white; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;hasan shohih&lt;/em&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Dari dalil-dalil ini terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu), angin dan makhluk lain yang tidak dapat berbuat apa-apa adalah&amp;nbsp;&lt;span style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: underline; vertical-align: baseline;"&gt;terlarang&lt;/span&gt;. Larangan ini bisa termasuk&amp;nbsp;&lt;strong style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;syirik akbar&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;(syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam) jika diyakini makhluk tersebut sebagai pelaku dari sesuatu yang jelek yang terjadi. Meyakini demikian berarti meyakini bahwa makhluk tersebut yang menjadikan baik dan buruk dan ini sama saja dengan menyatakan ada pencipta selain Allah. Namun, jika diyakini yang menakdirkan adalah Allah sedangkan makhluk-makhluk tersebut bukan pelaku dan hanya sebagai sebab saja, maka seperti ini termasuk&amp;nbsp;&lt;strong style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;keharaman&lt;/strong&gt;, tidak sampai derajat syirik. Dan apabila yang dimaksudkan cuma sekedar pemberitaan, -seperti mengatakan,’&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Hari ini sangat panas sekali, sehingga kita menjadi capek&lt;/em&gt;’-, tanpa tujuan mencela sama sekali maka seperti ini tidaklah mengapa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;strong style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Bersumpah dengan menyebut&lt;/strong&gt;&lt;strong style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;n&lt;/strong&gt;&lt;strong style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;ama selain Allah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Bersumpah dengan nama selain Allah juga sering diucapkan oleh orang-orang saat ini, seperti ucapan, ‘&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Demi Nyi Roro Kidul&lt;/em&gt;’ atau ‘&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Aku bersumpah dengan nama …&lt;/em&gt;’. Semua perkataan seperti ini&amp;nbsp;&lt;span style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: underline; vertical-align: baseline;"&gt;diharamkan&lt;/span&gt;&amp;nbsp;bahkan termasuk&amp;nbsp;&lt;strong style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;syirik&lt;/strong&gt;. Karena hal tersebut menunjukkan bahwa dalam hatinya mengagungkan selain Allah kemudian digunakan untuk bersumpah. Padahal pengagungan seperti ini&amp;nbsp;&lt;span style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: underline; vertical-align: baseline;"&gt;hanya boleh diperuntukkan kepada Allah&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;&amp;nbsp;semata&lt;/span&gt;. Barangsiapa mengagungkan selain Allah&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;&amp;nbsp;dengan suatu pengagungan yang hanya layak diperuntukkan kepada Allah&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;, maka dia telah terjatuh dalam&amp;nbsp;&lt;strong style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;syirik akbar&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;(syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam). Namun, apabila orang yang bersumpah tersebut tidak meyakini keagungan sesuatu yang dijadikan sumpahnya tersebut sebagaimana keagungan Allah&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;, maka dia telah terjatuh dalam&amp;nbsp;&lt;strong style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;syirik ashgor&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;(syirik kecil yang lebih besar dari dosa besar).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Berhati-hatilah dengan bersumpah seperti ini karena Nabi&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;telah bersabda yang artinya,”&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kekafiran atau kesyirikan.&lt;/em&gt;” (HR. Tirmidzi dan Hakim dishahihkan Syaikh Al Albani dalam&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Shohihul Jaami’&lt;/em&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="background-color: white; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Menyandarkan nikmat kepada selain Allah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Perbuatan ini juga dianggap sepele oleh kebanyakan orang saat ini. Padahal menyandarkan nikmat kepada selain Allah termasuk syirik dan kekufuran kepada-Nya. Allah&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;&amp;nbsp;mengatakan tentang orang yang mengingkari nikmat Allah dalam firman-Nya yang artinya, ”&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.”&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(An Nahl: 83)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Menurut salah satu penafsiran ayat ini : ‘Mereka mengenal berbagai nikmat Allah (yaitu semua nikmat yang disebutkan dalam surat An Nahl) dengan hati mereka, namun&amp;nbsp;&lt;span style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: underline; vertical-align: baseline;"&gt;lisan mereka menyandarkan berbagai nikmat tersebut kepada selain Allah&lt;/span&gt;. Atau mereka mengatakan nikmat tersebut berasal dari Allah, akan tetapi hati mereka menyandarkannya kepada selain Allah’.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Menyandarkan nikmat kepada selain Allah termasuk syirik karena orang yang menyadarkan nikmat kepada selain Allah berarti telah menyatakan bahwa selain Allah-lah yang telah memberikan nikmat (ini termasuk syirik dalam tauhid rububiyah). Dan ini juga berarti dia telah meninggalkan ibadah syukur. Meninggalkan syukur berarti telah menafikan (meniadakan) tauhid. Setiap hamba mempunyai kewajiban untuk bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Contoh dari hal ini adalah mengatakan ‘&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Rumah ini adalah warisan dari ayahku&lt;/em&gt;’. Jika memang cuma sekedar berita tanpa melupakan Sang Pemberi Nikmat yaitu Allah, maka perkataan ini&amp;nbsp;&lt;strong style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;tidaklah mengapa&lt;/strong&gt;. Namun, yang dimaksudkan termasuk&amp;nbsp;&lt;strong style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;syirik&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;di sini adalah jika dia mengatakan demikian dan melupakan Sang Pemberi Nikmat yaitu Allah&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Marilah kita berusaha tatkala mendapatkan nikmat, selalu bersyukur pada Allah dengan memenuhi 3 rukun syukur, yaitu: [1] Mensykuri nikmat tersebut dengan lisan, [2] Mengakui nikmat tersebut berasal dari Allah dengan hati, dan [3] Berusaha menggunakan nikmat tersebut dengan melakukan ketaatan kepada Allah. &amp;nbsp;(Lihat&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;I’anatul Mustafid&lt;/em&gt;, hal. 148-149 dan&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid&lt;/em&gt;, II/93)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="background-color: white; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; font-weight: bold; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Perbaikilah Diri&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Jarang sekali manusia mengetahui bahwa hal-hal di atas termasuk kesyirikan dan kebanyakan orang selalu menyepelekan hal ini dengan sering mengucapkannya . Padahal Allah&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;&amp;nbsp;telah berfirman yang artinya, ”&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni dosa yang berada di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya&lt;/em&gt;. (QS. An Nisa [4]: 116).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Oleh karena itu, sangat penting sekali bagi kita untuk mempelajari aqidah di mana perkara ini sering dilalaikan dan jarang dipelajari oleh kebanyakan manusia. Aqidah adalah poros dari seluruh perkara agama. Jika aqidah telah benar, maka perkara lainnya juga akan benar. Jika aqidah rusak, maka perkara lainnya juga akan rusak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Hendaknya pula kita memperbaiki diri dengan selalu memikirkan terlebih dahulu apa yang kita hendak ucapkan. Ingatlah sabda Nabi yang mulia&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, ”&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Boleh jadi seseorang mengucapkan suatu kata yang diridhai Allah namun tidak ia sadari, sehingga karena ucapannya ini Allah mengangkat derajatnya.&lt;/em&gt;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: underline; vertical-align: baseline;"&gt;Namun boleh jadi seseorang mengucapkan suatu kata yang dimurkai Allah dan tidak ia sadari, sehingga karena ucapannya ini Allah memasukkannya dalam neraka&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;.” (HR. Bukhari)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Jika kita sudah terlanjur melakukan syirik yang samar ini, maka leburlah dengan do’a yang pernah diucapkan Nabi kita&amp;nbsp;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;: ’&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika sya’an wa ana a’lamu wa astaghfiruka minadz dzanbilladzi laa a’lamu&lt;/em&gt;’ (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyukutakan-Mu dengan sesuatu padahal aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampunan kepada-Mu dari kesyirikan yang tidak aku sadari) (HR. Ahmad).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; line-height: 18px; margin-bottom: 1.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;[Muhammad Abduh Tuasikal]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4788195323343721298-874992478836233587?l=zonaislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zonaislami.blogspot.com/feeds/874992478836233587/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/bersumpah-dengan-menyebut-nama-selain.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/874992478836233587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4788195323343721298/posts/default/874992478836233587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zonaislami.blogspot.com/2012/02/bersumpah-dengan-menyebut-nama-selain.html' title='Bersumpah dengan menyebut nama selain Allah'/><author><name>RUSLI HANDREAS</name><uri>https://profiles.google.com/115119439115727042883</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-lp3AWZIT08g/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAWk/wPJaC5ozMcM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4788195323343721298.post-3457817530310291307</id><published>2012-02-24T09:05:00.004+07:00</published><updated>2012-02-24T09:05:44.882+07:00</updated><title type='text'>Makna Islam dan iman</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Oleh :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-align: center; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt;Muhammad bin Abdullah At Tuwaijry&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="direction: ltr; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 3.75pt; margin-right: 3.75pt; margin-top: 7.5pt; mso-line-height-alt: 14.2pt; text-align: center; text-indent: 22.5pt; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 18.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Tidak ada keberuntungan bagi umatmanusia di dunia dan akhirat kecuali dengan Islam. Kebutuhan mereka terhadapnyamelebihi kebutuhan terhadap makanan, minuman, dan udara. Setiap manusiamembutuhkan syari'at. Maka, dia berada di antara dua gerakan: gerakan yangmenarik kepada perkara yang berguna dan gerakan yang menolak mara bahaya. Islamadalah penerang yang menjelaskan perkara yang bermanfaat dan berbahaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;. Agama Islam ada tiga tingkatan:Islam, iman dan ihsan. Dan setiap tingkatan mempunyai rukun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;. Perbedaan diantara Islam, iman dan ihsan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Islamdan iman bila disebutkan secara bersamaan, maka yang dimaksud dengan Islamadalah amal perbuatan yang nampak, yaitu rukun Islam yang lima, dan pengertianiman adalah amal perbuatan yang tidak nampak, yaitu rukun iman yang enam. Danbila hanya salah satunya (yang disebutkan) maka maksudnya adalah makna danhukum keduanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;. Ruang lingkup ihsan lebih umumdaripada iman, dan iman lebih umum daripada Islam. Ihsan lebih umum dari sisimaknanya; karena ia mengandung makna iman. Seorang hamba tidak akan bisa menujumartabat ihsan kecuali apabila ia telah merealisasikan iman dan ihsan lebihspesifik dari sisi pelakunya; karena ahli ihsan adalah segolongan ahli iman.Maka, setiap muhsin adalah mukmin dan tidak setiap mukmin adalah muhsin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;. Iman lebih umum daripada Islamdari maknanya; karena ia mengandung Islam. Maka, seorang hamba tidak akansampai kepada tingkatan iman kecuali apabila telah merealisasikan Islam daniman lebih spesifik dari sisi pelakunya; karena ahli iman adalah segolongandari ahli Islam (muslim), bukan semuanya. Maka, setiap mukmin adalah muslim dantidak setiap muslim adalah mukmin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;. PengertianIslam:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Islamadalah berserah diri kepada Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt; dengan tauhiddan tunduk kepada-Nya dengan taat dan berlepas diri dari perbuatan syirik danpelakunya. Barangsiapa yang berserah diri kepada Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt; saja, maka diaadalah seorang muslim. Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt; dan yanglainnya, maka dia adalah seorang musyrik. Dan barangsiapa yang tidak berserahdiri kepada Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;, maka diaseorang kafir yang sombong.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Rukun-Islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;b&gt;RukunIslam ada &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Dari Ibnu Umar &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;, ia berkata,"Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt; bersabda, 'Islamdibangun atas &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;perkara: Bersaksi bahwa tidak ada &lt;i&gt;Ilah&lt;/i&gt; (yang berhak disembah) selainAllah dan Muhammad adalah utusan Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;, mendirikanshalat, menunaikan zakat, berhaji, dan puasa Ramadhan." Muttafaqun 'Alaih.&lt;a href="file:///C:/Documents%20and%20Settings/ramesh/My%20Documents/id_meaning_of_islam.doc#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 12pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;. PengertianSyahadah (&lt;i&gt;laailaaha illallah&lt;/i&gt;):&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Manusiamengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada yang berhak disembah selainAllah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;, dansesembahan-sesembahan selain Dia &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;, makaketuhanannya adalah batil dan ibadahnya juga batil. Kalimah syahadah tersebutmengandung &lt;i&gt;nafi&lt;/i&gt; (meniadakan/menolak) dan &lt;i&gt;itsbat &lt;/i&gt;(menetapkan).(Laa ilaaha), artinya menolak semua yang disembah selain Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;, (Illallah)adalah menetapkan ibadah kepada Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt; saja, tidak adasekutu bagi-Nya dalam menyembah-Nya, seperti tidak ada sekutu bagi-Nya dalamkerajaan-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;. Pengertiansyahadah (Muhammad Rasulullah):&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Taatkepada Nabi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt; dalamperintahnya, membenarkan beritanya, menjauhi yang dilarangnya, dan dia tidakmenyembah Alah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt; kecuali dengancara yang disyari'atkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Iman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Iman:Engkau beriman kepada Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;, malaikat-Nya,kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan engkau beriman kepada qadar(ketentuan) baik dan buruknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imanadalah ucapan dan perbuatan. Ucapan hati dan lisan, dan amal hati, lisan dananggota tubuh, iman itu bertambah dengan taat dan berkurang dengan maksiat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;. Cabang-cabangiman:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; DariAbu Hurairah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;, ia berkata,"Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt; bersabda, 'Imanterbagi lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Yang paling utama adalahucapan laailaa ha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan darijalan. Dan sifat malu termasuk satu cabang dari iman." HR. Muslim&lt;a href="file:///C:/Documents%20and%20Settings/ramesh/My%20Documents/id_meaning_of_islam.doc#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 12pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;.Tingkatan-tingkatan Iman:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imanitu memiliki rasa, manis dan hakekat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; margin-left: 42.0pt; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 42.0pt; text-align: justify; text-indent: -24.0pt; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: Batang;"&gt;1.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 7pt; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Adapun rasanya iman, maka Nabi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt; menjelaskandengan sabda-Nya: "Yang merasakan nikmatnya iman adalah orang yang ridhakepada Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt; sebagai &lt;i&gt;Rabb&lt;/i&gt;(Tuhan), Islam sebagai agama, dan Muhammad &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt; sebagai rasul." HR. Muslim&lt;a href="file:///C:/Documents%20and%20Settings/ramesh/My%20Documents/id_meaning_of_islam.doc#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 12pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; margin-left: 42.0pt; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 42.0pt; text-align: justify; text-indent: -24.0pt; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: Batang;"&gt;2.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 7pt; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Adapun manisnya iman, maka Nabi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt; menjelaskandengan sabdanya: "&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;i&gt;Ada&lt;/i&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;i&gt;tiga perkara, jika terdapat dalam diri seseorang, niscaya dia merasakannikmatnya iman: bahwa Allah &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt; dan Rasul-Nya &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt; lebih dicintainyadari apapun selain keduanya, dia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;, dan dia bencikembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci dilemparkan dalam api neraka&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;."Muttafaqun 'alaih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; margin-left: 42.0pt; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 42.0pt; text-align: justify; text-indent: -24.0pt; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: Batang;"&gt;3.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 7pt; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Adapun hakekat iman, maka bisa didapatkanoleh orang yang memiliki hakekat agama. Berdiri tegak memperjuangkan agama,dalam ibadah dan dakwah, berhijrah dan menolong, berjihad dan berinfak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;1, Firman Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;DecoType Naskh Extensions&amp;quot;; font-size: 18.0pt; mso-ansi-font-size: 12.0pt; mso-ascii-font-family: Batang; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang;"&gt;إِنَّمَاالْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَاتُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْيَتَوَكَّلُونَ {2} الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْيُنفِقُونَ {3} أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَرَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ {4}&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;DecoType Naskh Extensions&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoPlainText" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Batang; font-size: 12.0pt;"&gt;Sesungguhnya orang-orang yangberiman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hatimereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah imanmereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoPlainText" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Batang; font-size: 12.0pt;"&gt;(yaitu) orang-orang yang mendirikanshalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepadamereka.&amp;nbsp; Itulah orang-orang yang berimandengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian disisi Rabbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfaal :2-4)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;2, Firman Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;DecoType Naskh Extensions&amp;quot;; font-size: 18.0pt; mso-ansi-font-size: 12.0pt; mso-ascii-font-family: Batang; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang;"&gt;وَالَّذِينَءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ وَالَّذِينَ ءَاوَوْاوَنَصَرُوا أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌكَرِيمٌ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;DecoType Naskh Extensions&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoPlainText" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Batang; font-size: 12.0pt;"&gt;Dan orang-orang yang beriman dan berhijrahserta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman danmemberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orangyang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yangmulia. (QS. Al-Anfal: 74)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;3, Firman Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;DecoType Naskh Extensions&amp;quot;; font-size: 18.0pt; mso-ansi-font-size: 12.0pt; mso-ascii-font-family: Batang; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang;"&gt;إِنَّمَاالْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُواوَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللهِ أُوْلاَئِكَ هُمُالصَّادِقُونَ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;DecoType Naskh Extensions&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoPlainText" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Batang; font-size: 12.0pt;"&gt;Sesungguhnya orang-orang yangberiman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudianmereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka padajalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hujuraan :15)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;. Seorang hamba tidak bisa mencapaihakekat iman sehingga dia mengetahui bahwa apapun yang menimpanya tidak akanluput darinya dan apapun yang luput darinya pasti tidak akan menimpanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;. KesempurnaanIman:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Cintayang sempurna kepada Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt; Rasul-Nyamemberikan konsekuensi adanya sesuatu yang dicintainya. Apabila cinta dan bencinyahanya karena Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;, yang keduanyaadalah amal ibadah hati, dan pemberian dan tidak memberinya hanya karena Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;, yang keduanyaadalah amal ibadah badan, niscaya hal itu menunjukkan kesempurnaan iman dankesempurnaan cinta kepada Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Dari Abu Umamah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;, dari Rasulullah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt; bersabda, "&lt;i&gt;Barangsiapa cinta karena Allah, memberi karena Allah, dan melarang karena Allah &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; mso-ascii-font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-fareast-font-family: Batang; mso-hansi-font-family: Batang; mso-symbol-font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;, niscaya diatelah menyempurnakan iman&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;." HR: Abu Daud&lt;a href="file:///C:/Documents%20and%20Settings/ramesh/My%20Documents/id_meaning_of_islam.doc#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 12pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Batang; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;TermasukPerkara-Perkara Keimanan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style
